KETIK, YOGYAKARTA – Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) Tirtatama DIY memasang kuda-kuda kokoh menghadapi ancaman kemarau panjang tahun ini.

Meski Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan melandai secara signifikan di bawah rata-rata normal sepanjang 2026, otoritas air bersih milik pemerintah provinsi ini memastikan pasokan untuk wilayah aglomerasi tetap terjaga di level aman.

Direktur Utama PDAB Tirtatama DIY, Teddy Kustriyanto Widodo, menyatakan bahwa hingga pengujung April 2026, kondisi debit air baku di hulu masih menunjukkan tren yang cukup memuaskan.

Sungai Progo, yang selama ini menjadi urat nadi utama pasokan air bagi wilayah Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta, dilaporkan belum mengalami penyusutan debit yang mengkhawatirkan.

"Evaluasi komprehensif kami hingga Triwulan I 2026 menunjukkan performa sumber air utama masih berada dalam kondisi baik. Secara statistik, belum ada tren penurunan debit yang signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu," ujar Teddy pada Ketik.com, Kamis, 30 April 2026.

"Namun, kami tetap waspada karena puncak kemarau diprediksi akan lebih kering dari biasanya, yang menuntut kesiapsiagaan infrastruktur secara penuh," tegasnya.

Mitigasi Kualitas dan Presisi Teknis

Tantangan musim kemarau bukan sekadar soal kuantitas atau volume air yang tersedia, melainkan juga risiko degradasi kualitas air baku yang masuk ke sistem. Saat debit sungai mengecil, konsentrasi sedimen halus dan kontaminan kimiawi biasanya mengalami peningkatan akibat rendahnya daya pengenceran alami sungai.

Baca Juga:
Intip Perencanaan Sumber Daya Air (SDA) Sleman Tahun N+1: Fokus Rehabilitasi Irigasi dan Embung

Menanggapi potensi risiko ini, Teddy menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan protokol operasional adaptif yang jauh lebih presisi pada tiap Instalasi Pengolahan Air (IPA). Sistem pengolahan air PDAB kini menerapkan penyesuaian dosis bahan kimia secara berkala berdasarkan hasil uji laboratorium lapangan yang dilakukan secara real-time.

"Jika pada musim penghujan kita fokus pada penggunaan koagulan untuk menekan kekeruhan akibat lumpur, maka di musim kemarau ini, saat kontaminan mikroba meningkat, kami memperkuat dosis disinfektan," tuturnya.

Langkah teknis ini diambil demi menjamin air yang dialirkan melalui pipa-pipa distribusi tetap memenuhi standar sanitasi ketat dan aman dikonsumsi oleh masyarakat luas, meskipun kualitas air baku di sumbernya sedang fluktuatif.

Pemandangan udara Instalasi Pengolahan Air (IPA) PDAB Tirtatama DIY di Bantar yang terletak di tepi Sungai Progo. Fasilitas ini menjadi tumpuan utama dalam mengolah air baku menjadi air bersih untuk disuplai ke pelanggan PDAM Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta. (Foto: Lik Is/Ketik.com)

Di sisi infrastruktur fisik, PDAB Tirtatama memfokuskan perhatian pada pengawasan ketat Jaringan Distribusi Utama (JDU). Mengingat peran strategis mereka sebagai penyedia air curah bagi PDAM di tingkat kabupaten/kota melalui skema offtaker, stabilitas tekanan di jaringan utama menjadi harga mati.

Teddy menjamin tim reaksi cepat disiagakan selama 24 jam untuk menangani potensi Non-Revenue Water (NRW) atau kehilangan air akibat pipa bocor yang kerap terjadi akibat pergeseran tanah saat musim panas.

"Kami berkomitmen, jika terdeteksi kebocoran, proses mitigasi dan perbaikan diupayakan rampung dalam waktu maksimal satu hari agar layanan kembali normal," tegasnya.

Baca Juga:
Sowan ke Sri Sultan HB X, Danrem 072/Pamungkas Bicara Ketahanan Nasional dan Budaya Yogyakarta

Keseimbangan Neraca Air dan Sinergi Lintas Sektoral

Strategi besar lainnya dalam menghadapi kemarau 2026 adalah manajemen cadangan melalui reservoir raksasa di setiap titik offtaker. Infrastruktur ini menjadi sangat krusial untuk mengompensasi beban puncak pemakaian air pada siang hari, serta mengantisipasi lonjakan permintaan dari sektor pariwisata dan perhotelan yang terus tumbuh pesat di Yogyakarta.

PDAB mencatat bahwa aktivitas ekonomi yang kembali pulih membutuhkan suplai air yang tidak hanya besar secara volume, tapi juga stabil secara tekanan guna mendukung operasional industri jasa.

Namun, Teddy menekankan bahwa manajemen air tidak bisa dilakukan secara parsial oleh satu lembaga saja. Sinergi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak menjadi instrumen politik-teknis yang vital dalam mengatur pola operasional pintu air, terutama dalam membagi alokasi antara kebutuhan domestik perkotaan dengan kebutuhan irigasi pertanian di wilayah Selokan Mataram dan daerah aliran Sungai Progo.

"Kami terus menjalin komunikasi intensif dengan petugas pintu air di bawah wewenang BBWSO. Jika debit mulai menyentuh ambang batas kritis, kami akan segera menyesuaikan produksi berdasarkan neraca keseimbangan air yang tersedia," katanya.

"Prinsip kami adalah memastikan tidak ada sektor yang dikorbankan secara ekstrem, sehingga kebutuhan konsumsi warga dan kebutuhan lahan pertanian tetap bisa terakomodasi secara proporsional," jelas Teddy lebih lanjut.

Layanan Krisis dan Kesadaran Publik

Sebagai benteng terakhir dalam manajemen krisis, PDAB Tirtatama juga telah menyiagakan armada tangki air sebagai penyangga utama jika terjadi kegagalan sistem distribusi yang bersifat darurat atau kerusakan teknis yang tidak terduga.

Saat ini, koordinasi dengan PDAM Sleman, PDAM Bantul, dan Kota Yogyakarta diperkuat melalui kanal komunikasi digital yang transparan untuk meminimalkan keresahan publik. Masyarakat dapat memantau kondisi distribusi dan potensi gangguan layanan secara terkini melalui akun Instagram resmi maupun situs web perusahaan.

Di akhir penjelasannya, Teddy menitipkan pesan mendalam bagi warga agar tidak abai terhadap pola konsumsi air harian.

"Budaya hemat air harus menjadi gaya hidup, bukan sekadar respons saat krisis melanda. Menyiapkan cadangan air mandiri di rumah dan mulai membiasakan penggunaan air secara bijak, seperti memanfaatkan air sisa cucian untuk menyiram tanaman atau keperluan non-konsumsi lainnya, akan sangat membantu menjaga ketahanan air kita di masa depan," pungkasnya. (*)