KETIK, JEMBER – Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember) kembali mencatatkan prestasi akademik dengan bertambahnya dosen bergelar doktor. Dr.Eng. Danang Kumara Hadi, S.TP., M.T., yang mengajar di Program Studi Teknologi Industri Pertanian, sukses menyelesaikan studi doktoralnya di Ibaraki University, Jepang.
Dalam disertasinya yang berjudul "UHF RFID-Based Sensing and Indoor Localization", Danang mengembangkan inovasi teknologi yang relevan dengan kebutuhan Internet of Things (IoT) dan pertanian modern. Ia menghadirkan sistem berbasis Ultra-High Frequency Radio Frequency Identification (UHF RFID) yang mampu menggabungkan fungsi sensor dan pelacakan lokasi dalam satu perangkat.
"Inovasi ini menjadi terobosan karena teknologi RFID konvensional umumnya hanya digunakan untuk identifikasi objek. Selain itu, sistem lama biasanya memerlukan perangkat tambahan dengan sumber daya baterai untuk menjalankan fungsi sensor," ujar Danang dalam keterangannya kepada Ketik.com, Kamis, 16 April 2026.
Melalui penelitiannya, Danang berhasil menciptakan perangkat yang mampu melacak posisi sekaligus mendeteksi suhu dan kelembapan lingkungan tanpa menggunakan baterai. Sistem tersebut bekerja dengan memanfaatkan energi dari gelombang radio, sehingga lebih efisien, praktis, dan minim perawatan.
Baca Juga:
FIA UB Perluas Program Double Degree, Mahasiswa Berpeluang Jalani Studi di Jepang hingga Australia"Keunggulan teknologi ini terletak pada kemampuannya menghadirkan solusi terintegrasi yang hemat energi. Dengan tidak adanya kebutuhan penggantian baterai, perangkat ini dinilai lebih cocok untuk penggunaan jangka panjang di berbagai sektor, terutama yang membutuhkan monitoring berkelanjutan," ujarnya.
Danang memilih menempuh pendidikan doktoral di Ibaraki University karena lingkungan riset yang kuat, disiplin tinggi, serta dukungan fasilitas laboratorium yang fokus pada pengembangan antena dan sensor nirkabel. Meski demikian, ia mengakui perjalanan akademiknya penuh tantangan.
Ia harus beradaptasi dengan budaya baru sekaligus menghadapi standar akademik yang ketat. Berbagai kendala teknis, mulai dari desain antena yang kurang optimal hingga hasil eksperimen yang tidak konsisten, sempat menjadi hambatan dalam proses penelitiannya.
Namun, dari berbagai kegagalan tersebut, Danang justru memperoleh banyak pelajaran. "Saya terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan metodologi hingga akhirnya berhasil mempublikasikan hasil risetnya di jurnal internasional bereputasi Q1, IEEE Access," paparnya.
Baca Juga:
Ekoteologi dan Amanah Kekhalifahan, Raja Juli: Jaga Hutan Bagian dari IbadahIa menilai konsistensi, rasa ingin tahu yang tinggi, serta kemampuan bangkit dari kegagalan menjadi faktor utama dalam menyelesaikan studi doktoralnya.
Sebagai akademisi di bidang Teknologi Industri Pertanian, Danang menargetkan inovasinya dapat diterapkan secara langsung di sektor riil. Ia melihat peluang besar pemanfaatan teknologi ini pada sistem pergudangan pintar (smart warehouse) dan pertanian cerdas (smart agriculture).
Di daerah berbasis agrikultur seperti Jember, teknologi ini dinilai sangat potensial. Sensor RFID tanpa baterai dapat digunakan di greenhouse atau fasilitas pertanian tertutup untuk memantau suhu dan kelembapan secara real-time.
Selain itu, pada sektor pascapanen, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk melacak posisi produk pertanian di gudang logistik sekaligus menjaga kualitas produk dalam sistem rantai dingin (cold chain).
Danang menilai implementasi teknologi ini dapat dimulai melalui proyek percontohan di lingkungan kampus atau melalui kolaborasi dengan pelaku industri lokal. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi untuk membangun sistem rantai pasok yang lebih transparan dan efisien.
Ke depan, ia berkomitmen mengintegrasikan hasil risetnya ke dalam pelaksanaan Catur Dharma Perguruan Tinggi di Unmuh Jember. Ia juga berencana memperluas jejaring kolaborasi riset dengan berbagai institusi, baik di dalam maupun luar negeri.
Ia turut menyampaikan pesan kepada mahasiswa, khususnya di bidang teknologi dan pertanian, bahwa perkembangan sektor agrikultur saat ini tidak bisa dilepaskan dari kemajuan teknologi.
Menurutnya, konsep seperti smart farming, IoT, dan analitik data kini telah menjadi kebutuhan nyata. Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi yang berdampak langsung bagi kemajuan pertanian di Indonesia. (*)