KETIK, TRENGGALEK – Komisi IV DPRD Kabupaten Trenggalek menyoroti kondisi dua mushola di puskesmas yang dinilai sudah tidak layak.
Catatan tersebut disampaikan dalam rapat kerja pembahasan Rancangan APBD Tahun Anggaran 2027 bersama organisasi perangkat daerah (OPD) mitra di Graha Paripurna DPRD Kabupaten Trenggalek, Senin, 19 Oktober 2026.
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Trenggalek, Sukarodin, mengatakan evaluasi terhadap Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) perlu mencakup sarana dan prasarana pelayanan kesehatan, termasuk fasilitas ibadah di puskesmas.
“Untuk Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) kita evaluasi ulang untuk sarana dan prasarana. Ada dua Puskesmas yang musholanya sudah tidak layak,” kata Sukarodin.
Menurutnya, fasilitas ibadah juga perlu mendapat perhatian karena pasien tidak hanya menjalani upaya penyembuhan secara medis, tetapi juga berdoa kepada Allah SWT agar diberi kesembuhan.
Baca Juga:
Komisi II DPRD Trenggalek Harap Pemkab Tinjau Ulang Suntikan Dana Pinjaman Rp5 M untuk Guwo LowoSelain perbaikan sarana dan prasarana, Komisi IV juga mendorong peningkatan target pendapatan Dinkes PPKB dalam rancangan APBD 2027.
Sukarodin menilai kenaikan pendapatan cukup beralasan karena pemenuhan sarana dan prasarana telah dilakukan, sementara jumlah masyarakat yang berobat juga meningkat.
“Bertambahnya jumlah orang berobat tentu saja ini bisa jadi daya ungkit untuk menambah pundi-pundi pendapatan,” ujarnya.
Politisi senior Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Trenggalek itu juga menyampaikan sejumlah catatan untuk RSUD dr. Soedomo.
Baca Juga:
DPRD Trenggalek: Anggaran hingga Rp6 Miliar Disiapkan Hadapi Krisis Air BersihSalah satunya terkait pembagian pekerjaan antara dokter senior dan dokter junior agar lebih seimbang.
Ia menilai dokter junior perlu mendapat kesempatan yang sama untuk menjalankan tugas dan mengembangkan kemampuan, sehingga dapat meningkatkan semangat dalam bekerja.
Selain itu, Sukarodin mendorong RSUD dr. Soedomo menentukan fokus layanan kesehatan yang menjadi keunggulan rumah sakit.
Menurutnya, rumah sakit perlu memiliki ciri khas pelayanan agar masyarakat mengetahui bidang layanan yang menjadi andalan.
“Kemudian rumah sakit kita itu butuh konsentrasi agar mempunyai ciri khas dan unggulan pelayanan kesehatan. Misal di Solo terkenal dengan ortopedi/tulang. Nah RSUD Trenggalek mau dibawa ke mana?” tandasnya.
Sementara itu, dalam pembahasan bersama Dinas Pendidikan, Komisi IV menaruh perhatian pada pengembangan sekolah tematik.
Konsep tersebut dinilai dapat membantu peserta didik mengembangkan kemampuan sesuai bakat dan minat masing-masing.
Sukarodin mencontohkan SMP Negeri 6 Trenggalek untuk pengembangan bakat olahraga, SMP Negeri 3 Karangan dan SMP Negeri 2 Pogalan untuk siswa yang memiliki kemampuan menghafal Al-Qur'an, serta SMP Negeri 4 Trenggalek untuk bidang budaya.
“Kalau memang berkonsentrasi untuk urusan olahraga ya di SMP 6 Negeri Trenggalek. Kalau punya bakat hafalan Al-Qur'an bisa di SMP 3 Negeri Karangan dan SMP 2 Negeri Pogalan. Sedangkan untuk soal budaya di SMP 4 Negeri Trenggalek,” ungkapnya.(*)