KETIK, SIDOARJO – Di Jalan Raya Waru Nomor 32, Kabupaten Sidoarjo, berdiri sebuah warung yang tidak pernah berganti menu sejak dibuka pada 1987. Lontong Kikil Pak Riduwan, nama warung itu, hanya menjual satu hidangan sejak hari pertama buka hingga sekarang, yakni kikil khas Surabaya.
Letak warung ini cukup strategis, tepat di perbatasan Surabaya dan Sidoarjo, jalur yang tidak pernah sepi kendaraan. Penanda satu-satunya hanya spanduk putih bergaris oranye di depan warung, tanpa papan nama besar atau ornamen mencolok lainnya.
Dari luar, warung ini terlihat seperti kebanyakan warung makan sederhana pada umumnya. Tidak ada renovasi, tidak ada dekorasi tambahan.
Namun soal jumlah pembeli, warung ini justru tidak kalah dari rumah makan baru yang tampilannya jauh lebih menarik. Yang datang pun beragam, dari pelanggan yang sudah makan di sini sejak muda hingga anak-anak muda yang baru dengar namanya dari media sosial.
Baca Juga:
Tahu Campur Lamongan Mas Chus, Kuliner Khas Jawa Timur yang Viral Ditonton 6,1 Juta Kali di TikTokPosisi dapur yang berada di bagian depan warung membuat proses memasak terlihat jelas oleh siapa pun yang datang. Panci besar berisi kuah kaldu terus mengepul di sana, dan aromanya sudah tercium sejak dari pinggir jalan.
Saat ditemui sore itu, Riduwan sedang mengaduk kuah di depan warungnya. Ia menyempatkan diri berhenti sebentar untuk mengobrol.
"Nama saya Riduwan, Mas. Orang-orang di sini biasanya memanggil saya Pak Riduwan," katanya membuka percakapan.
Ia bercerita, warung ini sudah berjalan sejak 1987 dengan menu yang sama sekali tidak berubah. Alasannya fokus pada satu resep dianggap lebih penting daripada menambah variasi menu.
Baca Juga:
Hanania Food, Suguhkan Sate dan Sop kikil Legendaris Dekat Tanjung Perak Surabaya Sejak Tahun 1998"Saya sudah buka dan jualan di sini sejak tahun 1987. Untuk makanan yang dijual, memang cuma kikil khas Surabaya ini saja. Sengaja tidak menambah menu lain supaya fokus pada satu hidangan," ujarnya.
Menjaga rasa dari resep yang itu-itu saja selama puluhan tahun justru menjadi kunci warungnya masih ramai sampai sekarang.
Penyajian, satu porsi lontong kikil di sini datang dalam dua wadah terpisah piring berisi potongan lontong yang padat, dan mangkuk berisi kikil sapi tebal yang disiram kuah yang hangat. Model penyajian seperti ini memang jadi ciri lontong kikil khas Surabaya pada umumnya.
Warung buka mulai pukul 16.30 dan tutup jam 23.00.
"Untuk buka warungnya, kita mulai dari jam 16.30 hingga jam 23.00 malam. Pelanggan itu sering berdatangan dan mulai ramai biasanya pada habis magrib sampai malam hari," jelas Riduwan sambil mengelap meja dan bersiap melayani pesanan berikutnya.
Klaim itu terbukti benar. Begitu azan magrib selesai berkumandang, satu per satu pembeli mulai berdatangan, kebanyakan warga yang sedang dalam perjalanan pulang antara Surabaya dan Sidoarjo. (*)