KETIK, SIDOARJO – Namanya Sodiqin. Tapi, lelaki 76 tahun itu lebih populer dengan sebutan Dewi. Orang-orang di Dusun Kedungturi, Desa Janti, Kecamatan Tulangan, mengenal Dewi, eh Sodiqin, sebagai artis ludruk yang kondang. Kini, Sodiqin hidup sendirian. Tanpa harta, tak punya keluarga. Sebarangkara.

”Dulu waktu punya rumah dan tanah. Kena gendam orang habis semua,” ungkap beberapa tetangga kepada Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori yang bersama istrinya, Yuniar Safitri, menyambangi Sodiqin pada Rabu pagi (12 Agustus 2026).

Kepada Dhamroni, Sodiqin membenarkan bila dirinya dulu dikenal dengan nama Dewi. Panggilan tersebut merupakan nama peran saat dirinya tampil di panggung sebagai seniman ludruk.

”Saya dulu memang main peran perempuan,” ucapnya kalem.

Sampai saat ini, Sodiqin tidak pernah sambat kepada siapa pun. Berkat orang-orang baik yang bertetangga dengannya, kondisi lelaki kelahiran Jombang, 19 Maret 1950, itu sampai ke telinga Dhamroni dan Safitri. Suami-istri asal Desa Kepadangan, Tulangan, Sidoarjo, itu segera mengulurkan tangan. Sodiqin dibantu.

Baca Juga:
Di Sidoarjo, Pemkab dan DPRD Main Bola Bareng; Ada Selebrasi Siuuuu ala Ronaldo

”Kasihan, Pak. Hidupnya sebatangkara. Tidak punya keluarga. Tinggalnya di dekat kebun pisang,” ungkap seorang relawan sosial Kecamatan Tulangan.

Rabu pagi itu, dia didatangi banyak tamu baik hati. Ada Camat Tulangan Andi Sulistiono, Kades Janti Joko Santosa, Ketua RT 02/RW 03 Misnan, relawan sosial, kesehatan, maupun orang-orang yang peduli.

Yuniar Safitri, pengusaha peduli yang juga istri Dhamroni Chudlori berbincang dengan Sodiqin. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

Sodiqin terkejut. Dia duduk di dipan kayu. Lantai rumahnya masih tanah. Dinding rumah dari bambu. Sempit pula. Celana dan bajunya pun sudah lusuh. Pandangan kosong. Wajahnya seakan cermin dari kekalahan pada keadaan. Seorang lansia sebatangkara yang sudah tidak berdaya.

Baca Juga:
DPRD Sidoarjo Dukung Penuh Sidak Bupati Subandi Berantas Peredaran Miras

Menurut informasi, Sodiqin tidak dapat bantuan sosial dari pemerintah. Satu-satunya yang pernah dia terima hanyalah bantuan langsung tunai dari dana desa (BLT DD). Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) juga tidak mamsukkan nama Sodiqin sebagai warga miskin.

Padahal, dia tidak punya penghasilan. Tidak memiliki tempat tinggal. Gubuk yang ditempati merupakan belas kasihan Pak RT Misnan. Untuk kebutuhan makan, beberapa tetangga mengirimnya bergantian setiap hari. Sudah sekitar 7 tahun fakta itu terjadi.

”Saya sebagai ketua Komisi D DPRD Sidoarjo merasa berdosa kalau tidak tahu ada warga kita yang kondisinya seperti ini dan tidak dapat bantuan,” ungkap Dhamroni Chudlori.

Anggota DPRD Sidoarjo asal Tulangan itu segera menelepon ke berbagai pihak yang seharusnya turun tangan membantu Sodiqin. Dari layanan sosial, kesehatan, dan lain-lainnya. Untunglah Sodiqin ternyata masih punya kartu BPJS Kesehatan. Sakit lambung yang dideritanya bisa diperiksakan secara rutin ke puskesmas. Gratis.

”Saya mintakan bantuan permakanan untuk setiap hari,” tambah Dhamroni Chudlori yang juga mantan  ketua Komisi A DPRD Sidoarjo tersebut.

Informasi yang dia terima, Sodiqin pernah punya dua anak angkat. Namun, entah sekarang di mana mereka. Yang pasti, di kartu keluarga (KK), cuma tertulis satu nama: Sodiqin. Karena itu, dikhawatirkan, tidak ada lagi yang akan membantu lansia itu di masa tuanya.

”Nanti kita upayakan juga bagaimana rumah bambu ini bisa diperbaiki,” tambah Dhamroni Chudlori.

Selama tamu-tamunya datang berkunjung, Sodiqin lebih banyak diam. Beberapa tamu sempat memintanya untuk parikan atau ngeremo. Namun, dia selalu menolak dengan halus.

Mboten. Mpun lupa,” jawabnya singkat kepada legislator DPRD Sidoarjo dari PKB itu.

Dhamroni Chudlori pun membantu Sodiqin secara pribadi. Begitu pula Yuniar Safitri yang menyertai suaminya mengunjungi warga tidak mampu tersebut.

Camat Tulangan Andi Sulistiono, Dhamroni Chudlori, dan Misnan berbicara dengan Sodiqin tentang kondisinya selama ini. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

Kepada para relawan sosial di wilayah Tulangan, Dhamroni Chudlori meminta mereka lebih tanggap. Nasib yang dialami Sodiqin ini seharusnya tidak terjadi. Tidak boleh ada orang lain yang mengalaminya. Kalau ada warga yang tidak mampu, lebih-lebih sebatangkara, segera laporkan ke Dinas Sosial Sidoarjo.

”Jangan sampai bertahun-tahun tak terdeteksi seperti Pak Sodiqin ini,” tegasnya.

Bagaimana bila DTSEN mereka tidak termasuk kategori miskin? Dhamroni Chudlori yang juga ketua Fraksi PKB DPRD Sidoarjo itu dengan tegas menyatakan, jangan berpatokan pada aturan formal semata. Yang harus diutamakan adalah kemanusiaan.

Bagaimana kalau tenaga sosial sudah melapor tapi belum juga ada tindakan?

”Lapor ke saya. Jangan takut. Kalau kondisinya sangat butuh bantua, harus segera ditolong. Kemanusiaan jauh lebih utama daripada aturan,” tandas Dhamroni Chudlori. (*)