KETIK, SURABAYA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menjajaki kerja sama dengan Zimbabwe untuk meningkatkan produktivitas tembakau di Indonesia. Salah satu langkah yang disiapkan yakni menggelar proyek percontohan atau pilot project penerapan teknologi budidaya tembakau di Pamekasan, Madura, pada 2027.
Kerja sama tersebut ditawarkan Zimbabwe melalui pendampingan petani, mulai dari pengolahan lahan, penyediaan bibit, teknik penanaman hingga penanganan pascapanen.
Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas tembakau lokal, khususnya jenis Virginia, yang pasokannya masih bergantung pada impor.
Ketua Umum Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menyambut baik tawaran tersebut. Menurutnya, kerja sama ini menjadi peluang bagi petani Indonesia untuk mempelajari teknik budidaya dan teknologi pengolahan yang telah diterapkan di Zimbabwe.
“Secara prinsip, Kadin Jatim mendukung kolaborasi ini. Harapannya, produktivitas petani tembakau Indonesia bisa meningkat, baik dari sisi budidaya maupun teknologi pascapanen, sehingga mampu bersaing dengan produk impor,” ujar Adik, Senin, 26 Oktober 2026.
Baca Juga:
Bidik Pasar Tembakau Jatim, Pakistan Ditantang Berbagi Teknologi Budidaya dan BibitTawaran tersebut dibahas dalam kegiatan Tobacco Industry Networking Dinner di Surabaya pada akhir pekan lalu. Pertemuan itu dihadiri sekitar 20 perwakilan petani dan pelaku industri tembakau, asosiasi petani, asosiasi pengusaha rokok, Kadin Jatim, perwakilan Zimbabwe, serta Duta Besar Indonesia untuk Zimbabwe.
Adik menjelaskan, pendampingan yang ditawarkan mencakup berbagai tahapan produksi. Mulai dari pengolahan lahan, pemilihan bibit, teknik penanaman, pemotongan hingga pengeringan tembakau.
Transfer pengetahuan tersebut diharapkan dapat membantu petani menghasilkan tembakau dengan kualitas yang sesuai kebutuhan industri.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kesenjangan produktivitas tembakau antara Indonesia dan Zimbabwe.
Baca Juga:
Kadin Jatim Siapkan 25 Peserta Ausbildung ke Jerman, Bahasa dan Adaptasi Jadi KunciBerdasarkan data yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, produktivitas tembakau di Zimbabwe disebut mencapai sekitar tiga ton per hektare. Sementara itu, produktivitas di Indonesia rata-rata sekitar satu ton per hektare.
Perbedaan tersebut menjadi salah satu pertimbangan untuk meningkatkan kemampuan budidaya petani lokal melalui penerapan teknik dan teknologi yang tepat. Menurut Adik, peningkatan produktivitas juga perlu diiringi dengan upaya melindungi petani dalam negeri agar mampu bersaing dengan produk impor.
Tembakau Virginia menjadi salah satu komoditas yang berpotensi dikembangkan melalui kerja sama ini. Pasokan Virginia di dalam negeri dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan industri sehingga Indonesia masih mengandalkan impor. Zimbabwe dan Brasil termasuk negara pemasok tembakau Virginia di pasar internasional.
Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang tercantum dalam bahan rilis, Indonesia mengimpor sekitar 121 ribu ton tembakau per tahun dengan nilai mencapai Rp18 triliun. Impor tersebut antara lain berasal dari China, India, Brasil, Zimbabwe, Filipina, dan Amerika Serikat.
Untuk tahap awal, Kadin Jatim berencana melibatkan satu petani dalam proyek percontohan di Pamekasan pada 2027. Hasil penerapan teknologi dan pendampingan tersebut nantinya akan dievaluasi sebelum dipertimbangkan untuk diterapkan secara lebih luas.
Selain teknologi budidaya dari Zimbabwe, pertemuan itu juga memperkenalkan teknologi pascapanen dari Bulgaria. Perusahaan Tabi DV OOD menawarkan curing chamber atau ruang pengering tembakau yang berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan proses pengeringan dan kualitas hasil panen.
Pertemuan tersebut juga menjadi ajang penjajakan transfer pengetahuan, pengenalan teknologi pengeringan, serta peluang kerja sama usaha dan pengembangan pasar. Perwakilan Zimbabwe dan penyedia teknologi dari Bulgaria diketahui berada di Indonesia untuk menghadiri sejumlah kegiatan industri, termasuk Indonesia Tobacco Expo (ITE) di Jakarta dan agenda di Grand City Surabaya.
Melalui penjajakan ini, Kadin Jatim berharap kerja sama lintas negara dapat berlanjut ke tahap penerapan teknologi dan pendampingan langsung kepada petani. Peningkatan produktivitas dan kualitas tembakau lokal diharapkan dapat memperkuat daya saing petani sekaligus membuka peluang mengurangi ketergantungan terhadap impor, terutama untuk tembakau Virginia. (*)