Lebaran Lebih Cepat Dua Hari, Tradisi Hisab Klasik Pesantren Ini Jadi Sorotan

Jurnalis: Haryono
Editor: Fisca Tanjung

19 Mar 2026 20:23

Thumbnail Lebaran Lebih Cepat Dua Hari, Tradisi Hisab Klasik Pesantren Ini Jadi Sorotan
Jamaah usai melaksanakan sholat idul fitri 1447 H di masjid Pondok Pesantren Mahfilud Duror. pada Kamis 19 Maret 2026. (Foto: Haryono/Ketik.com)

KETIK, BONDOWOSO – Sejumlah warga di Bondowoso yang tergabung sebagai jamaah Pondok Pesantren Mahfilud Duror telah lebih dulu merayakan Idulfitri 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Maret 2026. Perayaan itu ditandai dengan pelaksanaan salat Id di masjid pesantren yang berada di Suger Kidul, wilayah Jember.

Perbedaan waktu Lebaran ini dipicu oleh metode penentuan kalender hijriah yang tidak mengikuti pendekatan pemerintah. Jemaah pesantren tersebut menetapkan awal Ramadan dan 1 Syawal dengan cara tersendiri, bahkan memulai puasa dua hari lebih awal dibandingkan ketetapan resmi.

Alih-alih menggunakan metode hisab modern atau rukyatul hilal, mereka berpegang pada kitab klasik yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.

Salah satu santri, Hilmi, menjelaskan bahwa metode tersebut memungkinkan penentuan jadwal ibadah dilakukan jauh hari sebelumnya, termasuk untuk tahun-tahun mendatang.

Baca Juga:
Ribuan Jemaah di Jember Mulai Puasa Ramadan 1447 H Lebih Awal, Ini Dasar Perhitungannya

"Pada tahun ini, para santri telah mengawali puasa sejak Selasa, 17 Februari 2026. Perbedaan waktu seperti ini bukan hal baru, melainkan sudah menjadi tradisi yang terus dijaga di lingkungan pesantren." ujarnya.

Ia juga menuturkan, pedoman utama yang digunakan adalah kitab Nushatul Majaalis karya Syekh Abdurrahman As Shufuri As Syafi’i yang telah digunakan sekitar 195 tahun. Dalam penerapannya, pesantren memakai sistem khumasi, yakni perhitungan berbasis siklus lima hari.

"Dengan sistem tersebut, awal Ramadan ditentukan dengan menambahkan lima hari dari awal puasa tahun sebelumnya. Sebagai ilustrasi, jika awal puasa tahun ini jatuh pada hari Selasa, maka lima hari berikutnya akan mengarah ke hari Minggu sebagai patokan tahun selanjutnya," imbuhnya.

Metode ini juga memungkinkan pihak pesantren memproyeksikan awal Ramadan dan Idulfitri di masa depan dengan durasi puasa yang tetap 30 hari.

Meski telah merayakan Lebaran lebih awal, Hilmi mengaku tetap akan mengikuti salat Id bersama masyarakat umum yang mengacu pada keputusan pemerintah.

Sementara itu, para alumni yang ingin merayakan lebih dulu biasanya datang langsung ke pesantren di Suger Kidul agar dapat mengikuti pelaksanaan sesuai tradisi yang berlaku.

Fenomena ini menunjukkan keberagaman praktik dalam menentukan waktu ibadah di tengah masyarakat, yang tetap berjalan berdampingan dengan ketetapan nasional. (*)

Baca Sebelumnya

Pantau Hilal dari Ketinggian Helipad Aryaduta, Kemenag Sumsel: 1 Syawal 1447 H Diprediksi Sabtu

Baca Selanjutnya

LF PCNU: Hilal 1 Syawal 1447 H Tidak Terlihat di Kabupaten Sampang

Tags:

Pondok Pesantren Mahfilud Duror Suger Jember Batas Bondowoso Jember Sholat Id lebih Cepat 2 Hari

Berita lainnya oleh Haryono

Dari Kampus ke Jurnal Nasional: Dua Mahasiswi PGMI UIN KHAS Jember Lulus Tanpa Skripsi

15 April 2026 14:13

Dari Kampus ke Jurnal Nasional: Dua Mahasiswi PGMI UIN KHAS Jember Lulus Tanpa Skripsi

Cegah Kebocoran Setoran Pajak, Bondowoso Terapkan e-SPPT untuk Pembayaran PBB

14 April 2026 16:54

Cegah Kebocoran Setoran Pajak, Bondowoso Terapkan e-SPPT untuk Pembayaran PBB

Banjir Wonoboyo Jadi Alarm, Pemkab Bondowoso Bangun Sistem Penanganan Bencana Terintegrasi

13 April 2026 20:33

Banjir Wonoboyo Jadi Alarm, Pemkab Bondowoso Bangun Sistem Penanganan Bencana Terintegrasi

Terobosan Akademik UIN KHAS Jember, Praktisi Hukum Kini Bisa Raih Sarjana lewat Jalur RPL

13 April 2026 14:20

Terobosan Akademik UIN KHAS Jember, Praktisi Hukum Kini Bisa Raih Sarjana lewat Jalur RPL

Cegah Kelangkaan LPG 3 Kg, Polres Bondowoso Perketat Pengawasan Distribusi

13 April 2026 14:04

Cegah Kelangkaan LPG 3 Kg, Polres Bondowoso Perketat Pengawasan Distribusi

Duka Berbuah Perlindungan, Santunan Rp42 Juta Selamatkan Keluarga Buruh Tani di Bondowoso

11 April 2026 17:57

Duka Berbuah Perlindungan, Santunan Rp42 Juta Selamatkan Keluarga Buruh Tani di Bondowoso

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar