KETIK, BATU – Di tengah maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai daerah, kondisi ketenagakerjaan di Kota Batu masih relatif aman. 

Sepanjang 2026, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batu mencatat empat kasus PHK yang dipicu faktor usia pekerja, bukan akibat kecerdasan buatan atau AI.

Secara nasional, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 8.389 pekerja terdampak PHK hingga April 2026. 

Di tingkat global, gelombang pengurangan tenaga kerja juga terjadi di sejumlah sektor, salah satunya dipicu transformasi digital dan peningkatan penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kepala Disnaker Kota Batu, Mokhamad Forkan, mengatakan kondisi di Kota Batu masih relatif aman.

Baca Juga:
Disdik Kota Batu Pastikan SPMB 2026 Adil, Orang Tua Bisa Pantau Nilai dan Kuota

Hingga saat ini, PHK yang terjadi bukan disebabkan penggunaan AI, melainkan faktor usia pekerja.

“Pada tahun 2026 ini ada empat orang yang mengalami PHK. Penyebabnya karena pekerja sudah memasuki usia lanjut. Perusahaan juga telah memberikan hak pesangon serta jaminan BPJS Ketenagakerjaan,” ujarnya, Selasa, 28 April 2026.

Forkan menegaskan, sampai saat ini belum ada laporan pemutusan hubungan kerja di Kota Batu yang berkaitan langsung dengan penerapan teknologi AI di perusahaan.

“Sampai sekarang belum ada laporan PHK yang disebabkan penggunaan teknologi AI di Kota Batu,” katanya.

Baca Juga:
261 Anak di Kota Batu Kecanduan Gadget, Kenali Dampak dan Bahayanya

Ia menjelaskan, struktur perekonomian Kota Batu masih didominasi sektor pariwisata, pertanian, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Sektor-sektor tersebut dinilai masih banyak mengandalkan tenaga kerja manusia dan belum menjadikan AI sebagai pengganti utama pekerja.

“Karakter ekonomi Kota Batu lebih banyak ditopang sektor pariwisata yang sampai saat ini belum mengandalkan AI untuk mengambil alih tenaga kerja,” jelasnya.

Meski demikian, Disnaker Kota Batu mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi perkembangan teknologi yang dinilai tidak bisa dihindari.

Salah satu strategi yang disiapkan adalah memberikan pelatihan literasi digital dasar yang relevan dengan sektor unggulan daerah, seperti pariwisata, pertanian, dan UMKM.

Selain itu, pelatihan juga difokuskan pada kemampuan yang sulit digantikan AI, seperti kreativitas, pemikiran kritis, komunikasi, serta empati dalam pelayanan pelanggan.

“Kami mendorong pekerja memiliki kemampuan yang menjadi keunggulan manusia dan tidak mudah digantikan mesin,” ujarnya.

Disnaker juga berencana memfasilitasi sertifikasi profesi baru yang muncul akibat perkembangan teknologi, seperti analis data pariwisata maupun spesialis pemasaran digital berbasis AI.

Tak hanya itu, Forkan menegaskan, pihaknya akan menjadi jembatan antara kepentingan dunia usaha dan perlindungan tenaga kerja dalam menghadapi transisi teknologi.

“Kami ingin mempertemukan serikat pekerja dan pengusaha untuk merumuskan transisi teknologi yang sehat. Perusahaan juga didorong mengutamakan pelatihan internal sebelum mengambil keputusan PHK,” pungkasnya. (*)