KETIK, SLEMAN – Di balik megahnya dinding Istana Keraton Yogyakarta dan Surakarta masa lalu, tersimpan rahasia keanggunan para putri bangsawan yang senantiasa menjaga pesona diri. Mereka tidak hanya merawat keindahan paras dengan racikan rempah tradisional, tetapi juga memelihara wewangian tubuh secara alami dari dalam melalui tradisi rutin mengonsumsi buah kepel.
Dikenal secara ilmiah sebagai Stelechocarpus burahol, tanaman langka yang kini ditetapkan sebagai flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini menyimpan nilai filosofis yang sangat mendalam: manunggaling sedya kaliyan gegayuhan. Sebuah simbolistis dari menyatunya niat bulat dan kerja keras dalam mencapai cita-cita yang luhur.
Anatomi Unik dan Pesona Khasiat Herbal Modern
Pohon kepel bukanlah tanaman buah biasa yang mudah dijumpai di pekarangan rumah masyarakat umum. Dalam tradisi lisan keraton yang diwariskan secara turun-temurun, mengonsumsi buah kepel matang secara teratur diyakini mampu mengubah aroma tubuh seseorang secara signifikan. Keringat yang keluar dari pori-pori kulit menjadi harum beraroma lembut, hembusan napas terasa lebih segar, dan aroma air seni pun berkurang tajam.
Khasiat alami yang begitu unik ini menjadikannya sebagai sarana deodoran alami paling bergengsi sekaligus simbol kemewahan gaya hidup para putri istana pada zamannya.
Baca Juga:
Tampil Memukau di Catwalk, Wabup Sleman Buka Ajang SHFC & JFR 2026Secara biologis, pohon kepel memiliki keunikan sifat kauliflori yang sangat khas dan memikat mata. Bunga dan buahnya tidak tumbuh di ujung ranting atau dahan sebagaimana pohon buah pada umumnya, melainkan muncul dan menempel langsung pada benjolan-benjolan di sepanjang batang utama.
Pohon yang mampu menjulang tinggi hingga 25 meter dengan diameter batang mencapai 40 sentimeter ini memerlukan waktu yang cukup panjang untuk mulai berproduksi. Bunga pertamanya biasa baru akan muncul setelah tanaman berumur sekitar 8 tahun. Bunga jantan biasanya tumbuh bergerombol di bagian atas batang, sementara bunga betina muncul di area batang bagian bawah. Buahnya yang matang berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa, berwarna cokelat tua mirip buah sawo, dengan daging buah berwarna kekuningan yang rasanya manis serta beraroma harum layaknya perpaduan mawar dan sawo.
Tak sekadar menjadi pemikat aroma tubuh, riset kesehatan modern kini membuktikan ragam manfaat medis dari hampir setiap bagian tanaman ini. Daging buah kepel terbukti memiliki sifat diuretik yang efektif untuk melancarkan buang air kecil sekaligus mencegah peradangan pada organ ginjal.
Daun mudanya yang berwarna merah keunguan atau merah jambu sering dimanfaatkan sebagai lalapan tradisional untuk meluruhkan asam urat dan menekan kadar kolesterol jahat dalam darah. Selain itu, kandungan senyawa antioksidan tinggi berupa flavonoid dan polifenol di dalamnya berpotensi kuat sebagai agen anti-aging untuk merawat kesehatan kulit, bahkan ditengarai memiliki potensi antikanker dan agen penurun risiko tumor yang sangat menjanjikan.
Baca Juga:
Raih Platinum Award IITA 2026, BPR Bank Sleman Terus Dorong Inovasi DigitalMitos Kualat dan Stigma Eksklusivitas Sejarah
Sayangnya, kejayaan buah harum ini sempat terancam oleh jejak sejarahnya sendiri. Pada masa lampau, pohon kepel dipandang sebagai simbol status sosial yang sangat eksklusif dan hanya boleh ditanam serta dimiliki oleh keluarga kerajaan.
Masyarakat awam di luar benteng istana merasa enggan, ragu, atau bahkan takut untuk menanam dan membudidayakannya secara mandiri di pekarangan mereka.
Mitos yang berkembang sangat kuat di tengah masyarakat kala itu menyebutkan bahwa rakyat biasa yang berani menanam pohon kepel di pekarangan rumahnya akan menanggung risiko kualat atau tertimpa nasib buruk karena dianggap melangkahi tuah keraton.
Mitos eksklusivitas ini perlahan membatasi persebarannya secara drastis dari generasi ke generasi. Ditambah lagi dengan nilai ekonomisnya yang dianggap rendah oleh petani modern karena daging buahnya yang relatif tipis dan didominasi oleh biji berukuran besar.minat masyarakat untuk membudidayakannya secara masif kian memudar. Faktor-faktor inilah yang mendorong keberadaan flora eksotis ini kian terdesak hingga berada di ambang kepunahan.
Komitmen Konservasi Pemkab Sleman
Di tengah ancaman kelangkaan yang nyata tersebut, sebuah lanskap hijau di Kompleks Pemkab Sleman justru menjelma menjadi salah satu benteng konservasi aktif yang menawan. Tepat di sebelah barat Pendapa Parasamya, tak jauh dari area parkir kendaraan, berdiri kokoh beberapa tegakan pohon kepel tua yang tumbuh subur, rimbun, dan terawat dengan sangat baik.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Makwan, STP MT, menegaskan pentingnya keberadaan pohon langka lokal di lingkungan pemerintahan.
"Pohon kepel ini bukan sekadar peneduh di kompleks Kantor Bupati Sleman, tetapi merupakan bagian dari upaya kita menjaga warisan budaya dan kelestarian flora identitas DIY agar tidak punah ditelan zaman," ungkap Makwan, Jumat 9 Oktober 2026.
Ia menambahkan bahwa hadirnya tanaman langka ini juga menjadi sarana edukasi langsung bagi para pegawai maupun masyarakat yang berkunjung.
"Harapan kami, masyarakat bisa mengenal kembali kekayaan flora lokal ini dan tergerak untuk ikut serta membudidayakannya," pungkasnya.
Memasuki awal Oktober ini, deretan pohon tersebut kembali semarak buah kepel yang menempel di batangnya. Kehadiran pohon kepel yang rutin berbuah ini tidak hanya memikat hati serta rasa penasaran bagi yang melihatnya. Tetapi juga menjadi bukti nyata keberhasilan menjaga nyala kelestarian warisan budaya serta identitas ekologi DI Yogyakarta.
Upaya konservasi lokal ini membuktikan bahwa flora legendaris keraton kini dapat dinikmati dan dijaga bersama oleh seluruh lapisan masyarakat. (*)