KETIK, SURABAYA – Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai menjajal langsung peran sebagai guru untuk memahami tantangan pendidik dalam menghadapi siswa generasi Z yang semakin akrab dengan teknologi.
Pengalaman tersebut dilakukan Aries saat mengajar di SMAN 4 Surabaya pada Selasa, 22 September 2026. Ia mengaku, pengalaman itu membuatnya semakin memahami bahwa menjadi guru bukan pekerjaan mudah. Menurutnya, guru dituntut mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menarik agar siswa tetap fokus sekaligus memahami materi yang disampaikan.
"Ternyata menjadi guru itu tidak mudah seperti apa yang kita bayangkan. Kita berproses di dalam kelas, bagaimana murid-murid kita bisa tertarik dengan apa yang kita sampaikan," ungkapnya.
Ia menilai, seorang guru harus memiliki daya tarik tersendiri dalam menyampaikan materi. Dalam waktu satu hingga dua jam pelajaran, guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang mampu membuat siswa memahami materi sekaligus tetap terlibat dalam proses pembelajaran.
Karena itu, Aries sengaja mencoba mengambil peran sebagai guru untuk melihat secara langsung suasana pembelajaran dari dalam kelas.
Baca Juga:
TC Persiapan Final OPSI Nasional 2026, Kadindik Jatim Mantapkan dan Matangkan Mental Siswa Perwakilan"Saya hari ini mencoba menjadi guru sebagai seorang kepala dinas untuk bisa memahami tugas pokok dan fungsi guru di dalam kelas dan bagaimana suasana kelas yang sebenarnya," ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Aries juga berdialog dengan siswa untuk mengetahui metode pembelajaran yang mereka harapkan. Dari dialog itu, ia mendapat masukan bahwa siswa membutuhkan pembelajaran yang lebih interaktif dan mengandalkan visual.
"Mereka mengatakan kami butuh pembelajaran yang interaktif. Karena kami adalah generasi Gen Z yang visual," tutur Aries.
Menurut Aries, kebutuhan tersebut sejalan dengan pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) di sekolah. Perangkat pembelajaran interaktif itu dinilai dapat membantu guru menyampaikan materi secara lebih visual sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa.
Baca Juga:
Menuju Jatim Jagad Inovasi Award 2026, Kadis Pendidikan Jatim Matangkan Kesiapan Para Inovator"Yang disampaikan oleh Pak Presiden Prabowo untuk dibagikan IFP interaktif panel flat itu sangat dibutuhkan di lingkungan sekolah supaya mereka bisa menyaksikan secara visual dan mudah dipahami oleh murid-murid kita," jelasnya.
Aries menyebut distribusi IFP pada tahun ini akan ditambah. Jika sebelumnya setiap sekolah mendapatkan satu perangkat, kini ditargetkan setiap sekolah memiliki empat perangkat. Penambahan tersebut dilakukan secara bertahap. Aries mengatakan distribusi saat ini diprioritaskan bagi sekolah yang berada di daerah pedalaman, terpencil, sulit terjangkau, hingga wilayah kepulauan.
"Sementara ini mengalir, masing-masing sekolah ada penambahan tiga. Jadi nanti setiap sekolah sudah punya empat," ungkapnya.
Untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB di Jawa Timur, terdapat sekitar 4.020 sekolah negeri dan swasta. Sementara untuk jenjang SD dan SMP, pemenuhan perangkat disesuaikan dengan kebutuhan pemerintah kabupaten/kota masing-masing.
Aries mengatakan, prioritas distribusi ke wilayah pinggiran dan daerah yang sulit terjangkau dilakukan agar fasilitas pembelajaran interaktif dapat lebih dulu dirasakan siswa di kawasan tersebut.
Selain metode pembelajaran, Aries juga menyoroti perubahan karakter siswa dibandingkan generasi sebelumnya. Menurutnya, siswa saat ini tumbuh dengan akses teknologi dan informasi yang jauh lebih luas sehingga guru tidak dapat hanya mengandalkan metode pembelajaran konvensional.
Anak-anak kita itu sudah cerdas karena melek teknologi, dia paham," ujarnya.
Aries bahkan menemukan sejumlah siswa lebih mengenal figur-figur di media sosial dibandingkan dirinya sebagai Kepala Dinas Pendidikan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan betapa luasnya akses informasi yang dimiliki siswa saat ini.
"Artinya, mereka sudah melek terhadap teknologi dan mereka belajar dari teknologi. Kalau kita masih mengajar cara konvensional, maka tentu akan ditinggal oleh murid-murid kita," imbuhnya.
Karena itu, tantangan guru bukan hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk membantu siswa memahami tujuan pendidikan.
Saat mencoba mengajar Pendidikan Pancasila, Aries tidak hanya menyampaikan materi secara teori. Dia mengajak siswa menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan kehidupan sehari-hari. Siswa juga diminta belajar menjadi pemimpin bagi diri sendiri, termasuk mengontrol diri dan membedakan hal yang baik dan buruk.
Aries bahkan meminta siswa menuliskan cita-cita mereka. Tulisan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam amplop dan dititipkan kepada kepala sekolah.
Ia berharap, puluhan tahun mendatang, ketika para siswa telah sukses, mereka dapat membuka kembali tulisan tersebut dan melihat apakah cita-cita yang pernah mereka tuliskan saat masih sekolah masih sama.
Pengalaman menjadi guru tersebut juga memperkuat pandangan Aries mengenai pentingnya peningkatan kompetensi tenaga pendidik.
Ia berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan dapat memperbesar porsi program peningkatan kompetensi bagi guru.
"Saya memang selalu menganggap bahwa proses upgrade ini penting," tutur Aries.
Menurutnya, peningkatan kompetensi diperlukan di berbagai bidang mata pelajaran agar guru mampu mengikuti perkembangan kebutuhan peserta didik. Aries juga berharap makin banyak forum peningkatan kompetensi yang menghadirkan instruktur profesional.
"Terutama yang nanti kami datangkan para pengajar, instruktur yang profesional, yang bisa memahami bagaimana mengajar yang baik, yang benar, dan bisa implementatif bagi murid-murid," pungkasnya. (*)