KETIK, JOMBANG – Suara tak-tak-tak dari alat tenun bukan mesin memecah suasana tenang di Dusun Penggaron, Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang siang itu.
Bunyi itu datang silih berganti dari rumah produksi tenun milik Siti Khoirumah (41) di Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang.
Tangan-tangan pekerja bergerak lincah mengatur helaian benang. Sesekali memeriksa pola tenunan yang mulai membentuk motif khas sarung goyor. Di sudut ruangan, tumpukan pesanan sudah menanti untuk segera dikirim ke berbagai daerah.
Baca Juga:
Bupati Pemalang Komitmen Perluas Pasar Sarung Goyor Tembus Mancanegara
Menjelang musim haji 2026, aktivitas para perajin di kampung tenun ini kembali menggeliat. Pesanan datang untuk kebutuhan oleh-oleh hingga souvenir bagi calon jemaah haji. Meski tak seramai Ramadan dan Lebaran, permintaan tetap memberi harapan bagi para perajin agar roda usaha mereka terus berputar.
“Alhamdulillah, musim haji ini tetap ada peningkatan pesanan, terutama untuk souvenir. Memang tidak sebanyak Ramadan kemarin, tapi tetap ramai,” ujar Siti, Rabu, 6 Mei 2026.
Bagi Siti, menenun bukan sekadar pekerjaan. Keahlian itu diwariskan turun-temurun di keluarganya. Dari benang mentah hingga menjadi sarung siap pakai, seluruh proses membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Dalam seminggu, rumah produk tenun di Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang ini menghasilkan sekitar 15 potong sarung.
Harga jualnya mulai Rp250 ribu per lembar. Nilai itu sepadan dengan proses panjang yang harus dilalui.
Benang-benang yang telah diwarnai harus dijemur terlebih dahulu sebelum ditenun. Jika cuaca mendung atau hujan datang, proses produksi bisa terhambat.
“Kendala terbesar memang cuaca. Kalau hujan terus, proses pewarnaan dan pengeringan jadi lebih lama,” katanya.
Sarung goyor buatan warga Penggaron, Jombang memiliki keunikan tersendiri. Bahannya dikenal nyaman dipakai di berbagai kondisi cuaca.
“Kalau udara dingin terasa hangat, kalau panas justru terasa adem,” tutur Siti sambil tersenyum.
Selain sarung, para perajin juga membuat selendang, songket, hingga kain meteran. Kain dengan pewarna alami dijual lebih mahal, bisa mencapai lebih dari Rp200 ribu per meter, sedangkan kain sintetis dibanderol sekitar Rp100 ribu per meter.
Dari dusun kecil di Jombang itu, hasil tenun mereka telah menembus berbagai daerah seperti Kalimantan, Banyumas, hingga sejumlah pondok pesantren.
Di tengah gempuran produk tekstil pabrikan, para perajin di Dusun Pengaron tetap setia menjaga tradisi. Gemeretak alat tenun yang terus berbunyi menjadi penanda bahwa warisan budaya itu masih hidup, dirawat oleh tangan-tangan tekun yang menenun harapan dari selembar benang.