KETIK, MALANG – Munculnya spanduk bernada provokatif yang menyudutkan gerakan mahasiswa dalam Aksi Damai Dukung Makan Bergizi Gratis (MBG) di Alun-Alun Tugu, Sabtu, 20 Juni 2026, direspons dengan kepala dingin oleh kalangan aktivis. Mahasiswa memilih fokus menyuarakan perdamaian guna menghindari risiko benturan horizontal.
Khawatir masyarakat akan diadu domba oleh narasi-narasi ofensif di lapangan, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (BEM UMM), Wahyuddin Fahrurrijal, angkat bicara. Wahyu yang juga tergabung dalam Aliansi BEM Malang Raya ini meminta semua pihak, baik yang pro maupun kontra terhadap kebijakan pemerintah, untuk menahan diri.
"Kami berpandangan bahwa aksi yang juga dilaksanakan hari ini dengan tujuan mendukung penuh Program Strategis Nasional yaitu Makan Bergizi Gratis tentu adalah hal yang sah secara iklim demokrasi warga negara," ujar Wahyu saat dikonfirmasi.
Menurut Wahyu, dalam iklim demokrasi, kebebasan berekspresi adalah hak mutlak setiap warga negara. Namun, ia menyayangkan jika momentum dukungan terhadap program bentukan Presiden Prabowo Subianto tersebut dikotori oleh spanduk bertuliskan "Usir Mahasewa yang Mengaku Mahasiswa dari Bumi Arema" yang terpajang di pagar Gedung DPRD Kota Malang.
Bagi BEM UMM, narasi pelesetan "Mahasewa" tersebut sangat kental akan muatan provokasi yang sengaja digulirkan untuk memancing amarah publik dan mengerdilkan fungsi kontrol mahasiswa.
Baca Juga:
Tidar Hotel & Cottage Malang Gelar Wedding Showcase 2026, Hadirkan Vendor Pernikahan Lengkap"Apalagi ketika aksi yang dilakukan untuk mendukung program pemerintah ini disertai dengan narasi-narasi provokatif yang bisa memancing kontroversi dan amarah publik. Karena kami rasa, aksi-aksi yang kami lakukan kemarin sangat menjaga pesan-pesan intelektual dan sangat menghindari muatan-muatan provokatif karena kami tidak ingin menciptakan konflik di tengah masyarakat," tegas Wahyu.
Ia meluruskan bahwa rangkaian aksi demonstrasi mahasiswa beberapa hari lalu murni merupakan kritik konstruktif agar program bernilai Rp82 triliun tersebut berjalan lebih efektif dan tepat sasaran. Gerakan itu diklaim bebas dari kepentingan politik praktis maupun niat memecah belah warga Arema.
Oleh karena itu, alih-alih membalas provokasi tersebut dengan ketegangan baru, Wahyu justru mengeluarkan seruan damai demi menjaga kondusifitas Kota Malang.
"Bagi kami, sangat menghindari konflik horizontal, mahasiswa vs masyarakat misalnya, karena kami yakini bahwa tujuan kami bukan untuk memecah belah rakyat, tetapi berpegang teguh pada prinsip-prinsip perjuangan untuk masyarakat. Kami memohon semua pihak, baik yang pro maupun yang kontra, terhadap seluruh kebijakan pemerintah hari ini, bisa lebih tenang dan jernih dalam mengambil atau melakukan setiap tindakan, sehingga menghindari hal-hal yang bisa mengadu domba masyarakat," pungkasnya. (*)