KETIK, SLEMAN – Perhelatan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 bertajuk "Aksara" telah dibuka pada Minggu 13 September 2026.
Acara dipusatkan di Lapangan Beran, kawasan pusat Pemerintahan Kabupaten Sleman.
Pembukaan perhelatan seni dan budaya tahunan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat setempat. Publik diajak melihat kembali rekam jejak sejarah lokasi penyelenggaraan acara.
Desain panggung FKY 2026 merespons memori Pabrik Gula Beran.
Arsip visual industri kolonial diterjemahkan menjadi lanskap arsitektur rakyat yang kontekstual.
Baca Juga:
Sri Sultan Cicipi Air Hujan Olahan di FKY 2026, Pemkab Sleman: "Masa Masyarakat Ragu?"Area pusat pemerintahan ini dulunya memang merupakan kompleks industri gula masa Belanda.
Perkembangan industri tersebut didukung oleh topografi Sleman yang berada pada ketinggian 100 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut.
Daerah ini memiliki ketersediaan ratusan sumber mata air alami dan sistem irigasi yang sangat baik.
Kondisi tanah yang subur serta iklim yang mendukung membuat kawasan Sleman sangat ideal bagi budidaya tanaman tebu.
Faktor alam yang prima ini menjadikan Sleman sebagai pusat pertumbuhan industri gula di Yogyakarta.
Baca Juga:
Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026, Sleman Dorong Sinergi Budaya dan WisataSebanyak 9 dari 19 pabrik gula yang pernah ada di Daerah Istimewa Yogyakarta beroperasi di wilayah Kabupaten ini.
Kilas Balik Sejarah Perjalanan Pabrik Gula Beran
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Anton Sudjarwo, Senin 14 September 2026 menceritakan sejarah panjang Pabrik Gula Beran. Lokasi pabrik ini sangat strategis di Desa Tridadi, Kecamatan Sleman.
"Pabrik Gula Beran didirikan pada tahun 1880 oleh WFB Senster. Status tanahnya sewa erfpacht yang berlaku hingga 31 Desember 1981," tutur Anton Sudjarwo membeberkan kilas balik sejarah kawasan tersebut.
Anton menjelaskan bahwa untuk menopang operasionalnya, pabrik gula ini memperoleh kucuran modal dari Nederlandsch-Indische Handelsbank (NIHB) pada 1887.
Pabrik ini beroperasi bersama 11 pabrik gula lainnya di wilayah Vorstenlanden. Kepemilikan pabrik beralih kepada FJ Pijnacker pada 1898.
Modal gabungan perusahaan saat itu mencapai 512.000 gulden yang terbagi dalam 512 lembar saham.
Jajaran komisaris utama diisi oleh JGA Busehoff, WFB Senster, dan FJ Pijnacker. Sementara itu, DE van Galen bertugas sebagai administrator pelaksana harian di lapangan.
Kebutuhan bahan baku gula yang tinggi mendorong manajemen memperluas lahan perkebunan tebu ke wilayah sekitarnya.
"Di bawah kepemimpinan administrator DE van Galen, pabrik gencar melakukan ekspansi lahan tebu. Salah satunya merambah hingga ke Distrik Balong dengan membayar sewa lahan sebesar 80 ribu gulden," kata Anton.
Namun, gaya kepemimpinan van Galen memicu gejolak sosial akibat tekanan eksploitasi kerja pada buruh.
"Pada 1913, para pekerja perkebunan melancarkan aksi demonstrasi di depan kantor kepatihan. Mereka menuntut penyesuaian gaji harian. Akibat tekanan massa tersebut, van Galen mundur pada Mei 1914 dan posisinya digantikan oleh Pijnacker Hordijk," papar Anton.
Kepemilikan Pabrik Gula Beran kemudian diakuisisi oleh perusahaan Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden yang berbasis di Semarang pada 1925.
Krisis ekonomi global Malaise lalu menghantam pada 1929.
Industri gula mengalami kemunduran bertahap hingga pabrik berhenti beroperasi sepenuhnya pada 1932.
Manajemen sempat mencoba memproduksi serat tekstil dari tanaman rosella pada 1934 setelah mendapat suntikan kredit dari Rotterdam.
Upaya alih fungsi lini produksi tersebut gagal total.
Karakter serat tanaman rosella terlalu kaku dan tidak memenuhi standar mutu komersial pasar. Kompleks fisik pabrik di Desa Tridadi ini kelak hancur total.
Kerusakan dahsyat dipicu rentetan peristiwa gempa bumi di wilayah selatan Jawa, aksi bumi hangus oleh militer Indonesia, serta dampak Agresi Militer Belanda II pada 1948.
Peristiwa sejarah tersebut hanya menyisakan reruntuhan fisik bangunan pabrik.
Transformasi Kawasan Menjadi Pusat Pemerintahan
Seiring berjalannya waktu, kawasan bekas pabrik gula tersebut kini telah bertransformasi total secara fisik maupun fungsi.
Bekas lahan industri kolonial ini berkembang pesat menjadi jantung tata ruang dan administrasi Kabupaten Sleman.
Berbagai pusat perkantoran instansi pemerintah kini berdiri kokoh di atas tapak sejarah tersebut. Perubahan fungsional ini secara bertahap berhasil mengubah kawasan produksi gula masa lalu menjadi pusat pelayanan publik yang modern dan terpadu.
Lahan inti bekas pabrik kini dimanfaatkan sebagai Kompleks Perkantoran Pemkab Sleman serta Lapangan Beran.
Lapangan Beran berfungsi sebagai ruang publik utama tempat berlangsungnya berbagai acara besar, termasuk FKY 2026.
Area yang pada abad lalu dipenuhi oleh aktivitas angkutan tebu dan mesin penggilingan kini menjelma menjadi area terbuka hijau.
Lokasi ini rutin digunakan untuk kegiatan seni, pameran budaya, serta upacara resmi pemerintahan daerah.
Beberapa fisik bangunan era kolonial yang tersisa masih dipertahankan dan dialihfungsikan secara adaptif. Bangunan eks rumah dinas pejabat pabrik sempat difungsikan sebagai Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Sleman.
Saat ini, gedung cagar budaya tersebut dipergunakan sebagai Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman.
Langkah alih fungsi adaptif ini menjadi wujud nyata dalam menjaga keberadaan warisan arsitektur masa lalu di tengah pergerakan modernisasi kawasan perkantoran.
Jejak infrastruktur pendukung industri gula juga mengalami penyesuaian fungsi secara signifikan.
Stasiun Beran didirikan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 1898 sebagai jalur transportasi logistik pengangkut gula. Bangunan stasiun bersejarah tersebut kini dimanfaatkan sebagai Kantor Koramil Sleman. (*)