KETIK, CILACAP – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Cilacap memprediksi musim kemarau 2026 di Cilacap akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi sekitar bulan Agustus.
Forecaster BMKG Cilacap, Adnan Dendi Mardika menerangkan bahwa awal musim kemarau di wilayah Cilacap diprediksi akan mulai pada Dasarian II Mei (Pertengahan Mei).
"Secara umum, kemarau akan berlangsung selama 18 dasarian. Namun, untuk wilayah Cilacap bagian selatan dan Nusakambangan durasinya sekitar 14 dasarian, sementara wilayah timur sekitar 16 dasarian,” ujar Adnan, Jumat 8 Mei 2026.
Adnan menjelaskan kemarau tahun ini memiliki sifat di bawah normal. Artinya, curah hujan akan berkurang setidaknya 15% dibandingkan nilai rata-rata periode 1991-2020. Hal ini menyebabkan kondisi lingkungan menjadi jauh lebih kering dari biasanya.
Meskipun udara terasa panas dengan suhu berkisar antara 32°C hingga 33°C, Adnan menyebut masyarakat terkadang akan merasakan hembusan angin sejuk. Fenomena ini dipicu oleh angin timuran yang membawa massa udara dingin dari wilayah Australia.
Baca Juga:
Silaturahmi Anggota DPR RI Kaisar Kiasa di Adipala, Prioritaskan Usulan UMKM“Puncak dinginnya biasanya terjadi di bulan September bersamaan dengan fenomena embun upas. Namun, dinamika ini tidak selalu terjadi sepanjang musim, jadi masyarakat harus tetap waspada,” imbuhnya.
Menghadapi kondisi yang lebih kering ini, BMKG mengimbau masyarakat waspada terhadap risiko kekeringan, krisis air bersih dan potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
“Penurunan suplai air bersih dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Kalau dipertanian, harus pintar memlilih varietas tanaman yang memiliki siklus panen pendek atau lebih tahan terhadap kondisi kering guna menghindari penurunan produksi," bebernya.
"Selanjutnya, masyarakat harus berhati-hati dalam mengelola sampah dan lahan, terutama aktivitas pembakaran, karena kondisi yang kering membuat api lebih cepat merambat," jelas Adnan.
Baca Juga:
Anggota DPR RI Novita Wijayanti Sapa dan Serap Aspirasi Warga Sampang CilacapSelain dampak di darat, sektor kelautan juga mengalami tantangan besar. Angin timuran yang kuat berpotensi memicu gelombang tinggi di perairan Selatan Jawa, termasuk Cilacap.
“Gelombang kategori tinggi antara 2,5 hingga 4 meter akan sering terjadi, bahkan bisa mencapai kategori sangat tinggi yakni 4 hingga 6 meter di wilayah samudra,” ungkap Adnan.
Kondisi ini tidak hanya membahayakan nelayan kecil, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya banjir rob di wilayah pesisir, seperti Pantai Sodong.
BMKG berkomitmen untuk terus memperbarui informasi cuaca dan peringatan dini gelombang tinggi setiap harinya guna meminimalisir risiko bagi masyarakat pesisir.
BMKG menekankan pentingnya persiapan dini menghadapi kemarau panjang dengan mendorong penguatan mitigasi lintas sektoral khususnya pengelolaan sumber daya air. Masyarakat diharapkan bisa menghemat air serta mengambil langkah antisipatif terhadap resiko kekeringan. (*)