Jatuhnya Muruah Pendidikan

Editor: Mustopa

27 Feb 2024 00:10

Headline

Thumbnail Jatuhnya Muruah Pendidikan
Oleh: Sahrul Muhamad*

Situasi pendidikan saat ini bisa dibilang cukup memprihatinkan, pendidikan yang tadinya menjadi pilar peradaban kian hari kian merosot kualitasnya. Fenomena ini bisa kita saksikan ketika suara kritikan dari akademisi sudah tidak dipandang lagi sebagai ungkapan yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, akan tetapi dituduh suruhan semata dan dianggap omongan biasa.

Pendidikan sejatinya menjadi unsur terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas, faktanya orang-orang yang bergelut di bidang ini tidak lagi dianggap sebagai orang yang mumpuni, bagaimana tidak ketika mereka (profesor, para pakar, ahli, peneliti) mengemukakan kritikannya kepada pemerintah malah dibilang partisan, atau menuduh orkestrasi politik kelempok tertentu, lebih mirisnya lagi timbul pertanyaan-pertanyaan di media sosial tentang akademisi, “Memangnya sudah berbuat apa untuk Indonesia?!”

Sangat disayangkan ketika menyadari realitas yang terjadi saat ini, kritik akademisi tentang permasalahan politik yang sudah jauh dari nilai-nilai demokrasi, terkesan hanya penggiringan opini. Hal ini tentu bisa menimbulkan matinya kepakaran, mundurnya rasa keadilan, dan munculnya alergi fakta, sebab ketika ada yang kritik, akan langsung dicap sebagai sayap kiri.

Kondisi semacam ini dapat mengancam masih pentingkah pendidikan di Indonesia? Apakah suara artis dan influencer lebih didengar daripada para guru besar yang membawa fakta dan data? Padahal seruan mereka (akademisi) muncul karena adanya kegelisahan dan kekhawatiran akan degradasi moral bangsa. Di luar apa yang menjadi isi kritikan, pasti kiranya para intelektual ini sudah menimbang apa yang akan disuarakan dan disampaikan kepada masyarakat. 

Baca Juga:
Film Layak Dicintai, Bukan Ditakuti oleh Mereka yang Terpaksa

Beda halnya dengan sebagian influencer, yang kurang kompeten dalam bidangnya dan seakan tahu persis apa yang terjadi, bicara tanpa riset, dampaknya muncul bias informasi. Namun, ironisnya masih banyak yang lebih percaya mereka dengan ribuan followers ketimbang mereka dengan ribuan karya dan sitasi ilmiah. Seruan akademisi terlihat murah dibanding mereka yang hanya mengandalkan dunia maya. 

Seruan ini seharusnya perlu dipandang sebagai bentuk pengaktualisasian Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian masyarakat dari para akademisi, kritik bukan karena dilandaskan adanya ketidaksukaan, tetapi keprihatinan terhadap nilai-nilai bernegara. Jika suara akademisi sudah tidak lagi bernilai, bukan tidak mungkin penyakit polarisasi fanatik buta bisa tumbuh di mana-mana.

Berbagai lontaran ejekan terhadap kaum saintis di media sosial tidak terelakkan lagi, mereka akan disebut berisik, ekstrem, bikin gaduh ketika memaparkan data. Logika sederhana dapat menangkap arti ini: ketika para akademisi tidak dipandang sebagai orang yang memiliki nilai-nilai pertimbangan yang kuat, maka fungsi pendidikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dapat turun kualitasnya. 

Hidup di era suara akademisi tidak lagi dirasa berisi, tapi suara selebriti selalu diikuti, mungkinkah akan sampai pada pendidikan tak lagi berarti?

Baca Juga:
Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

*) Sahrul Muhamad adalah Penulis dan Peneliti Bidang Pendidikan

 **) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id

****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Ada Kendala, Pemohon SIM di Satpas Prototype Polres Malang Dapat Makan Siang Gratis

Baca Selanjutnya

Jaga Stok Beras di Pasaran, Pj Wali Kota Mojokerto Himbau ASN Beli Beras di Bulog

Tags:

opini Jatuhnya Muruah Pendidikan Sahrul Muhamad

Berita lainnya oleh Mustopa

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

13 April 2026 21:26

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

11 April 2026 13:38

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

10 April 2026 22:10

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

10 April 2026 18:49

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

8 April 2026 00:00

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

7 April 2026 08:00

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar