KETIK, MALANG – Pemandangan berbeda tampak di antara deru mesin dan lalu lalang kendaraan di Jalan Soekarno-Hatta (Suhat), Kota Malang, Selasa, 21 April 2026. Sosok Sukarni (55) berhasil mencuri perhatian pengguna jalan dengan balutan kebaya yang anggun dalam rangka memperingati Hari Kartini.

Ia telah mendedikasikan hidupnya selama 15 tahun sebagai Supeltas (Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas) di jalur tersibuk tersebut. Sejak pukul 06.00 WIB, ia sudah memulai tugasnya dengan kebaya merah hasil jahitan tangannya sendiri.

Melalui Sukarni, pengendara ditunjukkan bahwa berkebaya bukan hanya rangkaian seremonial di momen Hari Kartini. Berkebaya menjadi bukti bahwa perempuan memiliki pendirian teguh dan mampu bertahan di pekerjaan yang didominasi kaum laki-laki. 

"Hari Kartini ini luar biasa bagi saya sebagai kaum perempuan. Kaum perempuan harus berpendirian teguh, kuat segalanya, dan kita untuk maju ke depannya sesuai dengan apa yang diharapkan kaum perempuan Indonesia," tegas Sukarni.

Baca Juga:
Langkah Sederhana Menjadi Kartini Masa Kini yang Berkarya dan Mandiri

Meskipun mengenakan kebaya lengkap dengan riasan dan sepatu hak tinggi, Sukarni tetap lincah mengatur kelancaran lalu lintas di pertigaan Jalan Suhat itu. Kelihaiannya membuat tertegun hingga Sukarni mendapatkan rangkaian bunga dari salah satu pengguna jalan. 

Rupanya, bertugas dengan kebaya telah menjadi rutinitas tahunan Sukarni sejak masa pandemi Covid-19. Awalnya, ia kerap menjadi bahan tertawaan orang-orang di sekitarnya. Namun, ia tak ambil pusing dan memilih menunjukkan bahwa perempuan berhak bekerja dan berekspresi sesuai keyakinannya.

"Saya menjadi Supeltas karena hati nurani terketuk melihat kemacetan di Kota Malang kok luar biasa. Saya kan bertugas jam 05.45 sampai 10.00 WIB dan macetnya 06.30 sampai 07.30, jam 08.00 itu kadang masih macet juga," katanya. 

Selama menjadi Supeltas resmi, Sukarni mendapatkan pelatihan khusus setiap bulan dari Polresta Malang Kota. Ia mendapatkan wawasan dalam mengatur arus lalu lintas, hingga arahan untuk memberikan salam, senyum, sapa, sopan, dan santun kepada pengguna jalan. 

Baca Juga:
Hari Kartini 2026, Gubernur Khofifah Ajak Gerakan Bersama Tekan Angka Kematian Ibu

Pekerjaannya itu bukan tanpa hambatan. Menjadi Supeltas juga menuntutnya untuk selalu sabar menghadapi tingkah laku manusia di jalanan. 

"Di jalan itu baru ketahuan orang itu taat sama tidak taat. Kadang orang kaya seenaknya saja tuh banyak aja. Tapi buat tantangan ya apa pun harus kita bisa mengatasi," terang warga Jalan Mawar Gang I itu. 

Selama bertugas, Sukarni sudah lima kali menyaksikan kecelakaan di jalan. Terlebih ketika area putar balik di kawasan tersebut belum ditutup, ia harus sabar menghadapi kondisi salah satu jalan paling padat di Kota Malang itu. 

"Terus masalah orang ramai itu pasti hanya karena kesenggol. Saya juga berterima kasih banget sama pihak keamanan, terutama Dishub, Kepolisian. Saya juga minta tolong pengguna jalan yang sabar ketika berkendara," pungkasnya. (*)