KETIK, BANGKALAN – Karya modifikasi sepeda motor asal Bangkalan, Jawa Timur, mencuri perhatian di ajang Custom Fest 2026. Motor berjuluk “Pelor Angin” berhasil meraih penghargaan Best in Show di tengah persaingan ketat yang didominasi sepeda motor berkapasitas mesin besar, termasuk Harley-Davidson.

Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi tim pembuatnya. Sebab, motor yang diusung bukanlah kendaraan bermesin besar, melainkan Honda CBR150R keluaran 2013 yang telah dimodifikasi dengan konsep dan detail pengerjaan yang khas.

Salah satu keunggulan yang menarik perhatian dewan juri adalah penggunaan material kayu pada bagian tangki. Sentuhan tersebut menjadi ciri pembeda sekaligus menunjukkan kreativitas dalam dunia modifikasi sepeda motor.

Menurut tim pembuatnya, Aziz Sabara mengatakan salah seorang juri asal Jepang bahkan mengapresiasi tingkat kerapian dan detail pengerjaan motor tersebut. Ia menilai karya itu memiliki karakter tersendiri, terutama pada penggunaan material kayu yang dinilai tidak lazim dalam modifikasi sepeda motor.

“Tidak menyangka bisa mendapatkan penghargaan ini. Target awal kami hanya ingin berpartisipasi di Custom Fest, tetapi ternyata mendapatkan kepercayaan lebih melalui penghargaan yang diraih,” ungkapnya Rabu 14 Oktober 2026.
Aziz menambahkan keberhasilan Pelor Angin tidak diraih secara instan. Proses pengerjaan motor tersebut telah dimulai sejak 2018, tetapi sempat menghadapi berbagai kendala, mulai dari pandemi COVID-19 hingga persoalan pendanaan.

Proyek itu kemudian kembali dilanjutkan setelah memperoleh dukungan dari sejumlah pihak, termasuk Aba Muhaimin Sinjay dan sponsor yang membantu proses pengembangan karya tersebut.

Dalam pengerjaannya, tim mengusung konsep orisinal yang dirancang sendiri. Hal ini menjadi penting karena ajang modifikasi seperti Custom Fest menuntut kreativitas, keunikan, serta kualitas pengerjaan, bukan sekadar meniru desain yang sudah ada.

"Motor Pelor Angin mengusung inspirasi dari senapan angin, dengan filosofi yang juga dikaitkan dengan karakter budaya lokal Madura, yakni sapi kerap," ujarnya.

Konsep tersebut diterjemahkan melalui desain dan detail modifikasi yang membuat motor ini tampil berbeda dari peserta lainnya.

Meski menggunakan basis Honda CBR150R, kapasitas mesin bukan menjadi faktor utama dalam penilaian kategori custom. Penilaian lebih menitikberatkan pada tampilan, orisinalitas konsep, serta kualitas pengerjaan.
Keikutsertaan pertama tim di Custom Fest 2026 menjadi pengalaman berharga. Pasalnya, ajang tersebut dikenal memiliki proses seleksi yang ketat dan menghadirkan juri dari berbagai negara.

Dewan juri internasional yang terlibat berasal dari sejumlah negara, di antaranya Jepang, Malaysia, Thailand, Jerman, dan Amerika Serikat.
Di tengah persaingan yang sebagian besar diisi sepeda motor Harley-Davidson maupun kendaraan berkapasitas mesin 500 cc ke atas, Pelor Angin mampu menunjukkan bahwa kreativitas dan ketelitian dapat menjadi kekuatan tersendiri.

Pencapaian tersebut sekaligus membuktikan bahwa karya modifikasi dari daerah memiliki peluang untuk bersaing di panggung nasional maupun internasional.

Tim pembuat Pelor Angin pun berharap prestasi ini menjadi langkah awal untuk membawa karya mereka ke tingkat yang lebih tinggi.
Jika mendapat dukungan yang memadai, mereka berencana melanjutkan kiprah ke ajang di Jepang pada Desember 2026 sekaligus membuka peluang untuk memperkenalkan karya modifikasi asal Bangkalan kepada publik internasional.

Prestasi Pelor Angin menjadi bukti bahwa keterbatasan kapasitas mesin bukan penghalang untuk melahirkan karya yang kompetitif. Dengan konsep orisinal, pengerjaan detail, dan dukungan berbagai pihak, karya anak daerah mampu menarik perhatian di tengah ketatnya persaingan dunia custom. (*)

Baca Juga:
Minta Polemik Pemakzulan Gibran Disudahi, GPK : Banyak Agenda Jauh Lebih Penting
Baca Juga:
Pendiri Martha Tilaar Meninggal Dunia, Dunia Kecantikan Indonesia Berduka