KETIK, SLEMAN – Yogyakarta dan Surakarta pernah mencatatkan sejarah panjang. Dua daerah Vorstenlanden atau swapraja ini menjadi salah satu episentrum industri gula paling bergairah di Hindia Belanda.
Perubahan arah kebijakan pemerintah kolonial dari sistem tanam paksa menuju politik liberal di akhir abad ke-19 menjadi karpet merah bagi para investor Eropa. Mereka menanamkan modal secara masif di sektor industri gula.
Tanah-tanah sewa milik kasultanan dan kadipaten pun disulap. Lahan tersebut menjadi hamparan hijau tanaman tebu yang seolah tak bertepi. Gambaran visual kemegahan masa lalu itu terekam jelas dalam dokumen kuno Gedenkboek Ter Herinnering Aan Het 25-Jarig Bestaan Der N.V. Suikerfabriek "Tandjong Tirto" 1925-1930.
Laporan seperempat abad pabrik gula Tandjoeng Tirto di Kalasan tersebut melukiskan lanskap Yogyakarta dari udara. Ladang tebu membujur rapi dan sangat luas. Di sela-selanya, cerobong-cerobong asap raksasa tak henti membubung tinggi ke angkasa.
Hal itu menjadi penanda roda industri tengah berputar kencang. Di darat, lori pengangkut batang tebu dan pekerja bergerak lambat lalu-lalang saban hari. Mereka membawa hasil bumi menuju dapur ekstraksi. Hasilnya kemudian dialirkan ke pelabuhan melalui rentetan kereta pengangkut dalam jumlah besar.
Baca Juga:
Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026, Sleman Dorong Sinergi Budaya dan WisataKepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Anton Sujarwa, SH MSi, Sabtu 17 September 2026, menuturkan bahwa penggalan arsip tersebut menegaskan betapa kuatnya cengkeraman industri gula di wilayah DI Yogyakarta, khususnya Kabupaten Sleman.
Peta historis Kaart Der Suikerfabrieken Spooren Tramwegen van Java en Madoera tahun 1909 mencatat hal senada. Awalnya ada 17 pabrik gula di Yogyakarta. Jumlah itu kemudian bertambah menjadi 19 pabrik pada tahun-tahun berikutnya. Pabrik-pabrik ini berdiri berdampingan dengan 15 pabrik gula yang beroperasi di wilayah Surakarta.
Menariknya, keberadaan 19 pabrik gula di Yogyakarta tidak muncul secara seragam. Sebagian besar dari fasilitas manufaktur tersebut sebenarnya merupakan hasil alih fungsi dari industri indigo planter atau pengolahan pewarna kain alami nila. Industri nila mengalami kebangkrutan massal karena kalah bersaing dengan penemuan pewarna sintetis dari Eropa. Kondisi ini memaksa para pemilik modal mengalihkan bangunan dan lahan mereka menjadi pabrik pemrosesan tebu.
Baca Juga:
Disentil Soal Toilet Mampet, Sekda Sleman Beri Waktu Tiga Bulan dan Gelar Lomba Kebersihan Toilet OPDAda sepuluh pabrik gula yang tercatat berakar dari eks-pabrik nila. Pabrik-pabrik tersebut yakni Pabrik Gula Barongan, Klatjie, Tjebongan, Padokan, Rewoeloe, Sedajoe, Randoegoenting, Gesikan, Poendong, dan Sewoegaloer. Sementara itu, sembilan pabrik lainnya didirikan murni sejak awal khusus untuk memproduksi gula. Sembilan fasilitas ini yaitu Pabrik Gula Tandjoeng Tirto, Beran, Medarie, Gondanglipoero, Bantool, Kedaton-Plered, Demakidjo, Wonotjatoer, dan Sendangpitoe.
Puncak Keemasan, Malaise, dan Rekonstruksi Sejarah
Pemusatan belasan pabrik gula di dalam wilayah yang tergolong tidak terlalu luas dan saling berdekatan melahirkan efisiensi. Hasil produksi pun terus meningkat. Industri ini mencapai puncak keemasannya pada tahun 1925. Pada tahun tersebut, total hasil olahan gula dari Yogyakarta menembus angka fantastis hingga 3.000.000 pikul. Capaian rekor ini kian mengukuhkan posisi dan predikat Yogyakarta di mata dunia internasional sebagai Land of Sugar.
Namun, kejayaan yang tampak abadi itu mendadak luluh lantak hanya dalam hitungan tahun. Badai Krisis Malaise atau depresi besar ekonomi dunia menjadi penyebab utamanya. Industri gula di Yogyakarta dan Hindia Belanda mengalami kebangkrutan. Pengelola pabrik gula di Yogyakarta berupaya keras bertahan. Mereka memangkas jumlah karyawan untuk menutupi biaya produksi. Mereka juga mencoba menjalankan proses produksi secara bersamaan. Sayangnya, semua upaya tersebut tidak berjalan lancar. Utang kian membengkak. Kekurangan modal untuk membiayai produksi akhirnya memaksa pabrik-pabrik megah ini menghentikan operasinya satu per satu.
Kehancuran fisik industri ini mencapai tahap akhir saat meletusnya periode Perang Agresi Militer Belanda II. Tentara Indonesia berupaya mencegah fasilitas vital dikuasai kembali oleh pihak musuh. Bangunan-bangunan besar eks-pabrik gula pun menjadi salah satu sasaran strategi bumi hangus. Kini, setelah 150 tahun perkembangan industri gula di tanah Yogyakarta, sisa-sisa fisik bangunan kemegahan itu nyaris tidak banyak yang bisa kita lihat.
Menurut Anton Sujarwa, menelusuri kembali jejak sejarah industri gula penting di lakukan, baik untuk kepentingan akademis maupun pelestarian budaya. Langkah ini sekaligus membangkitkan kembali ingatan dan memori masyarakat terhadap kemegahan pabrik gula. Baik melalui komparasi foto lama maupun kondisi bekas tapak pabrik saat ini di Kabupaten Sleman. (*)