KETIK, MALANG – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada 27-31 Agustus 2026, sejumlah kelompok yang tergabung dalam Jaringan Nahdliyin Muda (JNM) menggelar pertemuan di Pesantren Rakyat, Sumberpucung, Kabupaten Malang.
Pertemuan yang digelar Sabtu malam 1 Agustus 2026 dengan diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang itu menghasilkan lima petisi untuk masa depan NU.
Lima petisi itu yakni, pertama, NU diharapkan kembali memperkuat semangat pemberdayaan melalui masjid dan musala dengan mengajak santri serta intelektual NU kembali berkhidmat di tengah masyarakat.
Kedua, menjadikan pesantren sebagai basis pemberdayaan dan kemaslahatan umat. Ketiga, mendorong peningkatan revitalisasi pendidikan, baik formal maupun informal, karena pendidikan merupakan hak seluruh anak bangsa.
Keempat, NU diharapkan mampu menerapkan gerakan filantropi yang berkelanjutan. Kelima, momentum Muktamar NU ke-35 dinilai menjadi waktu yang tepat untuk kembali pada jati diri melalui gerakan revolusi ruhani.
Baca Juga:
Jelang Muktamar Ke-35 NU, Elemen Nahdliyin di Malang Layangkan PetisiSalah satu peserta yang sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Al Hamid, KH Athok Lukman Hakim atau Gus Atok, menyampaikan bahwa, NU harus berorientasi pada pengabdian dan khidmah, bukan kepentingan politik.
“Bagaimana yang semua kita lakukan, yang semua dilakukan pengurus NU, semata untuk khidmah dan untuk Allah, tidak untuk yang lain misalnya ambisi politik,” katanya.
Dengan demikian, maka NU akan tetap pada jati dirinya.
Apalagi, lanjut Gus Atok, NU sebagai organisasi masyarakat dengan jumlah jamaah yang besar memiliki sejumlah kekuatan strategis.
Baca Juga:
Pesantren sebagai Rumah NU: Menyambut Muktamar Ke-35“Masjid dan musala bisa menghubungkan kita pada Allah, pada Nabi, juga pada gerakan wakaf yang seharusnya bisa efektif memberdayakan umat,” katanya.
Melalui petisi ini, diharapkan NU bisa semakin baik lagi dari waktu ke waktu dan kembali ke jati diri dengan revolusi ruhani. (*)