Mpok Atiyang, Lidi dari Bambu, dan Seikat Harapan Hidupi Keluarga

Jurnalis: Mursal Bahtiar
Editor: M. Rifat

10 Jul 2023 07:25

Thumbnail Mpok Atiyang, Lidi dari Bambu, dan Seikat Harapan Hidupi Keluarga
Mpok Atiyang membuat lidi dari bambu untuk bertahan hidup. (Foto: Mursal/Ketik.co.id)

KETIK, HALMAHERA SELATAN – Apapun yang diberikan Tuhan kepada manusia, layaklah ia mengucap syukur. Meski yang diterima adalah sebuah beban kehidupan, bersyukur menjadi syarat ikhlas dalam menempuh jalur yang namanya Sabar.

Terlepas dari ujian dan cobaan hidup, berkecukupan maupun tidak berkecukupan, merupakan realita hidup yang telah di tentukan Tuhan Yang Maha Esa kepada masing-masing insan di muka bumi.

Serupa demikian, tentu sebagai manusia kita juga pasti mengalami hal yang demikian adanya. Kadang kita pasrah dan harus mengeluh melewati secercah jalan berliku tersebut.

Penggalan problem kehidupan di atas hingga kini masih dialami Mpok Atiyang warga desa Kupal Kecamatan Bacan Selatan Maluku Utara. Mpok Ati adalah sosok perempuan tangguh yang rela tangan terluka demi menghidupi keluarganya.

Baca Juga:
Xaviera Putri, Exclusive Talent Gushcloud Bagikan Tips Bertahan Hidup untuk Mahasiswa Indonesia di Jerman

Di sebuah rumah kecil beratapkan daun rumbia (Sagu), Mpok Atiyang tinggal bersama suaminya, sebut saja Om Kunut.

Tak hanya Mpok Atiyang dan Om Kunut, rumah tak layak huni yang memiliki dua ruang kamar itu juga di tempati 3 orang anak buah perkawinan Om Kunut dan Mpok Atiyang.

Keterbatasan ekonomi, belum ditambah Om Kunut yang sekarang sedang sakit, membuat Mpok Atiyang  harus bekerja keras mengumpulkan rezeki untuk kebutuhan obat-obatan Om Kunut dan kebutuhan makan sehari-hari seluruh keluarga.

Fisiknya yang kurus, dan usianya yang sudah menuah tak jadi penghalang buat Mpok Atiyang untuk bekerja dari pagi hingga petang. Bahkan, pada malam haripun Mpok Atiyang sering terlihat masih tetap dengan pekerjaannya.

Ketika pagi tiba, Mpok Ati harus ke hutan mengambil bambu yang tumbuh liar di seputaran hutan perkampungan warga sembari menunggu air laut surut. Surutnya air laut di manfaatkan Mpok Atiyang untuk menambang pasir material bangunan.

Bambu yang diambil di hutan dibuatkan lidi dengan ukuran 35 cm lalu dijual ke pedagang ikan asap dengan tujuan sebagai penahan agar daging ikan tak mudah lembek saat diasapin. Seikat lidi dijual dengan harga Rp 20 ribu.

"Seikat lidi ada 50 batang lidi. Itu dijual 20ribu. Kalau ambil 3 ikat, bisa 50ribu," kata Mpok Atiyang kepada Ketik.co.id.

"Sehari biasanya laku 3 ikat. Kadang cuman 1 ikat. kadang juga belum ada yang beli. Kalau pasir yang kumpul di tepi pantai, 1 retnya bisa 250ribu, tapi itu sebulan sekali. Saya sudah tua," tambah Mpok Atiyang bercerita sembari menggaruk kepalanya.

Anehnya, kehidupan Mpok Atiyang dan rumah tempat keluarganya tinggal hingga kini belum mendapat perhatian dari pemerintah baik desa maupun pemerintah di atasnya. Padahal, ada beberapa warga desa yang sudah mendapatkan bantuan rumah di kampungnya. Salah satunya adalah sekretaris desa.

Ada bantuan sosial yang diterima Mpok Atiyang dalam bentuk uang maupun pangan (beras) namun itupun di dapatnya kadang 3 bulan sekali dan nilainya kisaran Rp 900 ribu.

Mpok Atiyang yang gigih dan teguh pendirian tampaknya tak ingin bertadah tangan. Ia lebih memilih untuk berusaha sendiri dan sering di bantu beberapa anaknya.

"Saya memang dapat bantuan, saya lupa apa nama bantuan itu. Kalau diberi syukur, kalau tidak juga syukur. Saya jualan lidi ini saja dulu, kalau memang Allah kasih rahmat lebih dari itu saya tetap bersyukur," ucap Mpok Atiyang dengan senyum lebar penuh syukur. (*)

Baca Sebelumnya

Performa Lebih Baik, Apatte62 UB Unggul pada Shell Eco-Marathon Asia

Baca Selanjutnya

Ngafe Sambil Bawa Anak di Malang, Ini Tempatnya

Tags:

Mpok Atiyang Bertahan hidup penjual lidi Warga Halmahera selatan Hidupi keluarga

Berita lainnya oleh Mursal Bahtiar

Nasyir Koda Ingin Bangunan Warga Halmahera Selatan Cepat Legal

14 April 2026 09:50

Nasyir Koda Ingin Bangunan Warga Halmahera Selatan Cepat Legal

Sianida di Halmahera Selatan Hanya Lewat Satu Tangan

14 April 2026 06:53

Sianida di Halmahera Selatan Hanya Lewat Satu Tangan

Total 361 Koperasi Tercatat di Halmahera Selatan

13 April 2026 19:02

Total 361 Koperasi Tercatat di Halmahera Selatan

Bassam ke KNPI Halsel: Kritis Saja Tak Cukup, Pemuda Harus Bawa Solusi

12 April 2026 17:06

Bassam ke KNPI Halsel: Kritis Saja Tak Cukup, Pemuda Harus Bawa Solusi

Taslim Abdurrahman Resmi Pimpin KNPI Halmahera Selatan

12 April 2026 16:36

Taslim Abdurrahman Resmi Pimpin KNPI Halmahera Selatan

Pelabuhan Kupal Jadi Jagoan PAD Dishub Halsel, Ramli Manui Mulai Waswas Tahun Ini

12 April 2026 10:24

Pelabuhan Kupal Jadi Jagoan PAD Dishub Halsel, Ramli Manui Mulai Waswas Tahun Ini

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar