KETIK, BATU – Pemerintah Kota (Pemkot) Batu mendorong para petani memaksimalkan pemanfaatan greenhouse atau rumah kaca untuk melindungi tanaman dari dampak fenomena bediding yang kerap terjadi saat musim kemarau. 

Langkah ini dinilai penting guna menjaga produktivitas komoditas sayuran dan bunga hias yang menjadi andalan sektor pertanian Kota Batu.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu, Hendry Suseno, mengatakan penggunaan greenhouse menjadi salah satu solusi efektif untuk mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat suhu dingin ekstrem yang biasanya melanda kawasan dataran tinggi.

Menurut Hendry, kondisi di dalam greenhouse lebih mudah dikendalikan sehingga tanaman terlindungi dari perubahan cuaca yang berpotensi mengganggu pertumbuhan maupun hasil panen.

“Kami memiliki cukup banyak greenhouse yang sudah diperbantukan kepada kelompok tani. Fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal karena lebih aman. Suhu dan kondisi tanaman di dalamnya dapat dikontrol sehingga risiko kerusakan akibat cuaca ekstrem dapat diminimalkan,” ujarnya, Selasa, 6 Juni 2026.

Baca Juga:
Satreskrim Polres Batu dan Media Perkuat Kolaborasi, Dorong Informasi Akurat untuk Masyarakat

Upaya tersebut dilakukan menyusul informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur yang menyebut fenomena bediding di wilayah dataran tinggi dapat memicu munculnya embun es yang berpotensi merusak tanaman hortikultura maupun bunga hias.

Saat ini, Kota Batu memiliki 42 unit greenhouse yang telah dibangun untuk mendukung aktivitas pertanian.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 unit telah dimanfaatkan kelompok tani, sedangkan empat unit lainnya masih belum digunakan secara optimal.

Hendry menegaskan keberadaan greenhouse sangat penting mengingat sektor pertanian hortikultura dan bunga hias merupakan salah satu penopang utama perekonomian Kota Batu.

Baca Juga:
Pembentukan Dinas PMD dan Dispora, DPRD Kota Batu Terus Lakukan Kajian

Data triwulan pertama tahun 2026 menunjukkan produksi sayuran Kota Batu masih cukup tinggi. Komoditas sawi atau petsai tercatat menjadi hasil panen terbesar dengan produksi mencapai 28.790,73 kuintal, disusul wortel sebanyak 22.705,39 kuintal.

Selain itu, produksi kentang mencapai 21.427,56 kuintal, bawang daun 16.015,17 kuintal, kembang kol 15.554,52 kuintal, kubis 11.569,95 kuintal, serta bawang merah 6.391,30 kuintal.

Sementara untuk sektor florikultura, produksi bunga mawar mencapai 10.065,50 kuintal, bunga krisan 2.348,75 kuintal, dan anggrek pot sebanyak 155,50 kuintal.

Untuk mengantisipasi dampak perubahan cuaca, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu juga terus memperkuat koordinasi dengan penyuluh pertanian serta tenaga pendamping yang bertugas di desa dan kelurahan.

Melalui jaringan tersebut, informasi terkait kondisi cuaca, ancaman bediding, hingga langkah-langkah mitigasi terus disampaikan kepada sekitar 290 kelompok tani yang tersebar di Kota Batu.

“Kami rutin berkoordinasi dengan penyuluh dan pendamping pertanian agar informasi mengenai perubahan cuaca dapat segera diteruskan kepada petani. Dengan begitu mereka bisa lebih siap menghadapi dampak yang mungkin muncul,” kata Hendry.

Ia menjelaskan pergantian musim sering kali memicu munculnya berbagai serangan penyakit tanaman yang sulit diprediksi.

Kondisi lembap dan kabut, misalnya, dapat meningkatkan risiko serangan virus maupun bakteri yang berpotensi menurunkan produktivitas pertanian.

Karena itu, selain mendorong pemanfaatan greenhouse, pemerintah daerah juga terus menyalurkan berbagai sarana produksi pertanian untuk membantu petani menghadapi ancaman tersebut, termasuk penyediaan pestisida.

“Walaupun saat ini ada kebijakan efisiensi anggaran, program-program yang bersifat penting dan memberikan manfaat langsung bagi petani tetap menjadi prioritas. Salah satunya adalah dukungan sarana produksi pertanian,” tegasnya.