KETIK, SURABAYA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menyiapkan 25 peserta untuk mengikuti program Ausbildung atau pendidikan vokasi dan pemagangan di Jerman. Peserta yang berasal dari SMK, universitas, dan politeknik di Jawa Timur tersebut akan dibekali kemampuan bahasa Jerman, keterampilan profesional, serta pemahaman budaya sebelum memasuki dunia kerja di negara tersebut.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto mengatakan, program ini merupakan hasil kerja sama Kadin Jatim melalui Kadin Institute dengan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Jerman. Program tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi peserta untuk meningkatkan kompetensi, memperoleh pengalaman kerja internasional, dan mengembangkan karier sesuai bidang keahlian masing-masing.
Sebagai persiapan awal, Kadin Institute menyelenggarakan kursus bahasa Jerman selama 10 bulan yang dimulai pekan ini. Menurut Adik, penguasaan bahasa menjadi salah satu tantangan utama yang harus dipersiapkan peserta karena berperan penting dalam komunikasi, proses pembelajaran, hingga adaptasi di lingkungan kerja.
"Peserta harus memiliki niat yang kuat, tujuan yang jelas, dan motivasi untuk mengikuti setiap tahapan program. Kepercayaan diri juga perlu dibangun agar mereka siap menghadapi lingkungan yang berbeda dari Indonesia," ujarnya, pada Jumat, 16 oktober 2026.
Pada tahap pertama, peserta direncanakan menuju Trier dan Dortmund. Namun, penempatan tidak menutup kemungkinan dilakukan di kota lain sesuai kebutuhan program dan perusahaan. Kadin Jatim berharap kesempatan tersebut dimanfaatkan secara maksimal, bukan hanya untuk memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga untuk membangun kemandirian dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Baca Juga:
Pengangguran Sarjana di Jatim Tertinggi, Kadin Sebut Pemagangan Nasional Jadi Jembatan ke Dunia KerjaDirektur Kadin Institute Nurul Indah Susanti menjelaskan, program Ausbildung menggabungkan pembelajaran praktik dan teori, dengan komposisi sekitar 70 persen praktik di industri dan 30 persen teori di kelas. Peserta akan mendapatkan pengalaman kerja langsung sesuai bidang dan tugas yang diberikan perusahaan.
Untuk saat ini, bidang yang menjadi fokus meliputi perhotelan, restoran, dan kuliner. Komposisi tersebut diharapkan membantu peserta menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama pembelajaran dengan kebutuhan nyata di tempat kerja.
Nurul juga membagikan pengalamannya mengunjungi Jerman selama sekitar dua minggu. Ia menggambarkan Trier sebagai kota yang bersih, sejuk, memiliki banyak bangunan bersejarah, serta cenderung tenang pada sore dan malam hari.
Sejumlah toko yang ditemuinya tutup sekitar pukul 18.00, sementara makan malam biasanya dilakukan lebih awal, sekitar pukul 17.00–17.30. Pilihan pusat perbelanjaan dan hiburan di kota tersebut juga tidak sebanyak di kota besar. Gambaran ini menjadi pengingat bahwa peserta perlu menyesuaikan rutinitas, termasuk berbelanja dan mengatur kebutuhan sehari-hari, dengan ritme kehidupan di tempat tujuan.
Baca Juga:
Kinerja UMKM Belum Optimal, Kadin Jatim: Perubahan Mentalitas Pelaku Usaha Jadi Kunci KeberhasilanDi sisi lain, Nurul mengingatkan peserta agar berhati-hati terhadap tawaran pindah tempat kerja atau lokasi dengan janji kondisi yang lebih baik tanpa memastikan kebenarannya. Peserta diminta tetap fokus pada bidang yang ditempuh, membangun pertemanan yang positif, dan memanfaatkan kesempatan untuk memperluas pengetahuan.
Pengelolaan keuangan juga perlu menjadi perhatian, terutama ketika mulai memperoleh penghasilan sendiri. Peserta diharapkan mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, sehingga pendapatan dapat digunakan secara bijak untuk menunjang kehidupan dan masa depan.
Principal Advisor and Program Implementation Manager GIZ, Makhdonal Anwar, menegaskan, kesiapan mengikuti program Ausbildung tidak cukup hanya dengan keinginan untuk bekerja di luar negeri. "Peserta harus meningkatkan kemampuan bahasa dan keterampilan profesional sesuai kebutuhan industri," kata Makhdonal Anwar.
Menurutnya, kemampuan berkomunikasi akan membantu peserta memahami instruksi kerja sekaligus membangun hubungan yang baik dengan lingkungan sekitarnya.
Selain keterampilan teknis, pemahaman budaya dan etika masyarakat Jerman menjadi bagian penting dari pembekalan.
Ia berharap peserta memahami ketepatan waktu sebagai bentuk penghargaan terhadap orang lain, serta mengenali batas antara waktu bekerja dan beristirahat. Konsep keseimbangan kehidupan dan pekerjaan atau work-life balance menjadi budaya di Jerman.
Makhdonal juga menjelaskan tentang kebiasaan di Jerman, bahwa sejumlah toko, terutama di kota kecil seperti Trier, tutup pada hari Minggu karena tradisi menjadikan hari tersebut sebagai waktu beristirahat dan beribadah. Jam operasional toko dan fasilitas di kota besar dapat berbeda.
Pengenalan mengenai kebebasan beragama dan pajak gereja turut menjadi bagian dari pembahasan agar peserta memiliki gambaran lebih utuh tentang kehidupan masyarakat setempat.
Guru Bahasa Jerman Edward Lie mengingatkan peserta agar tidak takut melakukan kesalahan saat berbicara. "Kemampuan bahasa tidak cukup dikembangkan melalui teori, tetapi membutuhkan praktik dan keberanian berkomunikasi," pungkasnya.(*)