KETIK, TULUNGAGUNG – Puncak peringatan hari jadi (Anniversary) ke-1 Komunitas Sahabat Alam dan Budaya (SABDA) berlangsung hangat dan penuh rasa kebersamaan di Desa Batokan, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung pada Minggu malam 2 Agustus 2026.
Perayaan ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial, melainkan panggung konsolidasi bagi ratusan penggiat lingkungan, akademisi, tokoh budaya, hingga jajaran Pemerintah Daerah dalam merawat bumi dan menjaga warisan leluhur.
Perhelatan satu dekade pertama SABDA ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting dan lintas komunitas. Hadir langsung di lokasi acara:
Ahmad Baharudin (Plt. Bupati Tulungagung), Drs. Tri Hariadi, M.Si. (Pj. Sekretaris Daerah), Kepala BPBD Tulungagung, dr. Jimmy, Sp.P. (Spesialis Paru / Tim Ahli Kesehatan yang memberikan pembekalan penanganan darurat bagi relawan), Kepala Disbudpar, Dwi Warsito (Pendiri SABDA) dan Mas Eko Yuliono, S.M (Ketua SABDA), Akhol Firdaus Pembina dan Cendekiawan UIN Satu.
Kemudian, Perwakilan Komunitas Lintas Daerah, Aliansi Lereng Wilis, Penjelajah Bumi Gayatri, Support Lingkungan Agung, Ganesha Petualang, Kolocokro, Mapala Cakra Yuhita, Mapala UIN SATU, Sispala SMK Sore, Komunitas Bonsai, Lesbumi, Tosan Aji, Wanita Bersanggul Indonesia (WBI), Jawi Nyawiji, Rumekso Bumi, hingga organisasi Prakarsa.
Baca Juga:
Panen Raya di Ngunggahan, Resep Tulungagung Jaga Lumbung Pangan dan Suara Nyaring Petani Soal InfrastrukturMembuka jalannya acara, Pendiri SABDA, Dwi Warsito menyampaikan pesan hangat mengenai alasan di balik lahirnya gerakan ini.
"Kami ingin menyatukan unsur-unsur pecinta alam dan budaya. Langkah ini mungkin terasa kecil, namun memiliki manfaat yang besar bagi masyarakat. Kami sangat bersyukur atas dukungan tim medis, para akademisi, hingga penggiat budaya yang terus mempromosikan potensi Tulungagung," ujarnya.
Perjuangan Nyata di Candi Dadi
Baca Juga:
Tendangan Perdana Liga Kemerdekaan Ketanon, Plt Bupati Tulungagung Pesan Jaga Kerukunan Lewat OlahragaMelalui penayangan video profil perjalanan, para tamu undangan diajak menyaksikan rekam jejak perjuangan SABDA yang berdiri sejak 2 Agustus 2025.
Berawal dari niat tulus seorang purnawirawan Brimob Dwi Warsito untuk meninggalkan bumi yang hijau bagi generasi mendatang, kepemimpinan organisasi ini dipercayakan kepada Mas Eko atas dasar kompetensi dan integritas.
Dalam kurun waktu satu tahun, SABDA merealisasikan empat pilar perjuangannya, penghijauan, Perlindungan Situs Sejarah, Pemberdayaan Masyarakat, dan Edukasi Kolektif, melalui aksi nyata di kawasan Candi Dadi.
Pertama adalah Penghijauan Perbukitan dengan menanam bibit pohon beringin, pule, dan tabebuya di Puncak Candi Dadi di bawah terik matahari ekstrem.
Berikutnya, Pembangunan Pos Jaga dan Mushola dengan memanggul ribuan batako dan semen secara manual menaiki medan terjal sejauh 389 meter tanpa bantuan alat berat, melibatkan gotong royong anggota hingga ibu-ibu relawan.
Yang ketiga Instalasi Air Bersih dan Dukungan Pemkab sekaligus jawaban atas krisis air di puncak candi dengan aksi memanggul galon air secara estafet.
Aksi ini mendapat perhatian penuh dari Plt. Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin yang menyalurkan bantuan tandon air 1.500 liter serta unit genset 9.000 Watt guna mendukung perancangan pemompaan air dari sumber Padusan.
Ketua SABDA Tulungagung menegaskan bahwa keberlanjutan gerakan lingkungan membutuhkan konsistensi dan kolaborasi erat dengan seluruh pihak.
"Satu tahun adalah usia yang masih muda. Terima kasih atas sinergi Pemkab Tulungagung dan seluruh kawan-kawan komunitas. Mari kita terus menggelorakan semangat: Lestarikan Bumi, Luhurkan Budaya, Eratkan Persaudaraan. Salam Lestari!" imbau Mas Eko.
Plt. Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi SABDA yang dinilai sangat membantu tugas pemerintah daerah dalam menjaga kondusivitas wilayah serta melayani masyarakat.
Dalam arahan utamanya, beliau menekankan beberapa poin penting yakni dengan menjaga Kerukunan dan Edukasi Digital, dengan imbauan kepada seluruh anggota komunitas untuk ikut mengedukasi warga sekitar, tidak mudah terpengaruh berita hoaks di media sosial, dan mengutamakan budaya gotong royong.
Makna Cinta Alam dan Budaya Menurut beliau, merawat alam adalah wujud rasa syukur atas nafas dan kehidupan yang diberikan bumi, sedangkan cinta budaya diwujudkan lewat tradisi silaturahmi yang harmonis.
Berdasarkan pengalamannya berkunjung ke Candi Dadi hingga Jurang Senggani, beliau menegaskan bahwa Tulungagung adalah pusat peradaban tua yang kaya akan warisan leluhur.
"Tulungagung memiliki peninggalan sejarah terbanyak di Jawa Timur. Kita punya ikon dunia seperti fosil Homo Wajakensis dan sosok Gayatri Rajapatni,.tokoh besar pendidik para raja pencetus filosofi Bhinneka Tunggal Ika," tegasnya.
"Kita harus bangga menjadi warga Tulungagung dan wajib memberi teladan terbaik bagi generasi penerus," tutur Ahmad Baharudin. (*)