KETIK, MALANG – Sekar Layon merupakan salah satu tradisi di Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Tradisi ini berupa bingkisan berisi bunga yang telah digunakan dalam prosesi doa ini kerap dibawa pulang oleh para peziarah sebagai bagian dari rangkaian ziarah.

Secara harfiah, Sekar Layon berarti bunga yang telah layu. Bunga tersebut berasal dari prosesi penyekaran atau nyekar di makam Eyang Djoego dan Raden Mas Iman Soedjono, dua sosok yang dimakamkan di kawasan Pesarean Gunung Kawi.

Dalam tradisi di Pesarean Gunung Kawi, peziarah yang mengikuti prosesi doa di agrea Pendopo Agung akan menerima Sekar Layon seusai nyekar. Bagi sebagian masyarakat Jawa, bunga tersebut tidak sekadar menjadi buah tangan, tapi juga memiliki makna simbolis.

Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat, Sekar Layon sering ditempatkan di atas pintu rumah sebagai simbol penolak hal-hal negatif dan harapan akan ketenangan. Ada pula yang menggunakannya sebagai bagian dari ritual mandi setelah berziarah, sesuai dengan tradisi dan keyakinan masing-masing.

Sebelum prosesi penyekaran dilakukan, peziarah umumnya membeli bunga tabur yang dijual di sepanjang area Pesarean Gunung Kawi. Bunga tersebut biasanya berupa kembang telon, yakni rangkaian tiga jenis bunga yang dalam tradisi Jawa digunakan sebagai simbol penghormatan dan doa bagi leluhur maupun tokoh yang dihormati.

Baca Juga:
Gunung Kawi Sedang Naik Daun, Ini Dua Rute Menuju Lokasi dari Kota Malang

Harga bunga tabur di kawasan Pesarean Gunung Kawi relatif terjangkau, berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per bungkus. 

Tradisi menggunakan bunga dalam ziarah tidak lepas dari budaya nyekar, yaitu kebiasaan masyarakat Jawa mengunjungi makam leluhur atau tokoh yang dihormati untuk memanjatkan doa sekaligus mengenang jasa dan keteladanan mereka.

Di Pesarean Gunung Kawi, tradisi nyekar masih terus dijalankan oleh banyak peziarah sebagai bagian dari laku budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Meski demikian, prosesi tersebut tidak bersifat wajib. Pengunjung yang datang hanya untuk berwisata atau menikmati suasana kawasan Pesarean tetap dapat berkunjung tanpa harus mengikuti ritual penyekaran.

Baca Juga:
Ini Tata Cara dan Aturan Ziarah di Pesarean Gunung Kawi, Waspada Juru Kunci Gadungan!