KETIK, SURABAYA – Di balik tubuhnya yang kecil dan gerakannya yang lambat, kuda laut memegang peran yang sangat besar bagi kelautan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa satwa unik ini merupakan salah satu indikator alami terbaik untuk mengukur kesehatan ekosistem laut, khususnya di wilayah pesisir.
Keberadaan kuda laut di suatu perairan menjadi tanda bahwa lingkungan di sekitarnya masih berada dalam kondisi prima. Seperti, padang lamun, hutan bakau, dan terumbu karang
Kepala Pusat Riset Sistem Biodata BRIN, Decky Indrawan Junaedi, menjelaskan bahwa karakter kuda laut yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan membuat mereka menjadi "alarm" alami bagi ekosistem. Jika populasi kuda laut di suatu wilayah menyusut, hal itu menjadi indikator kuat adanya degradasi atau kerusakan lingkungan pesisir.
"Dengan kita mengobservasi dan melindungi kuda laut agar tidak punah, sebenarnya secara tidak langsung kita sedang menjaga seluruh lingkungan laut di sekitarnya. Termasuk memastikan ikan-ikan lain tetap bisa berkembang biak dengan baik," ujar Decky di laman resmi brin.go.id.
Ketika habitat pesisir rusak, dampaknya tidak hanya memukul populasi kuda laut, tetapi juga mengancam stok ikan secara keseluruhan yang pada akhirnya merugikan produktivitas nelayan.
Baca Juga:
Tembus Pasar AS dan Eropa, Ikan Nila jadi Andalan Baru Ekspor Perikanan IndonesiaAncaman Nyata dan Status Internasional
Meski memiliki peran ekologis yang vital, masa depan kuda laut di perairan Indonesia terus menghadapi tantangan berat. Eksploitasi yang berlebihan, penggunaan alat tangkap yang merusak (destruktif), hingga pencemaran habitat menjadi faktor utama menyusutnya populasi mereka.
Secara global, perlindungan terhadap satwa ini telah menjadi perhatian serius. Perwakilan dari Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Risris Sudarisman, menyebutkan bahwa kuda laut telah masuk dalam daftar Appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).
Status ini menegaskan bahwa perdagangan internasional kuda laut harus diawasi dan dibatasi dengan ketat. "Perdagangannya harus diatur agar keberadaan mereka di alam liar tetap berlanjut dan tidak punah," tegas Risris.
Nelayan Tradisional sebagai Garda Terdepan
Upaya penyelamatan kuda laut tidak bisa hanya mengandalkan regulasi di atas kertas. Kolaborasi lintas sektor, mulai dari peneliti, pemerintah, hingga komunitas lokal menjadi kunci keberhasilan konservasi.
Baca Juga:
Menjaga Nafas Hutan, Cerita di Balik Penemuan 10 Anggrek Rekaman Baru IndonesiaDalam konteks ini, masyarakat pesisir dan nelayan tradisional memegang peran paling krusial. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menekankan bahwa bagi nelayan, laut bukan sekadar ruang untuk mencari nafkah secara ekonomi, melainkan ruang kebudayaan yang harus dirawat pengetahuannya secara turun-temurun.
Sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan laut setiap hari, nelayan tradisional diposisikan sebagai "penjaga laut" yang paling efektif untuk memantau kelestarian habitat kuda laut dari praktik penangkapan ilegal yang merusak terumbu karang dan padang lamun.
Melalui pendekatan berbasis spesies seperti yang didorong oleh lembaga global Project Seahorse, perlindungan kuda laut kini diarahkan pada pemanfaatan yang berkelanjutan. Prinsip utamanya adalah menjaga keseimbangan, melindungi ekosistem laut tanpa mengorbankan kesejahteraan jangka panjang masyarakat yang hidup berdampingan dengannya. (*)