KETIK, BANDUNG – Sastra di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung tak berhenti pada aktivitas membaca dan menulis. Melalui Sawala Sastra 2026, mahasiswa dan pelajar diajak melihat sastra sebagai ruang pertemuan berbagai bentuk ekspresi, mulai dari teater, tari, musik, hingga puisi.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 3 Bandung Creative Hub (BCH), Kota Bandung), Kamis (24/9/2026) itu menjadi bagian pembuka rangkaian Dies Natalis FKIP Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Uninus sekaligus agenda menuju puncak peringatan Bulan Bahasa pada 28 Oktober 2026.

Mengusung tema “Laras Raga Aksara: Menjelajah Makna di antara Nada, Gerak, dan Kata”, Sawala Sastra mempertemukan ratusan pelajar SMA, mahasiswa dan alumni dalam satu ruang apresiasi. Kegiatan tersebut digerakkan oleh Himadiksatria (Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia) melalui kepanitiaan lapangan dengan dukungan kolaborasi UKM Teater Nusantara, Kafe Sastra, dan Morpologi.

Ketua Hima Diksatria Delia Destianti Rahman bersama Ketua Pelaksana Fani Yulianti mengawal jalannya kegiatan sejak pagi. Rangkaian acara tidak hanya menempatkan peserta sebagai penonton, tetapi juga membuka ruang pembelajaran melalui workshop dan proses kreatif.

Salah satu agenda utama adalah Workshop Teater bersama Liska Rahmawati, S.Sn., aktris lulusan ISBI Bandung jurusan Teater yang aktif di komunitas CCL (Celah Celah Langit) di bawah bimbingan budayawan dan tokoh teater Iman Soleh.

Baca Juga:
Profil Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Berdarah Minang yang Gemar Koleksi Keris

Workshop tersebut membedah penggunaan tubuh dan vokal sebagai instrumen utama seorang pemeran. Peserta mendapatkan pengalaman bagaimana ekspresi tubuh, suara dan penghayatan dapat membangun karakter sekaligus menyampaikan gagasan di atas panggung.

Dari ruang workshop, kegiatan bergerak ke panggung pertunjukan. Tari tradisional, dramatisasi puisi, proses kreasi, ekspresi puisi hingga monolog teatrikal menjadi bagian dari rangkaian Sawala Sastra. Aktor muda dari UKM Teater Nusantara dan Kafe Sastra tampil membawa beragam ekspresi, memperlihatkan bahwa teks sastra dapat diterjemahkan ke dalam bahasa tubuh, suara dan pertunjukan.

Penampilan Amukti Bandung berkolaborasi dengan penyair nasional, Ridwan Ch. Madris dalam Sawala Sastra di Auditorium BCH Kota Bandung, Kamis (24/9/26). (Foto:Uninus)

Sastra kemudian menemukan bentuk lain melalui musik. Menjelang akhir acara, Grup Musik Balada Amukti Bandung tampil berkolaborasi dengan Ridwan Ch. Madris, S.Pd.I., M.M., M.Pd. melalui pembacaan puisi Sufi.

Baca Juga:
UNINUS Gandeng PERGUNU Kabupaten Bandung, Siapkan Beasiswa untuk Guru NU

Kolaborasi musik dan puisi tersebut menjadi salah satu penampilan penutup yang membawa suasana acara ke wilayah yang lebih kontemplatif. Ridwan Ch. Madris sendiri memiliki keterikatan dengan Uninus sebagai akademisi dan dosen Filsafat Pendidikan dan Sastra, sekaligus alumnus serta pendiri Kafe Sastra FKIP Uninus.

Kehadiran sejumlah elemen lintas seni dalam Sawala Sastra memperlihatkan upaya mahasiswa PBSI memperluas cara menikmati sastra. Aksara tidak hanya dibaca, tetapi diterjemahkan menjadi gerak, vokal, musik dan pertunjukan.

Dari sisi kelembagaan, kegiatan tersebut juga mendapat dukungan pimpinan FKIP Uninus. Dekan FKIP Uninus beserta jajaran pimpinan fakultas, termasuk Wakil Dekan Wahyudin, S.Pd., M.Sn., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Sawala Sastra sekaligus mendorong keberlanjutan rangkaian kegiatan seni dan sastra di lingkungan kampus.

Agenda berikutnya akan berlanjut melalui rangkaian kegiatan seperti Frasa hingga Pertunjukan Akbar yang menjadi bagian dari estafet kegiatan PBSI Uninus.

Sementara itu, Ketua Prodi PBSI Uninus Dr. Arif Firmansyah, M.Pd. bersama Sekretaris Prodi M. Malik, M.Pd. turut memberikan dorongan kepada mahasiswa agar terus mengembangkan kreativitas sekaligus menjaga keberadaan bahasa dan sastra di tengah perubahan zaman.

Sawala Sastra 2026 akhirnya bukan sekadar satu hari pertunjukan. Bagi mahasiswa PBSI, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pembelajaran akademik dengan praktik seni sekaligus memperlihatkan bahwa sastra masih memiliki banyak cara untuk berbicara kepada generasi hari ini.(*)