KETIK, SURABAYA – Di balik proses pemotongan hewan, terdapat peran penting yang menentukan kehalalan daging, yakni di tangan seorang Juru Sembelih Halal (Juleha).

“Juleha ini pilar utama ketika penyembelihan. Karena dia yang menentukan halal tidaknya binatang sembelihan,” tegas Heru Pras.

Bagi Heru, tugas sebagai Juleha di RPH Surabaya bukan sekadar memotong hewan. Setiap proses mengandung tanggung jawab syariat, kesejahteraan hewan, dan jaminan kehalalan produk bagi masyarakat.

Perjalanannya dimulai sejak 2007 saat membantu penyembelihan kurban di masjid tempat tinggalnya. Saat itu, juru sembelih senior di masjid kewalahan, sehingga ia terdorong ikut turun tangan.

“Waktu itu mau tidak mau sebagai generasi muda kami harus tampil,” kenang pria 52 tahun ini.

Baca Juga:
Kinerja Moncer, PT SIER Lampaui Target Laba Triwulan I 2026 hingga 131 Persen

Ia belajar secara otodidak dengan mengamati jagal berpengalaman, mulai dari teknik merebahkan sapi, menyembelih, hingga mengasah pisau.

“Bagaimana cara mengasahnya, kok pisaunya bisa tajam, kemudian bagaimana teknik sembelihnya itu kami perhatikan dan pelajari,” katanya.

Komunitas Juleha mulai berkembang sekitar 2016 dan hadir di Surabaya pada 2018. Lahirnya organisasi ini dipicu banyaknya praktik penyembelihan yang tidak sesuai syariat dan prinsip kesejahteraan hewan, seperti penggunaan pisau yang tumpul hingga menyebabkan penyembelihan berulang.

“Harusnya sekali dua kali gesekan sudah selesai, tapi ini berkali-kali. Setelah diamati, salah satu faktornya adalah ketajaman pisau,” jelas Heru yang juga pernah menjabat sebagai Dewan Pengawas Juleha Jatim.

Baca Juga:
Wali Kota Eri Cahyadi Luncurkan Hotline “Lapor Cak Eri”, Aduan Warga Surabaya Dipantau Langsung

Heru bergabung dengan RPH Surabaya pada 2022 sebagai Juleha atau di lingkungan RPH dikenal dengan istilah “mudin”. Di RPH Pegirian, terdapat dua petugas Juleha yang menangani sekitar 80 hingga 100 ekor sapi setiap malam. Ia fokus pada proses penyembelihan, sementara penanganan hewan dilakukan jagal dari pemilik sapi.

“Tugas Juleha di sini memang khusus menyembelih sapi. Kalau proses merebahkan dan penanganan hewan dilakukan pekerja jagal, dari pihak pemilik sapi,” ujarnya.

Sebelum pemotongan dimulai, ia memastikan pisau benar-benar tajam sesuai standar. Menurutnya, ini bagian dari ajaran ihsan dalam Islam, yakni berbuat baik kepada makhluk hidup.

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih," tegas Heru mengutip sebuah hadits riwayat Muslim.

Dalam praktiknya, Juleha harus memutus dengan sempurna empat saluran utama di leher hewan dan membaca tasmiyah untuk setiap sembelihan.

“Setiap satu ekor, satu bacaan Bismillahi Allahu Akbar,” jelasnya.

Kata Heru, menjadi Juleha membutuhkan kompetensi, baik pemahaman syariat maupun Teknik penyembelian.

“Kalau hanya asal bisa menyembelih tapi syariatnya tertinggal, itu yang bahaya,” ujarnya.

Salah satu standar penting adalah kemampuan mengasah pisau hingga mampu mengiris kertas HVS 70 gram dengan halus tanpa suara kasar. Jika masih kasar, berarti pisau belum cukup baik dan bisa menyakiti hewan.

“Kalau masih kasar berarti pisaunya tajam, tapi masih punya gerigi yang lebar dan itu masih menyakiti hewan,” terangnya.

Menurut Heru, kesadaran masyarakat akan pentingnya peran Juleha, khususnya yang memiliki sertifikat, perlu terus ditingkatkan. Saat ini, semakin banyak masjid dan lembaga yang mulai rutin menggelar pelatihan penyembelihan halal.

Ia berharap masyarakat menyadari bahwa penyembelihan bukan sekadar aktivitas memotong hewan, melainkan bagian dari penerapan syariat sekaligus penentu kehalalan pangan yang dikonsumsi.

“Kalau sembelihan dilakukan orang-orang yang kompeten dan memiliki sertifikat, InsyaAllah keraguan tentang kehalalan daging itu bisa ditepis,” pungkasnya. (*)