Agustus 2026. Suasana sebuah kota di Indonesia bakal bergemuruh oleh ribuan kiai, santri, dan aktivis berkaos hijau yang datang dari penjuru nusantara. Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama akan digelar — dan di balik khidmat dan lantunan shalawat, ada pertarungan sunyi yang sesungguhnya: siapa yang akan menakhodai organisasi Islam terbesar di dunia untuk lima tahun ke depan?
Tiga nama paling santer terdengar. Tiga sosok, tiga karakter, tiga jalan yang berbeda. Dan masing-masing membawa pertanyaan besar yang belum terjawab.
Gus Yahya: Kapten yang Layar Kapalnya Pernah Robek
Kalau PBNU adalah kapal besar, Gus Yahya adalah kaptennya — yang sayangnya pernah hampir dilempar ke laut oleh awak kapal sendiri.
November 2025 bukan bulan yang manis bagi KH. Yahya Cholil Staquf. Syuriyah PBNU pimpinan Rais Aam KH. Miftachul Akhyar secara resmi mendesak dia mundur. Hak dan fasilitas Ketum dicabut. Gus Yahya — yang lahir dari keluarga kiai Rembang, cucu spiritual pesantren, alumni UGM dan HMI, tokoh yang masuk peringkat 19 Muslim paling berpengaruh di dunia — tiba-tiba seperti tamu yang kuncinya diganti tuan rumah.
Baca Juga:
KODE KERAS? Gus Ipul: Ketum PBNU Sebelum-sebelumnya Duduki Posisi Tertentu, Nah Prof Nasar Pernah Katib AamTapi ia tidak mundur. Dan justru di situlah kita mulai memahami siapa sebenarnya Gus Yahya.
"Saya mengemban mandat muktamar," begitu ia bergeming.
Rekonsiliasi akhirnya terjadi di Lirboyo, Kediri, akhir Desember 2025. Damai. Muktamar disepakati digelar bersama. Dan Gus Yahya dikembalikan ke kursinya. Drama yang harusnya jadi akhir, justru menjadi babak baru.
Kepemimpinan Gus Yahya bukan tanpa cacat — Cak Imin bahkan menyebutnya sebagai era "paling mundur" dalam sejarah PBNU. Kritik pedas yang tentu saja tidak lepas dari kepentingan politik.
Baca Juga:
Gus Ipul: Didesak Sekalipun, Saya Tidak akan Maju Calon Ketua Umum PBNUTapi juga bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk membuktikan, dan pertanyaannya kini adalah: apakah warga nahdliyin ingin memberi waktu lima tahun lagi?
Gus Yahya adalah sosok yang membangun jembatan ke dunia internasional dengan percaya diri — dialog lintas iman di Amerika, pengaruh diplomatik yang diakui dunia. Tapi kadang jembatan ke luar negeri terasa lebih kokoh daripada jembatan ke dalam negeri sendiri. Ke basis akar rumput. Ke kiai kampung. Ke santri yang mengurus mushola di ujung desa.
Pertanyaan untuk Gus Yahya bukan soal kapasitas — itu tidak diragukan. Pertanyaannya adalah: apakah ia masih punya energi dan legitimasi untuk meyakinkan 100 juta nahdliyin bahwa ia adalah pilihan terbaik, bukan sekadar pilihan yang tersisa?
Gus Yusuf: Santri Tegalrejo yang Tiba-tiba Jadi Buah Bibir
Di Magelang, ada pesantren tua yang harum namanya: API Tegalrejo. Dari sinilah KH. Muhammad Yusuf Chudlori — atau Gus Yusuf — berasal dan mengabdi. Putra pendiri pesantren, alumni Lirboyo, dan sosok yang selama ini lebih sering terdengar di kalangan pesantren daripada di koran-koran Jakarta.
Lalu tiba-tiba namanya meledak.
Apa yang membuat Gus Yusuf menarik? Bukan jabatannya yang gemerlap — ia bukan menteri, bukan rektor, bukan pejabat negara. Justru karena itu. Di tengah kontestasi yang diwarnai kepentingan birokrasi dan partai politik, Gus Yusuf datang sebagai anomali: ia pengasuh pesantren, titik. Santri tulen, tanpa embel-embel kekuasaan.
Dan gerakannya yang paling mengejutkan: ia mundur dari seluruh jabatan PKB — termasuk Ketua DPW PKB Jawa Tengah dan DPP PKB. Di saat banyak tokoh NU bermain di dua atau tiga papan catur sekaligus, Gus Yusuf memilih hanya satu papan.
Sinyal itu sangat keras. Dan warga NU yang sudah lelah melihat PBNU terseret-seret urusan partai membacanya dengan antusias.
Kita Muda Nahdliyin (KMN) menyebutnya "pemersatu." Bukan karena ia tak punya pendirian, tapi karena ia tidak terikat utang pada kubu mana pun. Ia bisa masuk ke semua pintu tanpa membawa beban kepentingan di punggungnya.
Usia yang lebih muda juga bukan sekadar bonus demografis. Ini soal energi, soal sinyal bahwa NU sedang bersiap untuk satu generasi ke depan, bukan sekadar mengulang siklus yang sudah ada.
Tapi ada satu hal yang wajar dipertanyakan: apakah memimpin PBNU — organisasi dengan kompleksitas yang luar biasa, jaringan global, dan kepentingan yang berlapis — cukup bermodal kejujuran dan akar pesantren saja? Pengalaman nasional di jajaran PBNU masih terbatas. Dan di dalam muktamar, para pemegang suara adalah orang-orang yang juga menghitung rekam jejak, bukan hanya kesucian niat.
Gus Yusuf adalah harapan yang menyala-nyala. Tapi harapan butuh bukti — dan ia belum punya banyak waktu untuk menunjukkannya.
Nasaruddin Umar: Imam Besar yang Berdiri di Persimpangan
Bayangkan seseorang yang pernah riset di McGill University, Kanada. Pernah studi di Leiden University, Belanda. Menulis lebih dari 12 buku. Menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal — masjid paling terkenal di Asia Tenggara. Menjabat Wakil Menteri Agama, lalu Menteri Agama. Dan sekarang namanya disebut-sebut sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Kalau ada "daftar CV terbaik" di antara tiga kandidat ini, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. kemungkinan besar menang telak.
Tapi PBNU bukan hanya tentang CV.
Nasaruddin lahir di Bone, Sulawesi Selatan — dan itulah yang membuat sebagian orang mengernyitkan dahi. Bukan karena soal geografis semata, tapi karena basis tradisional NU yang sangat kental dengan kultur Jawa: Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Selama hampir satu abad, kursi Ketum PBNU belum pernah benar-benar keluar dari gravitasi Jawa.
Ada yang menarik dari riwayat Nasaruddin: ia pernah menjabat Katib Aam PBNU di era KH. Sahal Mahfudh. Dan fakta ini bukan sekadar trivia — karena tiga Ketua Umum PBNU sebelumnya (Gus Dur, Said Aqil, Gus Yahya) semuanya melewati pos Katib Aam sebelum naik ke puncak. Tradisi tidak tertulis ini memberinya legitimasi historis yang tidak bisa diremehkan.
Sekjen PBNU Gus Ipul bahkan secara terbuka menyebutnya sebagai figur yang layak masuk bursa. Itu bukan endorsement kecil.
Tapi ada batu sandungan yang tidak kecil: ia saat ini masih menjabat Menteri Agama aktif dalam Kabinet Prabowo. Aturan PBNU selama ini tidak membolehkan Ketum merangkap jabatan menteri. Ada usulan untuk melonggarkan aturan ini — tapi melonggarkan aturan demi satu orang selalu membuka pertanyaan soal prinsip dan preseden.
Nasaruddin Umar adalah pilihan yang matang dan berwibawa. Tapi kematangan tidak selalu cukup jika akarnya tidak cukup dalam di tanah NU.
Lalu, Siapa yang Akan Menang?
Jujur saja: tidak ada yang tahu. Dan itulah yang membuat Muktamar ke-35 ini menarik.
Ini bukan pemilihan presiden dengan lembaga survei yang siap menghitung setiap desimal elektabilitas. Muktamar NU adalah arena yang lebih organik, lebih manusiawi, dan kadang lebih tak terduga. Keputusan bergerak melalui lobi di kamar hotel, obrolan setelah shalat jamaah, bisikan antar kiai di selasar pesantren.
Yang bisa kita baca adalah energi: Gus Yahya membawa pengalaman dan jaringan, tapi juga beban dari konflik internal yang melelahkan. Gus Yusuf membawa kesegaran dan ketulusan, jejaring pesantren yang kuat mengakar. Nasaruddin membawa wibawa dan rekam jejak birokrasi, tapi belum sepenuhnya punya jangkar di akar rumput NU.
Dan mungkin itulah pertanyaan terbesar yang harus dijawab oleh 100 juta nahdliyin melalui wakil-wakil mereka di muktamar:
NU butuh apa sekarang — pengalaman yang sudah teruji, kebaruan yang menyegarkan, atau kewibawaan yang melampaui batas?
Agustus 2026. Kita tunggu jawabannya.
*) Ponirin Mika merupakan Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research, Probolinggo
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)