KETIK, MALUKU UTARA – Sejarah Maluku Utara kini tidak hanya dapat dibaca atau didengar. Di Desa Kupal, Kecamatan Bacan Selatan, cerita tentang daerah juga bisa dikenakan melalui beragam pakaian karya Halmaroots. Brand fashion lokal tersebut tersedia di Jalan Poros Pelabuhan Kupal.
Kehadirannya memberi pilihan baru bagi masyarakat yang ingin tampil modern sekaligus membawa identitas Bacan dan Maluku Utara dalam keseharian.
Halmaroots menawarkan berbagai jenis pakaian, terutama kaos dengan desain unik dan berkarakter. Setiap tampilan mengambil inspirasi dari kebudayaan, sejarah, serta kekayaan identitas lokal, kemudian dikemas melalui bahasa visual yang ringan dan dekat dengan selera masa kini. Dari sudut pandang bisnis, Halmaroots menunjukkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi kekuatan produk UMKM.
Nilai jualnya tidak hanya terletak pada bahan dan tampilan, tetapi juga pada cerita daerah yang menyertai setiap desain.
Kehadiran gerai fisik membuka akses belanja lebih praktis bagi warga Bacan Selatan. Titik penjualan tersebut mempertemukan karya kreator setempat dengan calon pelanggan secara dekat.
Baca Juga:
Menimba Ilmu, Menjaga Akar: Dua Putra Bacan Lahirkan Halmaroots di Jakarta, Bawa Budaya ke Fashion Nasional“Halmaroots sudah tersedia di Desa Kupal, tepatnya di Jalan Poros Pelabuhan Kupal. Masyarakat bisa datang langsung untuk melihat dan memilih berbagai pakaian serta kaos yang kami siapkan,” kata Mujiono alias Oji, pencipta brand Halmaroots Senin 28 September 2026.
Keberadaan toko tersebut memungkinkan calon pembeli melihat koleksi secara langsung sebelum menentukan pilihan. Beragam desain yang dipasarkan memberi ruang bagi konsumen untuk menemukan pakaian sesuai karakter dan gaya masing-masing.
Pada sisi kreatif, identitas daerah menjadi nyawa utama seluruh koleksi; corak visual diperlakukan sebagai pengikat estetika kekinian bersama memori leluhur.
“Kami menghadirkan beragam desain unik yang mengangkat budaya lokal Maluku Utara. Setiap gambar dibuat supaya tetap menarik dipakai, sekaligus memiliki cerita tentang sejarah dan karakter Bacan,” ujar Oji.
Pendekatan tersebut membuat Halmaroots tidak berhenti sebagai produk fashion. Kaos menjadi medium komunikasi yang membawa pengetahuan mengenai daerah kepada lebih banyak orang, termasuk generasi muda yang akrab dengan tren busana. Nilai edukatif sengaja ditempatkan berdampingan dengan daya tarik komersial.
Orientasi tersebut memberi setiap rilisan fungsi ganda: penunjang gaya sekaligus sarana literasi kultural.
“Bagi kami, memakai Halmaroots bukan hanya soal penampilan. Orang yang mengenakannya ikut membudayakan dan memperkenalkan sejarah Maluku Utara, khususnya Bacan,” tuturnya.
Konsep itu memberi Halmaroots posisi tersendiri dalam pasar fashion lokal. Pembeli tidak sekadar memperoleh kaos, tetapi juga membawa narasi daerah yang dapat terus bergerak mengikuti aktivitas pemakainya.
Bagi ekosistem UMKM, kekuatan semacam ini menjadi pembeda penting. Produk dibangun melalui identitas yang jelas, memiliki pesan, dan tetap relevan dengan kebutuhan konsumen. Halmaroots menyatukan unsur ekonomi kreatif, promosi budaya, dan kebanggaan daerah dalam satu lini usaha. Pengalaman berbelanja dibuat sederhana, personal, serta dekat dengan lingkungan sekitar.
Ragam produk dirancang agar pengunjung leluasa menemukan tampilan sesuai selera.
“Kami mengajak masyarakat datang ke toko Halmaroots di Jalan Poros Pelabuhan Kupal. Silakan lihat langsung berbagai model yang tersedia dan pilih kaos yang paling cocok,” ajak Oji.
Halmaroots saat ini memasarkan beragam pakaian dan kaos bertema budaya Maluku Utara melalui titik penjualannya di Jalan Poros Pelabuhan Kupal, Desa Kupal, Kecamatan Bacan Selatan. Konsumen dapat melihat sekaligus membeli koleksi yang tersedia secara langsung di lokasi tersebut.