KETIK, MALANG – Di tengah tren kuliner modern, mahasiswa S1 Pendidikan Biologi angkatan 2023, Departemen Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang (UM) menciptakan inovasi kreatif. Mereka memanfaatkan bahan makanan lokal ganyong yang diolah menjadi produk cookies bernama GANNY BITE. Kreasi dessert ini hadir sebagai upaya untuk mengangkat kembali potensi pangan lokal yang mulai terlupakan.
Inovasi tersebut tercetus dalam mata kuliah Pendidikan Biologi untuk Pembangunan Berkelanjutan yang diampu oleh Prof. Dr. Hadi Suwono, M.Si. dan Dr. Sueb, M.Kes., melalui proyek berbasis pembelajaran kontekstual.
Pada kelas ini, mahasiswa dituntut untuk memikirkan solusi nyata dalam mengatasi permasalahan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Berangkat dari tantangan tersebut, lima mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok 3 Offering C (Arni Tri Habsari, Dwi Ainun Najah, Luthfi Salsa Dewi, Muhammad Dul Firdaus, dan Nayla Salsabila Ramadhani) memutuskan untuk memilih ganyong sebagai bahan utama.
Ganyong dipilih karena umbi lokal yang kini mulai langka ini sebenarnya memiliki nilai gizi dan potensi ekonomi yang besar. Sayangnya, belum banyak masyarakat Indonesia yang menyadari potensi tersebut.
Muhammad Dul Firdaus, selaku ketua tim, mengungkapkan bahwa produk berbahan pangan lokal mampu bersaing dengan kuliner modern di pasar anak muda.
Baca Juga:
Cetak 36 Gol! Adelice Maureen Hanum Faisal Antar SDN Lowokwaru 3 Juarai MilkLife Soccer Challenge Malang 2025–2026“Melalui produk ini, kami ingin menunjukkan bahwa pangan lokal seperti ganyong dapat diolah menjadi produk modern yang menarik dan memiliki potensi pasar,” ungkapnya.
Berbeda dari olahan konvensional, GANNY BITE hadir dalam bentuk cookies yang lebih praktis, modern, dan memiliki cita rasa lezat yang sesuai dengan selera generasi muda. Inovasi ini menjadi langkah awal agar pangan lokal memiliki nilai jual tinggi dan membuka peluang usaha baru.
Dalam proses pengembangannya, tim mahasiswa tidak hanya berfokus pada produksi, melainkan juga melakukan observasi lapangan untuk mengetahui penyebab rendahnya pemanfaatan tanaman tersebut. Mereka melakukan wawancara langsung dengan petani ganyong, studi literatur, hingga pemetaan.
Hasil observasi menunjukkan bahwa budidaya ganyong menurun akibat kurangnya pengetahuan masyarakat terkait pengolahan produk pascapanen. Selama ini, masyarakat masih menganggap ganyong sebagai komoditas bernilai jual rendah. Temuan inilah yang menjadi dasar pengembangan GANNY BITE sebagai produk inovasi pangan lokal berkelanjutan.
Baca Juga:
MilkLife Soccer Challenge Malang Seri 2 2025-2026 Resmi Berakhir, Final Meriah di Stadion GajayanaUntuk menguji kualitas produk, tim melakukan uji organoleptik terhadap 46 responden. Hasilnya sangat memuaskan; mayoritas responden memberikan respons positif, terutama pada aspek rasa dan aroma cookies berbahan tepung ganyong tersebut.
“Kegiatan ini sangat membuka wawasan kami bahwa pembelajaran biologi tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga dapat dikaitkan langsung dengan persoalan pangan, ekonomi, dan keberlanjutan,” tutur Firdaus.
Sebagai bagian dari metode experiential learning, mahasiswa juga melakukan pengenalan produk, pemasaran, hingga komersialisasi sederhana kepada masyarakat.
Setelah melalui fase riset, mereka melanjutkan implementasi pembelajaran di SMAN 1 Kepanjen pada Senin, 18 Mei 2026. Di sana, produk ini dijadikan sebagai media pembelajaran kontekstual mengenai ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan. Melalui proyek ini, mahasiswa tidak hanya menciptakan inovasi berbasis sains, tetapi juga melatih kemampuan kolaborasi, komunikasi, pemecahan masalah, serta penguatan kompetensi keberlanjutan.
Hadirnya GANNY BITE turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
- SDG 2: Tanpa Kelaparan (Ketahanan Pangan)
- SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
- SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
Ke depannya, GANNY BITE akan terus dikembangkan, baik dari segi desain kemasan, strategi pemasaran, hingga pemanfaatannya sebagai media edukasi pangan lokal di sekolah-sekolah.(*)