KETIK, MALANG – Lima pejuang pariwisata asal Malang berhasil masuk daftar 50 kandidat terbaik pada ajang Wonderful Indonesia Award 2026 sebagai bentuk keberhasilan dalam memelihara destinasi wisata yang bergerak di akar rumput, mulai dari sektor konservasi alam, pengembangan desa wisata, literasi, hingga pelestarian seni budaya.

Pencapaian ini tentunya melewati proses seleksi yang cukup ketat dari 198 pejuang pariwisata seluruh Indonesia. Dengan konsistensi dalam memelihara destinasi wisata, lima pejuang pariwisata Malang ini berhasil memberikan warna hingga mendatangkan banyak wisatawan.

Berikut lima pejuang pariwisata di Malang yang berhasil tembus 50 kandidat terbaik di ajang Wonderful Indonesia Award 2026.

1. Lia Putrinda Anggawa Mukti

Seorang wanita asal Desa Tambak Rejo, Kabupaten Malang, Lia Putrinda Anggawa Mukti berhasil menghidupkan kembali tanaman mangrove di kampung halamannya dan kini dikenal dengan Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna.

Baca Juga:
Kompak! 3 BUMD Air Minum Malang Raya Bersatu, Siapkan Kekuatan Hadapi Porpamnas IX

Kawasan ini berkembang menjadi laboratorium hidup yang tidak hanya sekadar tempat menanam dan memulihkan mangrove, tetapi juga membangun kesadaran bersama.

Kawasan konservasi CMC Tiga Warna mengusung konsep eduwisata. Sehingga, pengunjung dapat menikmati pemandangan pantai dengan hutan mangrove sekaligus belajar tentang urgensi dalam menjaga alam. Kawasan yang dulu gersang, kini kembali hijau dengan lebih dari 50 ha pesisir berhasil direhabilitasi dan kehidupan biota laut kembali pulih.

Yang semula konservasi CMC fokus pada kawasan hilir pesisir. Seiring berjalannya waktu, banyak warga yang krisis air bersih, hingga membuat Lia memperluas konservasi ke arah hulu dengan menanam bambu. Lia juga membentuk program Sinau lan Dolanan (Si Dolan), wadah belajar dan bermain anak-anak dengan alam.

2. Moch. Sholeh Adi Pramono

Baca Juga:
Savana Hotel & Convention Malang, Pilihan Utama Hotel MICE dengan Akses Strategis untuk Instansi Pemerintah

Benteng pertahanan seni tradisional masih berdiri kokoh di kawasan Tumpang, Kabupaten Malang dengan nama Padepokan Mangundharma yang didirikan oleh Moch. Sholeh Adi Pramono sebagai pusat pelestarian kebudayaan Jawa.

Sholeh Adi Pramono terus menjaga kesenian tradisional Jawa di Padepokan Mangundharma, Tumpang. (Foto: Instagram @gustiajiborneo)

36 tahun berdiri, Sholeh masih terus menjaga api kesenian tradisional Jawa agar tidak padam termakan oleh zaman. Di sini banyak cabang seni adiluhung yang diwariskan secara komprehensif, mulai dari seni Wayang Topeng Malang, Wayang Kulit, hingga seni sastra lisan berupa Tembang Macapat.

Di tahun 2023, padepokan ini terpilih untuk tampil pada ajang bergengsi dalam perayaan satu dekade Galeri Indonesia Kaya. Tak hanya itu, sanggar ini juga pernah tampil di Festival Indonesia Bertutur di Bali tahun 2024 dan penampilan memukau di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada Festival Budaya Panji 2024.

3. Heri Mujiono 

Siapa sangka seorang tukang kebun bisa memiliki jasa besar pada bidang wisata desa. Heri Mujiono dengan ketelatenan, ia mempromosikan desa wisata kepada turis mancanegara, khususnya Eropa, hingga kini banyak wisatawan asing yang tertarik dengan desa wisata, terutama Coban Sewu dan Ampelgading.

Heri Mujiono berhasil mempromosikan wisata desa Ampelgading dan Coban Sewu kepada wisatawan mancanegara. (Foto: @mujionoheri)

Di Malang, banyak tour guide yang bertugas untuk menemani para wisatawan asing. Namun, Heri Mujiono berhasil menunjukkan performa yang berbeda dan memiliki peran besar dalam kemajuan desa wisata. Pria berusia 57 tahun ini awalnya berprofesi sebagai tukang kebun di perkebunan karet.

Kemudian dengan belajar bahasa Inggris secara otodidak menggunakan kamus, ia mencoba menyapa dan menjelaskan kepada para wisatawan asing yang berkunjung ke kebun karet tempatnya bekerja, hingga ia melamar sebagai tour guide di satu biro perjalanan wisata dan mulai mempromosikan wisata desa.

Singkat cerita, di tahun 2013, ia memberikan pelatihan kepada desa-desa untuk pengembangan wisata di desa. Desa pertama yang ia datangi bersama wisatawan asing adalah Ampelgading. Di tahun 2016, ketika ia mengantar turis ke Bromo, ia juga menawarkan wisata Coban Sewu. Ia juga menghadirkan inovasi ethno tourism dari kebun hingga dapur warga Ampelgading.

4. Mila Kurniawati 

Berawal dari ketidaksengajaan, Mila Kurniawati berhasil memimpin Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) 'Kampoeng Heritage Kajoetangan' hingga berhasil menjadi salah satu destinasi wisata terbaik di Kota Malang, bahkan Indonesia.

Mila Kurniawati berhasil merintis Kampung Heritage Kayutangan dan meraih berbagai penghargaan membanggakan. (Foto: Dok. Pribadi)

Setelah lulus dari kuliah, Mila memilih untuk tetap di rumah dan aktif dalam kegiatan kampung, hingga ia diamanati Ketua RW untuk mengelola dam menyusun wisata di kampungnya. Bersama 9 orang rekannya, Mila merintis Kampung Heritage Kayutangan sebagai destinasi wisata.

Saat ini, Kampung Heritage Kayutangan berhasil menjadi salah satu destinasi incaran wisatawan domestik maupun mancanegara, hingga sukses menyabet beberapa kejuaraan, salah satunya gelar Juara I Pokdarwis Tingkat Nasional dalam Anugerah Wonderful Indonesia Award 2025.

5. Andi Afriansyah

Andi Afriansyah berhasil menggerakkan ribuan kreator visual melalui Instanusantara, komunitas fotografi berbasis Instagram yang mewadahi para pecinta visual dari seluruh penjuru Indonesia. 

Selain untuk mempromosikan wisata, Komunitas ini dibentuk menjadi ruang berbagi karya, saling menginspirasi, dan menjalin koneksi antar kreator visual lintas daerah.

Komunitas ini dibentuk pada Maret 2012, hingga kini, Andi Afriansyah berhasil mengumpulkan para fotografer pecinta alam dari penjuru Indonesia untuk saling berbagi gambar keindahan alam Indonesia.

Melalui semua karya dan perjuangan para tokoh pariwisata ini, Malang dapat dikenal dengan ribuan kekayaan alam hingga kreativitas dalam menghadirkan wisata berbasis kampung atau desa.(*)