KETIK, JAKARTA – Mentega dan margarin kerap digunakan sebagai olesan roti maupun bahan memasak. Meski memiliki fungsi serupa, keduanya mempunyai perbedaan dalam sumber dan komposisi lemak. Memahami perbedaan tersebut dapat membantu masyarakat memilih produk sesuai kebutuhan dan mengatur konsumsinya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Prof. Sri Anna Marliyati, menjelaskan bahwa mentega dan margarin sama-sama merupakan sumber lemak dengan kandungan energi yang tinggi. Karena itu, jumlah konsumsi dan pola makan secara keseluruhan tetap menjadi pertimbangan utama.

Mentega umumnya dibuat dari lemak susu dan cenderung mengandung lebih banyak lemak jenuh. Sementara itu, margarin umumnya dibuat menggunakan minyak nabati, yang dapat mengandung lebih banyak lemak tak jenuh. Namun, komposisi lemak margarin berbeda-beda bergantung pada bahan baku dan proses pengolahannya.

Oleh sebab itu, masyarakat tidak sebaiknya langsung menganggap semua margarin lebih sehat daripada mentega, atau sebaliknya. Konsumen perlu memperhatikan informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan, termasuk kandungan lemak jenuh dan lemak trans jika tercantum.

Menurut Sri Anna, mentega dan margarin bukan bahan pangan yang harus dihindari sepenuhnya. Keduanya dapat digunakan dalam jumlah wajar, misalnya sebagai olesan roti atau bahan untuk menumis, dengan tetap memperhatikan keseluruhan asupan lemak harian.

Baca Juga:
World Heart Day, Direktur RSUD dr. Darsono Pacitan Ingatkan Pentingnya Jaga Kesehatan Jantung

Penggunaan margarin atau mentega dalam makanan juga perlu diperhitungkan. Hidangan seperti martabak manis, misalnya, dapat mengandung tambahan lemak dan energi dari berbagai bahan. Karena itu, jumlah konsumsi dan frekuensi makan perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

“Mentega dan margarin bukan makanan yang perlu ditakuti, tetapi juga bukan makanan yang dibolehkan dimakan langsung dalam jumlah besar,” ujar Prof Sri Anna.

Orang dengan kondisi tertentu, seperti gangguan profil lemak darah, penyakit jantung, obesitas, perlemakan hati, atau batu empedu, perlu lebih cermat dalam mengatur konsumsi makanan tinggi lemak. Jika memiliki kondisi kesehatan tersebut, pilihan dan jumlah konsumsi sebaiknya disesuaikan dengan anjuran tenaga kesehatan.

Pada akhirnya, pilihan antara mentega dan margarin tidak cukup ditentukan oleh nama produk semata. Jenis lemak, jumlah yang digunakan, serta pola makan sehari-hari perlu dipertimbangkan bersama agar konsumsi tetap seimbang.

Baca Juga:
Anggapan "Tak Apa Gendut yang Penting Sehat" Menyesatkan, Ini Kata Dokter RSUD Pacitan

Hal ini juga penting ketika menghadapi tren media sosial yang memperlihatkan orang mengonsumsi mentega atau margarin secara langsung dalam jumlah besar. Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan asupan energi dengan cepat dan berpotensi menimbulkan keluhan pencernaan, terutama jika dilakukan berlebihan. (*)