Menelusuri Makna Pahlawan dari Sudut Gelap Sejarah

Editor: Marno

10 Nov 2024 11:12

Thumbnail Menelusuri Makna Pahlawan dari Sudut Gelap Sejarah
Oleh: A Fida *

Dalam sunyi sel tahanan, detik jam berdetak monoton seperti menghitung sisa waktu yang terbuang. Di sinilah, pada Hari Pahlawan, seorang narapidana teroris merenungkan ironi takdirnya. Ia yang pernah menganggap dirinya pejuang, kini dicap sebagai ancaman bagi negara yang sama-sama mengaku mewarisi semangat perjuangan.

Paradoks ini menghadirkan pertanyaan mendasar: Siapakah sesungguhnya yang berhak menyandang gelar pahlawan? Pertanyaan ini menggema di koridor-koridor penjara, tempat di mana batas antara keyakinan dan kesalahan menjadi begitu tipis.

Sejarah Indonesia mencatat, konsep kepahlawanan selalu menjadi arena kontestasi narasi. Soekarno, yang kini diabadikan sebagai pahlawan nasional, pernah pula mendekam dalam penjara kolonial sebagai "pengganggu ketertiban umum". Tan Malaka, dengan visi revolusionernya, bahkan mati di tangan sesama pejuang kemerdekaan. Maka, label "teroris" dan "pahlawan" seringkali bergantung pada siapa yang memegang kendali narasi sejarah.

Para narapidana teroris yang mengaku berjuang atas nama agama dan keadilan, sesungguhnya tengah terjebak dalam paradigma yang keliru. Mereka lupa bahwa Indonesia lahir dari rahim pluralitas, dibesarkan oleh tangan-tangan yang beragam. Founding fathers negeri ini dengan bijak memilih Pancasila sebagai jalan tengah, bukan negara agama maupun negara sekuler murni.

Baca Juga:
Ramadan Bulan Kebangkitan, Bukan Bulan Tidur Siang

Namun, kesalahan fatal mereka bukanlah pada hasrat untuk membela kebenaran, melainkan pada metode yang mereka pilih. Kekerasan dan teror hanya akan melahirkan lingkaran setan penderitaan, mengkhianati esensi perjuangan sejati yang seharusnya membebaskan, bukan membelenggu.

Di balik jeruji besi, beberapa dari mereka mulai memahami bahwa patriotisme sejati tidak diukur dari kemampuan menghancurkan, tetapi dari kesediaan membangun. Mereka belajar bahwa medan jihad yang sesungguhnya adalah melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan – bukan dengan bom dan peluru, melainkan dengan pendidikan, pemberdayaan, dan dialog.

Program pembinaan  yang mereka jalani perlahan membuka mata mereka bahwa NKRI adalah rumah bersama yang harus dijaga, bukan musuh yang harus dihancurkan. Kisah-kisah tentang pahlawan nasional yang mereka pelajari ulang mengajarkan bahwa kepahlawanan sejati terletak pada kemampuan merangkul perbedaan, bukan menghapusnya.

Hari Pahlawan bagi mereka kini menjadi momen introspeksi mendalam. Dari balik terali besi, mereka menyaksikan bagaimana bangsa ini terus bergerak maju, berjuang menghadapi tantangan zaman dengan cara-cara yang lebih bermartabat. Mereka mulai memahami bahwa menjadi pahlawan di era modern tidak lagi soal mengangkat senjata, tetapi tentang mengangkat derajat kemanusiaan.

Baca Juga:
Densus 88 Ungkap Ciri Anak Terpapar Paham Radikal dari Medsos, Berikut Tanda-Tandanya!

Perlahan tapi pasti, paradigma kepahlawanan mereka bergeser. Pahlawan sejati adalah mereka yang mampu mengalahkan ego dan dogma sempit dalam dirinya sendiri. Pahlawan adalah mereka yang berani mengakui kesalahan dan memilih jalan rekonsiliasi. Pahlawan adalah mereka yang memahami bahwa keberagaman Indonesia bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang harus dirawat.

Refleksi ini mengajarkan kita bahwa kepahlawanan bukanlah tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang siapa yang mampu membawa kebaikan bagi sebanyak mungkin orang. Dalam konteks kekinian, mungkin pahlawan sejati adalah mereka yang berani melawan arus radikalisme dan ekstremisme dengan membawa pesan perdamaian dan persatuan.

Hari Pahlawan, bagi para narapidana teroris yang telah menemukan pencerahan, kini menjadi pengingat akan harga mahal dari sebuah kesalahan paradigma. Namun sekaligus, ini menjadi momentum untuk memulai lembaran baru – menjadi pahlawan yang sesungguhnya dengan menjadi agen perdamaian dan persatuan bangsa.

Maka, dari kegelapan sel tahanan, lahir pencerahan bahwa kepahlawanan sejati tidak diukur dari berapa banyak musuh yang bisa dihancurkan, tetapi dari berapa banyak jembatan perdamaian yang bisa dibangun. Dan mungkin, inilah makna Hari Pahlawan yang paling relevan untuk Indonesia kontemporer.

Kota Pahlawan 10 November 2024

*) A Fida merupakan Mahasiswa Program Doktor Islamic Studies PPs Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id

****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.

Berikan keterangan OPINI di kolom subjek

Panjang naskah maksimal 800 kata

Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP

Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Senam di Pakisaji, Cabup Malang Sanusi Dikerubuti Lansia

Baca Selanjutnya

Peringatan 10 November, Khofifah Tekankan Pentingnya Mental Pahlawan Hadapi Tantangan Global

Tags:

Abu Fida narapidana terorisme sembunyikan Dr Azhari sembunyikan Noordìn M Top Densus 88 Hari Pahlawan deradikalusasi

Berita lainnya oleh Marno

Rebranding, Zest Jadi Swiss-belexpress Jemursari Surabaya dengan Spirit Baru

9 April 2026 18:20

Rebranding, Zest Jadi Swiss-belexpress Jemursari Surabaya dengan Spirit Baru

Peduli Pelestarian Lingkungan, BRI Bantu Bibit Tanaman untuk Kelompok Tani di Medokan Ayu

6 April 2026 10:15

Peduli Pelestarian Lingkungan, BRI Bantu Bibit Tanaman untuk Kelompok Tani di Medokan Ayu

Bisikan Perjamuan Terakhir Masuk Empat Terbaik  Festival Film di Prancis

1 April 2026 18:40

Bisikan Perjamuan Terakhir Masuk Empat Terbaik Festival Film di Prancis

Kinerja Solid, Laba Bersih Bank Jatim Naik 20,65 Persen Jadi Rp1,54 T pada 2025

31 Maret 2026 15:29

Kinerja Solid, Laba Bersih Bank Jatim Naik 20,65 Persen Jadi Rp1,54 T pada 2025

Festival Ramadan Doble Track SMAN 1 Panji Raih Omzet Rp 39,8 Juta

17 Maret 2026 20:36

Festival Ramadan Doble Track SMAN 1 Panji Raih Omzet Rp 39,8 Juta

Awas Penipuan Modus File .APK Jelang Lebaran, BRI Imbau Nasabah Waspada

16 Maret 2026 21:05

Awas Penipuan Modus File .APK Jelang Lebaran, BRI Imbau Nasabah Waspada

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar