KETIK, BLITAR – Malam di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Minggu 27 September 2026, terasa berbeda.
Jalan yang biasanya dilalui kendaraan mendadak berubah menjadi panggung raksasa. Ribuan warga memadati ruas jalan mulai kawasan SDN Sawentar hingga utara Perempatan Sambong.
Dentuman sound system menggema. Sorot laser menyapu langit. Di tengah lautan manusia, satu per satu peserta Exotic Karnival 2026 berjalan dengan kostum penuh warna dan kreasi yang mencuri perhatian.
Ada karakter animasi, gaun bertingkat, ornamen bersayap, hingga kreasi kepala dengan bentuk unik. Malam itu, kreativitas warga Sawentar seperti mendapat ruang untuk berbicara dengan caranya sendiri.
Exotic Karnival 2026 digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Baca Juga:
Truk Muatan Tebu Terguling di Tikungan Selorejo Blitar, Sopir SelamatNamun, kemeriahannya tidak berhenti pada parade kostum.
Karnaval tersebut juga menjadi gambaran kecil tentang bagaimana masyarakat desa merayakan kemerdekaan melalui kreativitas, kebersamaan, sekaligus geliat ekonomi warga.
Ratusan pelaku UMKM memanfaatkan keramaian untuk berjualan di sepanjang jalur parade. Ketika peserta karnaval berjalan, roda ekonomi warga pun ikut bergerak.
Semakin malam, suasana justru semakin hidup.
Baca Juga:
Kakek 73 Tahun Diamankan Polres Blitar Kota, Dugaan Persetubuhan Anak Disabilitas TerungkapDi garis finis, panggung megah telah menunggu. Tata cahaya dan videotron membuat lokasi tersebut menjadi pusat perhatian ribuan penonton.
Satu per satu kontestan tampil di depan panggung kehormatan dan menunjukkan kreativitas mereka di hadapan dewan juri.
Salah satu penampilan bahkan membawa penonton masuk ke dalam kisah legenda Jawa Timur yang lekat dengan Gunung Kelud.
Kisah Kilisuci dan Lembu Suro.
Dalam pertunjukan teater sekitar 10 menit, peserta mengangkat cerita tentang cinta, pengkhianatan, hingga sumpah Lembu Suro.
Dikisahkan, Dewi Kilisuci atau Putri Diah Ayu Pusparani membuat sayembara bagi calon suaminya. Syaratnya, sang calon harus mampu membuat dua sumur di puncak Gunung Kelud dalam waktu semalam.
Lembu Suro, raja sakti berkepala sapi, menerima tantangan tersebut.
Namun ketika Lembu Suro berhasil menyelesaikan pekerjaannya, kisah cinta itu berubah menjadi pengkhianatan.
Kilisuci disebut tidak bersedia menikah dengan Lembu Suro. Ia kemudian meminta prajurit menimbun Lembu Suro menggunakan tanah dan bebatuan.
Dari dalam sumur, Lembu Suro konon mengucapkan sumpah. Murkanya kemudian dipercaya masyarakat berkaitan dengan gemuruh Gunung Kelud.
Legenda itu juga melahirkan ungkapan yang hingga kini dikenal dalam cerita masyarakat sekitar.
“Blitar dadi latar, Kediri dadi kali, Tulungagung dadi Kedung.”
Pertunjukan tersebut sontak mendapat sambutan meriah. Tepuk tangan penonton pecah ketika adegan teater berakhir.
Salah satu dewan juri, Sutrino, mengakui penampilan tersebut menarik perhatian.
“Oh ya, itu bagus, tapi saya kan harus rapat dengan para juri lainnya,” ujarnya.
Di balik kemeriahan Exotic Karnival 2026, ada kerja panjang para pemuda Desa Sawentar.
Farid Fuadi, Koordinator Pemuda Desa Sawentar Bersatu sekaligus Ketua Panitia, mengatakan kegiatan tersebut terlaksana berkat dedikasi para pemuda dan dukungan masyarakat.
Menurutnya, festival bukan hanya bertujuan menghadirkan hiburan bagi warga. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Kami tanpa bantuan pemerintah desa, namun ini atas dedikasi para pemuda Desa Sawentar Bersatu. Tujuan kami membangkitkan perekonomian warga, sehingga ratusan pedagang turut andil dalam berjualan di sepanjang jalan parade festival,” ujar Farid.
Ia menyebut antusiasme masyarakat sangat tinggi. Sedikitnya 34 peserta ikut ambil bagian dalam festival tersebut.
Kemegahan parade juga semakin terasa dengan dukungan sejumlah sound system, di antaranya Diko Jaya Audio, Babe Audio, ABS Audio, Bandar Jagung Audio, serta puluhan truk sound horeg lainnya.
Farid berharap Exotic Karnival dapat kembali digelar tahun depan dengan kemasan yang lebih semarak.
“Semoga tahun depan lebih kompak dan semarak lagi, karena masyarakat butuh hiburan sekaligus ajang membangkitkan UMKM Desa Sawentar,” imbuhnya.
Malam akhirnya berlalu. Musik perlahan mereda, lampu-lampu panggung mulai padam, dan jalan Desa Sawentar kembali seperti semula.
Namun malam itu meninggalkan satu cerita: ketika kreativitas pemuda bertemu antusiasme warga, sebuah jalan desa pun bisa berubah menjadi panggung besar yang menghidupkan hiburan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.