Selain mengganggu jarak pandang, polusi udara akibat asap berpotensi memengaruhi sistem pernapasan masyarakat, walupun di kota Pagar Alam Sumsel masih terbilang amantetapi pihak Dinas Kesehatan tetap melakukan berbagai antisipasi.

Salah satu langkah antisipasi yang dilakukan Dinkes Kota Pagar Alam Sumsel yakni melakukan edukasi, sekaligus membagikan masker kepada masyarakat.

Upaya ini dilakukan untuk mengurangi risiko masyarakat menghirup polutan dari kabut asap, yang terjadi akibat Karhutla 2026.

Tim Dinkes membagikan masker kepada masyarakat di kawasan Jam Gadang Pagar Alam Sumsel.

Baca Juga:
19 Gerai KDMP di Pacitan Belum Dapat Manager, 6 Orang Malah Mengundurkan Diri

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah promotif dan preventif, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melindungi kesehatan di tengah kondisi udara yang dipengaruhi asap.

Kepala Dinkes Kota Pagar Alam Sumsel Ali Akbar Fitriansyah mengatakan, selain pembagian masker, edukasi juga dilakukan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Bandar dan sejumlah UPTD PUskesmas lainya yang ada di 5 Kecamatan dalam kota Pagar Alam.

Masyarakat diimbau menggunakan masker, ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama saat kondisi kabut asap semakin pekat, walaupun di Pagar Alam Sumsel tidak separah di daerah lain di Sumsel.

“Kita juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, ketika kualitas udara memburuk. Jika kondisi asap semakin tebal, masyarakat dianjurkan menutup jendela maupun ventilasi rumah untuk mengurangi masuknya asap ke dalam ruangan,” ujar Ali Akbar Fitriansyah.

Baca Juga:
Kiagus Firdaus Dorong HKTI Lamongan Jadi Motor Penggerak Swasembada Pangan

Tidak hanya itu, kata Ali Akbar Fitriansyah, perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok rentan, seperti bayi, balita, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit jantung dan asma. Kelompok tersebut dinilai perlu lebih terlindungi dari paparan polusi udara.

Di sisi pemantauan, tenaga sanitasi lingkungan di puskesmas juga melaksanakan Surveilans Kualitas Udara Dalam Ruang (SKUDR).

Pemantauan dilakukan dengan melibatkan masing-masing puskesmas pada 30 rumah tangga sebagai bagian dari upaya mengetahui kondisi kualitas udara di dalam ruangan.

Dinkes juga memastikan fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas dan rumah sakit, siap memberikan pelayanan bagi masyarakat yang mengalami keluhan akibat paparan asap, seperti batuk, gangguan pernapasan maupun sesak napas.

Melalui rangkaian edukasi, pemantauan dan pembagian masker tersebut, Dinkes Pagar Alam Sumsel mengajak masyarakat tidak menganggap sepele dampak kabut asap.

Kewaspadaan dan perlindungan diri menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan selama kondisi udara masih dipengaruhi asap Karhutla. 

Kasus ISPA Meningkat, Bukan Akibat Kabut Asap Tapi Virus Influenza Jadi Pemicu

*Dinkes: Sebut Bukan Berasal dari Akibat Kabut Asap

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Pagar Alam Sumsel Masih Normal meskipun menunjukkan tren naik Turun di sepanjang September 2026.

Pada pekan keempat, jumlah kasus yang tercatat di tujuh UPTD Puskesmas mencapai 196 kasus, meningkat dibandingkan pekan-pekan sebelumnya.

Meski kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) belakangan menjadi perhatian masyarakat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pagar Alam Sumsel menyebut kasus ISPA yang dilaporkan sejauh ini sebagian besar disebabkan oleh virus, seperti influenza, serta perubahan kondisi cuaca.

Kepala Dinkes Kota Pagar Alam Sumsel, Ali Akbar Fitriansyah, menuturkan berdasarkan laporan petugas puskesmas, kasus ISPA yang terjadi tidak berkaitan dengan kabut asap Karhutla.

“Dari laporan petugas di tujuh UPTD Puskesmas di Kota Pagar Alam Sumsel, untuk kasus ISPA sebagian besar disebabkan oleh virus seperti influenza, bukan gara-gara asap, tapi murni ISPA,” ujar Ali Akbar Fitriansyah.

Berdasarkan laporan mingguan dari tujuh UPTD Puskesmas, pada pekan pertama September 2026 tercatat sebanyak 93 kasus ISPA. Rinciannya, Puskesmas Bandar 21 kasus, Bumi Agung 16 kasus, Gunung Dempo 2 kasus, Pengandonan 3 kasus, Pengaringan 12 kasus, Sandar Angin 6 kasus, dan Sidorejo 33 kasus.

Jumlah tersebut meningkat pada pekan kedua menjadi 142 kasus. Puskesmas Bandar mencatat 39 kasus, Bumi Agung 7 kasus, Gunung Dempo 5 kasus, Pengandonan 4 kasus, Pengaringan 6 kasus, Sandar Angin 18 kasus, dan Sidorejo 63 kasus.

Memasuki pekan ketiga, jumlah kasus sedikit menurun menjadi 131 kasus. Puskesmas Bandar melaporkan 29 kasus, Bumi Agung 29 kasus, Gunung Dempo 2 kasus, Pengandonan 3 kasus, Pengaringan 12 kasus, Sandar Angin 17 kasus, dan Sidorejo 39 kasus.

Namun, pada pekan keempat, kasus kembali meningkat cukup tajam hingga mencapai 196 kasus. Puskesmas Bandar mencatat 39 kasus, Bumi Agung 12 kasus, Gunung Dempo 3 kasus, Pengandonan 3 kasus, Pengaringan 17 kasus, Sandar Angin 37 kasus, dan Sidorejo menjadi penyumbang terbanyak dengan 85 kasus.

Data tersebut menunjukkan jumlah kasus ISPA mingguan meningkat dari 93 kasus pada pekan pertama menjadi 196 kasus pada pekan keempat September.

Meski penyebab yang dilaporkan Dinkes didominasi virus dan perubahan cuaca, kewaspadaan terhadap gangguan pernapasan tetap diperlukan, terlebih di tengah kondisi udara yang turut menjadi perhatian akibat Karhutla.

Masyarakat diimbau menjaga kesehatan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengganggu, seperti batuk berkepanjangan, demam, atau sesak napas.