KETIK, ACEH BARAT DAYA – Kisah Masrida, seorang janda asal Kuta Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh, yang harus menghadapi duka beruntun setelah kehilangan suami dan ibunya, mengundang perhatian berbagai pihak.

Di tengah kondisi tersebut, Masrida juga harus merawat bayinya yang baru berusia sembilan bulan. Situasi ini dinilai menjadi gambaran nyata bahwa persoalan keluarga rentan membutuhkan perhatian yang lebih serius, bukan sekadar bantuan yang datang sesaat.

Tokoh pemuda dan masyarakat Manggeng Raya, T Yerli Yanda, yang dikenal dengan sapaan “Keuchik Muda Abdya”, meminta agar kondisi keluarga seperti Masrida ditangani secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Menurut Yerli, persoalan sosial tidak cukup diselesaikan dengan memberikan bantuan kebutuhan dasar. Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat perlu memastikan keluarga yang berada dalam kondisi rentan memiliki jalan untuk kembali mandiri.

“Penting sekali adanya penanganan secara serius dan menyeluruh terhadap kondisi masyarakat Abdya yang rentan seperti keluarga Ibu Masrida. Pendekatannya tidak bisa lagi parsial. Ini tentang membangun ketahanan sosial dan ekonomi,” ujar Yerli di Manggeng, Sabtu (5/9/2026).

Baca Juga:
Tagihan Listrik Warga Abdya Tembus Rp1 Juta, PLN Akui Ada Kesalahan Pencatatan

Ia menilai kasus Masrida seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pola penanganan masyarakat rentan di Abdya. Bantuan sosial, kata dia, idealnya tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan hari ini, tetapi dilanjutkan dengan program yang mampu memperbaiki kondisi keluarga dalam jangka panjang.

Ayah Asuh Dinilai Bisa Jadi Jalan Keluar

Dalam situasi tersebut, Yerli memberikan apresiasi terhadap program Ayah Asuh (Yatim) yang tengah digagas Bupati Abdya Safaruddin bersama Pemerintah Kabupaten Abdya.

Ia menilai program tersebut memiliki potensi besar menjadi solusi konkret apabila dijalankan secara konsisten dan terintegrasi.

Baca Juga:
Tagihan Listrik Warga Abdya Membengkak, dari Rp50 Ribu Per Bulan Kini Tembus Rp1 Juta

Menurutnya, perhatian terhadap anak yatim tidak hanya menyangkut kebutuhan sehari-hari. Pemenuhan gizi, pendidikan, kondisi tempat tinggal hingga kemampuan ekonomi keluarga harus menjadi bagian dari perhatian bersama.

“Program Ayah Asuh ini adalah solusi konkret. Sebagai bagian dari masyarakat Manggeng Raya dan Abdya secara luas, kami sangat mendukung penuh inisiatif Bapak Bupati Safaruddin dan langkah cepat Baitul Mal. Program semacam ini memastikan bahwa arah pembangunan kawasan kita benar-benar menyentuh aspek manusianya, bukan sekadar fisik,” katanya.

Yerli menilai pemberdayaan ekonomi ibu melalui Usaha Ekonomi Produktif (UEP) juga penting agar keluarga yang mengalami persoalan ekonomi tidak terus bergantung pada bantuan.

Begitu pula dengan perbaikan rumah dan pemenuhan kebutuhan dasar anak. Menurutnya, pendekatan semacam itu dapat menjadi investasi sosial untuk membantu keluarga rentan keluar dari persoalan kemiskinan secara bertahap.

Ajak Keuchik hingga Swasta Ikut Bergerak

Yerli juga mengajak para keuchik, tokoh masyarakat, pemuda, dunia usaha dan seluruh elemen masyarakat untuk tidak menyerahkan persoalan sosial sepenuhnya kepada pemerintah.

Menurut dia, kepedulian terhadap warga yang sedang menghadapi kesulitan merupakan tanggung jawab bersama.

Ia berharap kasus yang dialami Masrida tidak hanya menjadi perhatian karena viral atau mendapat sorotan publik, tetapi menjadi pemicu lahirnya sistem perlindungan sosial yang lebih kuat di tingkat desa.

“Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat solidaritas sosial. Visi 'Arah Baru, Abdya Maju' hanya akan terwujud jika elemen masyarakat dan pemerintah bahu-membahu memastikan tidak ada satupun warga rentan yang tertinggal dalam proses pembangunan daerah kita,” pungkas Yerli. (*)