KETIK, HALMAHERA SELATAN – Jalan Idris Yakub dan Wahyuni Adam menuju gelar sarjana bukan cerita tentang ruang kuliah yang serba mudah. Pasangan suami istri asal Halmahera Selatan itu harus menaklukkan jarak, minimnya infrastruktur, hingga susahnya koneksi internet sebelum akhirnya berdiri bersama sebagai wisudawan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).

Keduanya menuntaskan pendidikan melalui Beasiswa Kualifikasi Guru Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan pada jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Idris dan Wahyuni sama-sama mengambil Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Kisah mereka dikutip dari Umsura, Senin 2 November 2026.

Bagi pasangan tersebut, gelar sarjana menjadi capaian baru setelah hampir dua dekade berkecimpung di ruang pendidikan dasar. Mereka sama-sama mengajar di SD Negeri 179 Halmahera Selatan. Wahyuni mulai menjadi pendidik sejak 2004, sementara Idris menyusul setahun kemudian.

Kesempatan kembali belajar datang setelah pemerintah daerah membuka skema peningkatan kualifikasi akademik bagi tenaga pengajar yang telah lama bertugas namun belum menyelesaikan jenjang S1. Program itu menjadi pintu bagi keduanya untuk kembali menjadi mahasiswa di tengah kesibukan mengajar dan kehidupan keluarga.

Bagi Wahyuni, kebijakan tersebut menghadirkan peluang yang sebelumnya sulit dijangkau banyak tenaga pengajar di kepulauan. Kesempatan kuliah kini tidak hanya dinikmati mereka yang tinggal dekat pusat pendidikan, tetapi juga tenaga pendidik dengan masa pengabdian panjang di daerah.

Baca Juga:
Tak Hadir Upacara, ASN Halmahera Selatan Terancam Kehilangan Separuh TPP

“Bersyukur sekali ada kesempatan beasiswa ini sehingga ratusan guru di Halmahera bisa menempuh pendidikan hingga S1,” ujar Wahyuni.

Prosesnya dimulai dari pendataan tenaga pengajar di satuan pendidikan. Pemerintah daerah menginventarisasi mereka yang telah bertahun-tahun berada di sekolah namun belum memiliki ijazah sarjana, kemudian membuka akses perkuliahan melalui skema bantuan pendidikan tersebut.

Namun status mahasiswa membawa tantangan baru bagi Idris dan Wahyuni.

Letak tempat tinggal yang belum ditunjang fasilitas komunikasi memadai membuat kegiatan akademik membutuhkan usaha ekstra. Ketika materi perkuliahan, tugas, atau komunikasi dengan kampus bergantung pada koneksi digital, mereka harus meninggalkan rumah dan mencari titik dengan penerimaan jaringan lebih baik.

Baca Juga:
Tempuh Perjalanan Sepekan ke Surabaya, 183 Guru Halmahera Selatan Akhirnya Diwisuda

Idris menggambarkan medan yang harus mereka lalui setiap kali kebutuhan akademik menuntut koneksi. Bukannya cukup membuka gawai dari rumah, pasangan ini mesti mendaki selama hampir setengah jam. Kondisi itu semakin berat karena pasokan energi juga belum tersedia sebagaimana di wilayah perkotaan.

“Jadi kendalanya saat kuliah, kami harus naik bukit sekitar 30 menit untuk mencari sinyal. Belum lagi listrik yang belum tersedia,” ungkap Idris.

Kesulitan tersebut tidak menghentikan langkah keduanya. Idris dan Wahyuni terus mengikuti proses akademik sampai tahap akhir, dibantu pendampingan tenaga pengajar kampus selama penyelesaian mata kuliah hingga skripsi.

Sesudah urusan akademik tuntas, perjuangan berikutnya justru berlangsung di laut.

Untuk menghadiri prosesi kelulusan di Surabaya, keduanya bergabung bersama ratusan peserta lain dari Halmahera Selatan. Pilihan jatuh pada moda laut karena dianggap lebih ekonomis. Konsekuensinya, perjalanan menuju Pulau Jawa memakan waktu sekitar tujuh hari.

Bagi Wahyuni, kelelahan selama perjalanan panjang seolah terbayar saat rombongan tiba di Surabaya. Kampus yang sebelumnya lebih banyak hadir melalui proses pembelajaran dari kejauhan akhirnya bisa mereka lihat secara langsung.

“Kami ratusan wisudawan kompak naik kapal agar lebih hemat. Senang sekali ketika melihat kampus Umsura,” tutur Wahyuni.

Kelulusan itu juga belum menjadi garis akhir. Idris dan Wahyuni menyimpan keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister apabila kesempatan kembali terbuka. Semangat serupa mereka tanamkan kepada anak-anak di rumah. Putra-putri pasangan tersebut kini juga sedang menjalani pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Ternate.

Program peningkatan kualifikasi tersebut turut mendapat perhatian karena melibatkan kolaborasi pemerintah daerah dengan perguruan tinggi. Dalam keterangan yang dimuat Umsura, dukungan dari jajaran Pemkab Halsel dipandang sebagai bagian penting dalam memperluas kapasitas akademik tenaga pengajar di daerah.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bupati Halmahera Selatan, Bapak Hasan Ali Bassam Kasuba, serta Ibu Kepala Dinas Pendidikan, Siti Khodijah, beserta seluruh jajaran. Kami sangat mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan yang telah lebih dahulu menggagas dan menjalankan program beasiswa peningkatan kualifikasi guru melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), bahkan sebelum program serupa dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Kepercayaan dan kolaborasi ini menjadi bukti nyata kepedulian pemerintah daerah terhadap peningkatan kualitas dan kompetensi tenaga pendidik. Semoga kerja sama yang telah terjalin dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi dunia pendidikan, khususnya di Halmahera Selatan,” katanya.

Bagi Idris dan Wahyuni, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa medan geografis dan keterbatasan fasilitas tidak harus memutus jalan menuju pendidikan lebih tinggi. Bertahun-tahun berada di depan murid, mendaki demi mendapatkan jaringan, hingga mengarungi laut selama sepekan akhirnya membawa keduanya ke satu panggung kelulusan yang sama di Surabaya.

Kini mereka kembali membawa gelar sarjana ke sekolah tempat keduanya mengabdi—dengan harapan perjalanan itu ikut menyalakan keberanian tenaga pendidik lain di pelosok Halmahera Selatan untuk terus meningkatkan kapasitas diri.