KETIK, MALANG – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan pentingnya menanamkan nilai religiusitas dan nasionalisme sejak usia dini sebagai bekal membentuk generasi penerus bangsa yang berakhlak, berilmu, serta memiliki kecintaan terhadap tanah air.
Menurutnya, peran orang tua dan guru menjadi bagian penting dalam membangun karakter anak agar siap menghadapi tanggung jawab kepemimpinan di masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri Gebyar Senam Santri Aswaja di Taman Rekreasi Sengkaling, Kabupaten Malang, pada Senin, 2 November 2026.
Kegiatan itu diikuti sekitar 6.000 peserta yang terdiri dari pelajar, guru, dan wali murid taman kanak-kanak (TK), raudhatul athfal (RA), serta kelompok bermain.
Baca Juga:
Wakili Indonesia, Siswa MTsN 1 Kota Malang Melaju ke Final ASMOPSS 16 ThailandKhofifah menjelaskan, religiusitas dan nasionalisme merupakan dua nilai yang saling melengkapi dalam membentuk karakter generasi muda.
Penanaman keduanya perlu dilakukan sejak anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi yang memiliki landasan moral sekaligus rasa tanggung jawab terhadap bangsa.
“Kalau kita mau menanamkan religiusitas dan nasionalisme harus sejak dini sehingga generasi yang dibentuk siap memimpin Indonesia,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga mengajak peserta mengenal kembali sejarah perjuangan para santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan kembali oleh tentara Sekutu bersama NICA.
Baca Juga:
8 Ketua Ikatan Alumni Kampus Ternama di Indonesia, Ada Khofifah, Amran Sulaiman hingga Cak UdinDia mengingatkan peran Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang menyerukan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perjuangan yang berpusat di Surabaya hingga peristiwa 10 November 1945, yang kemudian ditetapkan pemerintah sebagai tonggak peringatan Hari Pahlawan.
Khofifah menambahkan, rangkaian sejarah perjuangan tersebut juga menjadi latar belakang ditetapkannya Hari Santri setiap 22 Oktober melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 22 Tahun 2015. Menurutnya, nilai perjuangan para santri dan ulama perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari pembentukan karakter kebangsaan.
“Dari sejarah itu, religiusitas dan nasionalisme merupakan dua nilai yang saling berkaitan sehingga harus terus disalurkan kepada anak-anak,” katanya.
Selain penguatan karakter, Khofifah berharap seluruh pihak turut memberikan perhatian terhadap pengawasan pondok pesantren bersama Kementerian Agama.
Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan para santri mendapatkan hak secara maksimal, terutama dalam bidang pendidikan dan pemenuhan fasilitas belajar.
Dia menegaskan, santri memiliki kedudukan yang sama dengan masyarakat lainnya sebagai bagian penting dalam pembangunan bangsa.
Karena itu, diperlukan koordinasi lintas pihak untuk memberikan perlindungan terhadap proses pembinaan yang berlangsung di pondok pesantren di berbagai daerah di Indonesia.
“Ini membutuhkan satu koordinasi untuk memberikan perlindungan dari proses pembinaan yang dilakukan oleh pesantren di semua daerah di Indonesia,” tuturnya.(*)