KETIK, MALANG – Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur menaruh perhatian serius terhadap tantangan moral dan mental yang dihadapi oleh Generasi Z (Gen Z) di era digital.
Di tengah kepungan teknologi dan media sosial yang memicu sifat individualisme, Pramuka berkomitmen menjadi benteng pertahanan untuk mengalihkan anak muda Gen Z dari ketergantungan gawai lewat aksi sosial yang produktif.
Wakil Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Jawa Timur, Arumi Bachsin, menyoroti bagaimana kemajuan teknologi membawa dampak distraksi yang luar biasa besar bagi anak muda. Jika tidak diarahkan ke kegiatan positif, Gen Z dikhawatirkan akan semakin menutup diri dari lingkungan sekitar.
"Apalagi generasi-generasi Z, generasi sekarang ini. Kalau tidak dikasih kegiatan-kegiatan positif, maka pasti fokusnya ke gadget saja," jelasnya dalam pemaparannya di Ruang Sidang Balai Kota Malang, Jumat, 26 Juni 2026.
Bahkan, Arumi juga secara jenaka berkelakar bahwa bukan hanya anak muda Gen Z saja, melainkan orang dewasa saat ini juga tergantung dengan gawai.
Baca Juga:
Kenangan Pramuka Sri Untari: Dari Kemah Gunung hingga Nilai Kemandirian"Terkadang yang sudah dewasa itu, yang cewek biasanya nonton drakor (drama Korea) dan yang cowok biasanya lihat dracin (drama Cina). Sehingga, dengan adanya kemajuan teknologi ini distraksinya besar," tambahnya.
Hal itu juga ditambah dengan karakteristik kehidupan kota, yang cenderung mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih individualis. Sehingga, ini menjadi alasan penguatan karakter utamanya di tingkat Gugus Depan (Gudep) Pramuka harus dipertebal.
Melalui Pramuka, Gen Z juga ditantang untuk keluar dari zona individualis dan turun langsung berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga menegaskan bahwa Pramuka bukan lagi sekadar tentang berkemah, melainkan sebuah wadah pertumbuhan empati sosial yang konkret.
"Lewat Implementasi Satya Pramuka, yaitu ikut serta membangun masyarakat. Pramuka bukan hanya sarana pengembangan keterampilan diri, tetapi juga memiliki keterlibatan sosial secara langsung seperti renovasi rumah tidak layak huni, bersih-bersih pantai, dan juga kegiatan-kegiatan pengabdian lainnya yang kita harapkan ini adalah wujud nyata dari kepedulian Pramuka terhadap sesama," ungkapnya.
Baca Juga:
Waka Kwarda Jatim Arumi Bachsin Blusukan Ke Pelosok Kota Malang, Bantu Renovasi Rumah Warga Tak MampuSebagai bukti nyata keterlibatan sosial, Kwarda Pramuka Jatim lewat Perkemahan Wirakarya menggagas gerakan Satu Gugus Depan, Satu Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Dalam kegiatan ini, adik-adik Pramuka dari kalangan Gen Z tersebut dilibatkan langsung untuk melakukan renovasi rumah.
Untuk target besarnya tidak main-main, yaitu memperbaiki 1.000 Rumah Tidak Layak Huni yang berada di seluruh wilayah Jawa Timur. Kondisi rumah yang tidak layak dengan sanitasi buruk, juga berujung terhadap masalah sosial lainnya yaitu stunting.
"Stunting itu bukan hanya tentang gizi, tetapi tentang kesehatan dan juga santiyas yang membuat infeksi berulang kepada anak-anak. Itu biasanya berawal dari bagaimana kondisi rumahnya," terangnya.
Untuk memaksimalkan langkah ini, pihaknya mengharapkan sinergi dan kolaborasi teknis yang kuat dari pemerintah daerah setempat. Sehingga, program ini dapat berjalan maksimal di lapangan.
"Yang sangat kami harapkan, adalah bagaimana dukungan pemerintah setempat. Dan hari ini, ada Kak Wali Kota Malang Wahyu Hidayat yang ikut mendampingi. Sehingga, kolaborasi-kolaborssi di bidang teknisnya menjadi sangat strategis," tandasnya. (*)