Masjid Penuh Saat Tarawih, Mengapa Tidak Saat Subuh?

Jurnalis: Maulidya Hanin Najahah
Editor: Aziz Mahrizal

1 Mar 2026 17:12

Thumbnail Masjid Penuh Saat Tarawih, Mengapa Tidak Saat Subuh?
Ilustrasi antara salat tarawih dan salat subuh. (Ilustrator: Ilma Nurlaila/Ketik.com)

Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid-masjid penuh saat salat tarawih, saf rapat hingga ke teras, suasana hangat oleh kebersamaan. Namun beberapa jam setelahnya, ketika azan subuh berkumandang, jumlah jamaah sering kali jauh berkurang. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan sederhana: mengapa semangat berjamaah begitu kuat di malam hari, tetapi melemah saat fajar?

Secara sosiologis, hal ini dapat dijelaskan melalui teori ritual kolektif. Sosiolog asal Prancis, Émile Durkheim, dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life menjelaskan bahwa ritual bersama melahirkan apa yang ia sebut sebagai collective effervescence.

Ia menulis, “By assembling, men feel themselves carried away by a force that is greater than themselves.” (Durkheim, 1912).

Artinya, ketika berkumpul dalam sebuah ritual, seseorang merasakan energi moral yang lebih besar daripada ketika sendirian. Tarawih yang dilakukan berjamaah dalam suasana Ramadan secara alami membangkitkan semangat kolektif tersebut.

Baca Juga:
Khutbah Jumat Syawal di Masjid Al-Akbar! Gubes Unisma Prof Mas’ud Said: Istiqomah Pasca Ramadan Jadi Kunci Kemuliaan

Sebaliknya, salat subuh menuntut daya dorong yang berbeda. Tidak ada keramaian, tidak ada euforia sosial, hanya komitmen pribadi melawan rasa kantuk dan lelah. Di titik ini, motivasi intrinsik menjadi penentu utama.

Dalam perspektif Islam, dimensi batin lebih utama daripada tampilan lahiriah. Ulama Indonesia, Quraish Shihab, dalam bukunya Membumikan Al-Qur'an menegaskan bahwa nilai suatu ibadah sangat ditentukan oleh kesadaran pelakunya.

Ia menulis, “Ibadah bukan sekadar gerakan fisik, tetapi kesadaran hati yang mengantarkan manusia kepada kedekatan dengan Allah.” (Shihab, Membumikan Al-Qur’an).

 Pernyataan ini menekankan bahwa kualitas ibadah tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah jamaah.

Baca Juga:
Tips Hemat Lebaran: 11 Cara Mengatur Keuangan agar Tidak Boncos Setelah Idulfitri

Ramainya tarawih tentu patut disyukuri sebagai tanda antusiasme umat. Namun konsistensi menjaga salat subuh berjamaah justru mencerminkan kedalaman komitmen spiritual. Ramadan bukan hanya tentang momentum yang ramai dan semarak, melainkan tentang transformasi yang bertahan bahkan ketika suasana telah sunyi.

Pada akhirnya, pertanyaan “mengapa subuh lebih sepi?” bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak refleksi. Apakah kita beribadah karena dorongan suasana, atau karena kesadaran yang tumbuh dari dalam diri? Karena nilai Ramadan tidak diukur dari seberapa penuh masjid di malam hari, tetapi dari seberapa setia kita menjaga cahaya hingga pagi.

Baca Sebelumnya

DPD KNPI Sampang Gelar Dialog Kemanusiaan Bersama PPDI, Dorong Inklusivitas dan Kemandirian Disabilitas

Baca Selanjutnya

Sakit Gigi Saat Puasa, Bolehkah Berobat dan Apakah Membatalkan Puasa?

Tags:

ramadan tarawih subuh Salat Subuh Salat Tarawih

Berita lainnya oleh Maulidya Hanin Najahah

PWNU Jatim Usulkan Pelembagaan Aswaja Center Jelang Muktamar Ke-35 NU

13 April 2026 18:24

PWNU Jatim Usulkan Pelembagaan Aswaja Center Jelang Muktamar Ke-35 NU

Prakiraan Cuaca Hari Ini 13 April 2026: Jakarta dan Bandung Cerah

13 April 2026 09:20

Prakiraan Cuaca Hari Ini 13 April 2026: Jakarta dan Bandung Cerah

Muskerwil I PWNU Jatim di Tuban: Silaturahmi dan Qanun Asasi Ditekankan Kembali Menjelang Abad Kedua NU

12 April 2026 13:20

Muskerwil I PWNU Jatim di Tuban: Silaturahmi dan Qanun Asasi Ditekankan Kembali Menjelang Abad Kedua NU

Prakiraan Cuaca Hari Ini, Minggu 12 April 2026: Jakarta dan Bengkulu Hujan Ringan

12 April 2026 09:20

Prakiraan Cuaca Hari Ini, Minggu 12 April 2026: Jakarta dan Bengkulu Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca Hari Ini, Sabtu 11 April 2026: Medan Cerah dan Bengkulu Hujan Ringan

11 April 2026 08:20

Prakiraan Cuaca Hari Ini, Sabtu 11 April 2026: Medan Cerah dan Bengkulu Hujan Ringan

13 Profesor Bersaing Rebut Kursi Rektor UINSA! 4 di Antaranya Perempuan

10 April 2026 16:17

13 Profesor Bersaing Rebut Kursi Rektor UINSA! 4 di Antaranya Perempuan

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar