KETIK, PEKALONGAN – Kemandirian ekonomi bangsa menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa.

Karena itu, pembangunan ekonomi berkelanjutan yang dimulai dari komunitas akar rumput seperti Pesantren yang tersebar di berbagai desa, perlu dikembangkan. 

Gagasan tersebut menjadi perhatian dalam Halaqoh Kebangsaan yang digelar Pengurus Besar Jamiyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah Ahlussunnah Waljamaah (PB JATMA Aswaja) dalam rangkaian Maulid Akbar Kanzus Sholawat 2026, di Pekalongan (19/9/2026). 

Menurut Sekretaris Jenderal PB JATMA Aswaja, Helmy Faishal Zaini, kemandirian ekonomi yang digaungkan oleh JATMA Aswaja sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto tentang pembangunan ekonomi dari desa.

Melalui halaqoh tersebut, JATMA Aswaja menegaskan dukungannya terhadap agenda pembangunan nasional yang menempatkan desa dan masyarakat akar rumput sebagai salah satu basis pertumbuhan ekonomi, pemerataan ekonomi, dan pemberantasan kemiskinan.

Baca Juga:
Panen Raya Petani Binaan, JATMA ASWAJA Perkuat Ketahanan Pangan dari Desa

“Dari 40 ribu lebih Pesantren yang ada di Indonesia, mayoritas lokasi Pesantren itu berada di desa-desa. Saya membayangkan jika Pesantren yang ada di desa-desa itu bergerak bersama pelaku industri, maka akan sangat dahsyat sekali ekosistem ekonomi mandiri bangsa Indonesia,” jelas Helmy.

Kehadiran Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, menjadi relevan dengan fokus Halaqoh Kebangsaan yang menempatkan penguatan masyarakat dan potensi desa sebagai bagian dari pembahasan kemandirian ekonomi.

Halaqoh Kebangsaan yang digelar Pengurus Besar Jamiyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah Ahlussunnah Waljamaah (PB JATMA Aswaja) dalam rangkaian Maulid Akbar Kanzus Sholawat 2026, di Pekalongan (19/9/2026). (Foto: JATMA)

Menurut Yandri, kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dunia usaha, dan masyarakat menjadi hal penting membantu menggeliatkan perekonomian bangsa dari desa. Sebab, menurutnya potensi desa tidak hanya dipandang sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi manusia, pengetahuan, teknologi, dan aktivitas ekonomi.

“Karena itu saya sangat mengapresiasi inisiatif dari JATMA Aswaja atas Halaqoh Kebangsaan yang mempertemukan banyak simpul talenta dari berbagai pihak dan pemangku kepentingan. Saya berharap halaqoh ini bisa jadi komitmen bersama untuk membangun perekonomian bangsa dari desa,” jelas Yandri.

Senada, Pemimpin & Pengasuh Pesantren Internasional Al Illiyyin Abuya Ahmad Yani Ilir,  memberikan pandangannya tentang potensi Pesantren yang memiliki jejaring sosial, sumber daya manusia, dan kedekatan dengan masyarakat.

“Industri memiliki teknologi, pengalaman, akses pasar, dan kapasitas pengembangan. Ketika keduanya dipertemukan dan diperkuat oleh kebijakan pemerintah, terbuka ruang kolaborasi yang lebih besar untuk menciptakan nilai ekonomi dari desa,” tambah Abuya Ahmad Yani.

Staf Khusus Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi & Kemenko Pangan, Oki Earlivan Sampurno, menjelaskan bagaimana Pesantren dan desa, punya potensi sebagai simpul pengembangan talenta sekaligus pusat tumbuhnya inovasi dan penggerak kemandirian ekonomi sebagai pilar kesatuan dan persatuan bangsa.

Sementara itu, Ketua Baznas Jawa Tengah, KH. Ahmad Darodji, dan Ahmad Fauzi Nur dari Masyarakat Ekonomi Syariah juga menyoroti tentang potensi zakat sebagai bagian tak terpisahkan dari kekuatan ekonomi umat. Menurutnya, potensi zakat di Indonesia bisa mencapai lebih dari Rp1.000 triliun. 

Bagi JATMA Aswaja, seluruh rangkaian pembahasan tersebut bermuara pada pentingnya membangun kemandirian dari desa. Pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan keagamaan, tetapi juga dapat menjadi simpul talenta, pengetahuan, pemberdayaan, dan konektivitas ekonomi masyarakat.

“Yang kita bangun adalah ekosistem. Ada pesantren, ada desa, ada talenta, ada industri, ada pemerintah, dan ada masyarakat. Kalau semua bergerak bersama, maka potensi yang besar ini bisa menjadi kekuatan ekonomi bangsa,” pungkas Helmy. (*)