KETIK, ACEH SINGKIL – Jembatan kayu Suka Kaya, salah satu akses penghubung Kecamatan Singkil, menuju Buluh Seuma, Kecamatan Trumon, Aceh Selatan, sangat membutuhkan penanganan serius.

Jembatan kayu ini mendapat peninjauan langsung tim monev PRR (Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) pasca bencana alam Provinsi Aceh, untuk melihat kondisi infrastruktur yang membutuhkan penanganan serius.

Rombongan tim monev PRR dipimpin Kepala Koordinator Wilayah Aceh II, Brigjen TNI (Mar) Dr. Guslin bersama Wakil Kepala Koordinator Wilayah Aceh II Kombes Pol. Reinhard Reimond Huwae, Tim PRR Pascabencana Aceh Singkil dan Subulussalam, unsur Forkopimda, Ketua DPRK, Kapolres Aceh Singkil, Kasdim 0109 Aceh Singkil, Pj Sekda dan jajaran SKPK terkait.

Empat lokasi yang menjadi perhatian adalah abrasi pantai Desa Pulo Sarok, Jembatan kayu Suka Kaya dan jalur penghubung di sekitarnya, proyek tanggul penahan banjir Desa Tanah Merah, serta Embung/Waduk Sianjo-Anjo di Desa Sianjo-Anjo. 

Abrasi di Pulo Sarok dinilai semakin mengkhawatirkan karena terus menggerus garis pantai dan berpotensi mengancam permukiman masyarakat maupun fasilitas umum. 

Baca Juga:
Bupati Aceh Singkil Minta Semua Pihak Perkuat Pemetaan Wilayah Rawan Karhutla

Sementara itu, jembatan kayu Suka Kaya menunjukkan kondisi yang memerlukan perhatian dan penanganan segera.

Di Desa Tanah Merah, tim melihat langsung kondisi proyek tanggul penahan banjir yang belum tuntas. Dari rencana pembangunan lebih dari 26 kilometer, hingga saat ini baru sekitar 2,1 kilometer yang dikerjakan sehingga diperlukan evaluasi dan langkah percepatan.

Sedangkan peninjauan ke Embung/Waduk Sianjo-Anjo dilakukan untuk melihat kondisi serta potensi pemanfaatannya dalam mendukung kebutuhan masyarakat dan penguatan infrastruktur pengendalian air di wilayah tersebut.

Bupati Aceh Singkil, Safriadi Oyon, mengharapkan kehadiran Tim Monev di lapangan merupakan momentum penting untuk memastikan berbagai persoalan pascabencana dapat ditangani berdasarkan kondisi nyata dan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:
Aceh Tak Mau Jadi Penonton! Pemuda Desak Pemerintah Kawal Kewenangan Migas dalam RUU Baru

“Kita tidak ingin persoalan hanya berhenti pada laporan dan rapat. Hari ini kita melihat langsung kondisi di lapangan, mencatat apa yang menjadi masalah, kemudian mencari solusi dan langkah tindak lanjut yang konkret.” kata Oyon, 1 September 2026.

Menurutnya, empat lokasi tersebut memiliki karakter persoalan yang berbeda, namun semuanya menyangkut kepentingan dan keselamatan masyarakat.

“Abrasi Pulo Sarok harus kita lihat sebagai ancaman yang terus bergerak. Jembatan Suka Kaya menyangkut akses masyarakat. Tanggul Tanah Merah berkaitan dengan perlindungan dari banjir, dan Embung Sianjo-Anjo memiliki potensi strategis untuk mendukung kebutuhan masyarakat. Semuanya membutuhkan perhatian dan penanganan yang terukur," tegasnya.

Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada Koordinator Wilayah Aceh II beserta seluruh Tim Monev yang telah turun langsung melihat kondisi di Aceh Singkil.

“Pemkab Aceh Singkil siap membuka ruang koordinasi seluas-luasnya. Prinsip kita sederhana: mana yang bisa kita kerjakan, kita kerjakan; mana yang membutuhkan dukungan pemerintah pusat, kita kawal bersama sampai ada solusi.”

Sementara itu, Kepala Koordinator Wilayah Aceh II Brigjen TNI (Mar) Dr. Guslin memberikan respons positif terhadap hasil peninjauan empat lokasi tersebut.

Ia menilai, turun langsung ke lapangan sangat penting untuk memperoleh gambaran faktual mengenai kondisi infrastruktur dan kebutuhan masyarakat.

“Apa yang kita lihat hari ini memberikan gambaran yang jelas tentang persoalan di lapangan. Ini menjadi bahan penting bagi kami untuk melihat prioritas, kebutuhan penanganan dan langkah yang harus segera dilakukan,” katanya.

Terkait empat lokasi yang ditinjau, Guslin menegaskan bahwa hasil Monev akan menjadi bagian dari bahan evaluasi dan koordinasi untuk mendorong percepatan penanganan.

“Kita akan melihat mana yang sifatnya mendesak, mana yang membutuhkan penanganan lanjutan, dan mana yang harus segera dikoordinasikan dengan kementerian atau lembaga terkait. Yang terpenting, hasil Monev ini harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Guslin.

Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil yang secara terbuka menyampaikan kondisi dan kebutuhan daerah.

“Kami melihat ada semangat yang kuat dari pemerintah daerah untuk menyelesaikan persoalan. Ini menjadi modal penting. Pemerintah daerah tidak sendiri, dan koordinasi seperti ini harus terus kita bangun agar penanganan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran,” ungkapnya.(*)