KETIK, MALANG – King's College London (KCL) Singhasari Malang resmi membuka dua program studi baru tingkat Magister (S2), yakni Digital Law dan Advance Cyber Security, Jumat, 2 Oktober 2026.

Prodi ini dirancang untuk menjawab tantangan dan kebutuhan yang kian kompleks terhadap penguatan keamanan siber serta regulasi hukum digital. 

University Rector for Indonesia and Southeast Asia KCL, Prof. Simon Tenner mengatakan, kedua prodi baru tersebut ditargetkan menyambut mahasiswa pertamanya pada September 2027 mendatang. Dengan kehadiran dua prodi ini, maka melengkapi program studi yang telah berjalan sebelumnya yaitu Digital Economies dan Digital Futures. 

"Hari ini, kami meluncurkan dua program magister baru bagi mahasiswa yang akan bergabung bersama kami pada September 2027 mendatang," jelasnya kepada wartawan, Jumat, 2 Oktober 2026.

Ia juga menyampaikan, pembukaan dua prodi baru tersebut merupakan bagian dari kolaborasi KCL dengan berbagai pihak di Indonesia. Sekaligus, untuk menjawab kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompetitif dan kompeten di bidang siber yang terus berkembang. 

Baca Juga:
Gubernur Khofifah Pastikan Dua Prodi Baru KCL Singhasari Dimulai September 2027

"Sebagai salah satu dari 50 perguruan tinggi terbaik di dunia, sangat bangga bisa hadir untuk meluncurkan prodi baru tersebut. Kami juga sangat terhormat, karena Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa sangat mendukung dan membantu kami meluncurkan program-program yang sangat penting bagi kemajuan Indonesia," terangnya. 

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa (tengah) saat berfoto bersama dengan University Rector for Indonesia and Southeast Asia KCL, Prof. Simon Tenner (kiri) dan jajaran KCL Singhasari Malang dalam peluncuran dan pembukaan dua prodi baru yaitu Digital Law dan Advance Cyber Security, Jumat, 2 Oktober 2026. (Foto: Kukuh/Ketik.com).

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyampaikan, kehadiran KCL di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari Malang untuk menjawab pemenuhan kebutuhan SDM baik di lingkungan pemerintah maupun sektor swasta. 

Sebelumnya, di KCL terdapat prodi Digital Futures dan Digital Economies yang disiapkan untuk kebutuhan transformasi digital Indonesia. Kini, hal itu semakin berkembang pada aspek hukum digital dan keamanan siber. 

Baca Juga:
Unisma dan King's College London Buka Peluang Penguatan Kualitas Akademik

Khofifah pun menegaskan, penguatan terhadap keamanan siber nasional menjadi salah satu alasan penting dibukanya prodi Advance Cyber Security tersebut. Ia pun mengutip data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), bahwa Indonesia mengalami miliaran serangan siber. 

"BSSN telah menyampaikan, bahwa Indonesia menerima serangan siber sebanyak 5,5 miliar kali di tahun 2025. Dan di tahun 2026 mulai Januari sampai Apri, sudah sekitar 1,42 miliar kali serangan siber. Ini artinya, kita harus memproteksi diri kita dan keamanan semuanya, baik secara nasional maupun sektor-sektor swasta lainnya termasuk perbankan," bebernya. 

Ia mengaku, telah menyampaikan rencana pembukaan prodi Advance Cyber Security kepada sejumlah pihak. Termasuk kepada Kapolri yang saat itu dijabat oleh Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria. 

Sedangkan untuk prodi Digital Law, juga telah dikomunikasikan dan disampaikan oleh Khofifah ke Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Dua prodi ini memang yang kita butuhkan skill dan kemampuan, untuk bisa memproteksi baik keamanan nasional secara keseluruhan maupun data-data terutama data perbankan," tambahnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menambahkan meski kampusnya berada di Singosari Kabupaten Malang, namun kebutuhan terhadap lulusan di bidang hukum digital dan keamanan siber diperuntukkan bagi kepentingan yang jauh lebih luas. 

"Kampusnya saja di Singosari, Kabupaten Malang. Tetapi sebetulnya, ini kebutuhan bangsa dan negara Indonesia," tandasnya.(*)