KETIK, CILACAP – Ribuan masyarakat memadati kawasan Pantai Teluk Penyu, Kabupaten Cilacap, untuk menyaksikan prosesi Sedekah Laut yang menjadi puncak rangkaian Festival Nelayan 2026, Selasa, 7 Juli 2026.

Tradisi tahunan yang digelar Pemerintah Kabupaten Cilacap itu berlangsung khidmat sekaligus meriah sebagai wujud rasa syukur para nelayan atas rezeki dari laut serta doa memohon keselamatan saat melaut.

Prosesi diawali di Pendopo Wijayakusuma Sakti Cilacap dengan penyerahan Jolen Tunggul oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Cilacap, Ammy Amalia Fatma Surya, kepada perwakilan nelayan.

Momen sakral tersebut disaksikan jajaran Forkopimda, Ketua DPRD Cilacap Taufik Nur Hidayat, Sekretaris Komisi B Anton Iskandar, Sekretaris Daerah Annisa Fabriana, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta tamu undangan.

Suasana khidmat terasa sejak awal acara dengan iringan gamelan, tarian tradisional, dan aroma dupa yang mengiringi jalannya prosesi.

Baca Juga:
Anggota DPRD Anton Iskandar Prioritaskan Aspirasi PKK hingga Kader dalam Kegiatan Reses

Tradisi tersebut mencerminkan eratnya hubungan masyarakat pesisir Cilacap dengan laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan sekaligus memiliki nilai spiritual.

Usai prosesi penyerahan, Jolen Tunggul diarak bersama puluhan jolen milik berbagai kelompok nelayan di bawah naungan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap.

Di antaranya berasal dari Kelompok Nelayan PPSC, Pandanarang, Bengawan Donan, Lengkong, Sidakaya, Sentolo Kawat, Kemiren, hingga Tegal Katilayu.

Kirab budaya dipimpin langsung oleh Plt. Bupati Cilacap yang menaiki delman, diikuti Ketua DPRD, Forkopimda, Sekda, para kepala OPD, serta peserta kirab yang mengenakan busana adat Jawa.

Baca Juga:
Bersama Plt Bupati, Pemdes Tamban Tulungagung Gelar Wayang Kulit "Semar Bangun Desa"

Iring-iringan tersebut menyita perhatian ribuan warga yang memadati sepanjang rute hingga kawasan Pantai Teluk Penyu.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Cilacap, Budi Narimo, mengatakan sedekah laut bukan sekadar tradisi budaya, melainkan ungkapan rasa syukur para nelayan kepada Tuhan atas hasil laut yang diperoleh serta doa agar selalu diberi keselamatan saat mencari nafkah.

"Jadi ini bukan sekadar adat budaya Jawa yang harus dilestarikan, namun ini merupakan doa para nelayan dan wujud syukur atas rezeki yang didapat dari laut serta ungkapan doa meminta keselamatan saat melaut," ujar Budi Narimo.

Ia menjelaskan Festival Nelayan 2026 berlangsung selama 6–12 Juli 2026 dengan beragam rangkaian kegiatan.

Mulai dari arak-arakan Jolen Tunggul dari Titik Nol Kilometer menuju Pendopo Kabupaten Cilacap, tasyakuran atau slametan nelayan, larung jolen, pentas kuda lumping, pertunjukan seni sintren, lomba memasak, Grand Final Duta Wisata Cilacap, berbagai perlombaan dan pentas seni, hingga konser musik Ambyar Orkes Sakit Hati yang menjadi penutup festival pada 11 Juli 2026.

Selain menjadi upaya melestarikan tradisi budaya, festival tersebut juga menjadi ruang hiburan masyarakat melalui penampilan drumband, tari tradisional, atraksi angklung, hingga parade peserta dengan pakaian adat dari berbagai daerah.

Menurut Budi, Festival Nelayan juga diharapkan mampu menggerakkan sektor ekonomi kreatif dan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui kunjungan wisatawan selama pelaksanaan kegiatan.

"Selain sebagai ruang mencari nafkah, bersyukur dan berdoa, festival ini menjadi sarana meningkatkan ekonomi lokal dan penggerak ekonomi kreatif," pungkasnya.(*)