KETIK, JAKARTA – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dilaporkan mulai menurun.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut tingkat erupsi pada 2026 lebih rendah dibandingkan erupsi yang terjadi pada 2018.
Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan perkembangan tersebut saat melaporkan kondisi Gunung Anak Krakatau kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas mengenai penanganan bencana alam dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 7 September 2026.
“Menurut kami BNPB per hari ini, untuk kondisi erupsinya ini sudah menurun. Kami membandingkan kondisi 2026 ini dengan erupsi 2018, di mana di 2018 itu terjadi sama, hampir sama, tetapi tingkat erupsinya lebih tinggi daripada 2026,” ujar Suharyanto.
Meski aktivitas erupsi menurun, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berdampak terhadap sejumlah wilayah.
Baca Juga:
Hadapi El Nino, Bansos Beras 30 Kg dari Pemerintah Dilanjut hingga DesemberBNPB mencatat abu vulkanik sempat tersebar ke empat provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Sumatra Selatan.
Sebaran abu tersebut juga mengganggu aktivitas penerbangan. Sebanyak delapan bandara sempat terdampak penutupan akibat abu vulkanik.
Namun, hingga laporan disampaikan, tidak terdapat korban jiwa maupun kerusakan akibat erupsi, serta belum ada daerah yang menetapkan status kedaruratan.
Untuk mengurangi dampak abu vulkanik, BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Baca Juga:
Karhutla Diduga Disengaja, Prabowo Minta Keterlibatan 26 Korporasi DiusutOperasi tersebut ditujukan untuk memicu hujan sehingga abu vulkanik dapat lebih cepat luruh dari atmosfer.
OMC disiapkan dari sejumlah titik, antara lain Pondok Cabe dan Kertajati, dengan Semarang sebagai lokasi alternatif apabila kondisi penerbangan di sekitar Selat Sunda belum memungkinkan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pola angin juga menunjukkan perkembangan positif. Arah angin pada berbagai lapisan ketinggian telah bergeser ke barat, barat laut, dan barat daya sehingga tidak lagi dominan mengarah ke tenggara seperti sebelumnya.
BMKG juga memprakirakan potensi awan dan hujan ringan hingga sedang di wilayah terdampak pada 9 hingga 12 September 2026.
Potensi hujan tersebut akan diperkuat melalui OMC bersama BNPB.
“Kami sudah memantau bahwa kira-kira di tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini akan ada potensi awan dan juga hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, khususnya di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Untuk itu nanti akan kami pertebal dengan OMC bersama dengan BNPB,” ujar Teuku Faisal.
Di sisi lain, pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap potensi tsunami di sekitar Selat Sunda.
Sebanyak 20 perangkat pemantauan tsunami telah dipasang dan hingga saat ini belum ditemukan anomali kenaikan muka air laut yang berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Pemantauan juga diperkuat dengan sensor seismograf dan high frequency radar untuk mendeteksi perubahan kondisi laut secara cepat.
Pemerintah memastikan pemantauan Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif, termasuk terhadap dampak abu vulkanik pada penerbangan dan pelayaran serta potensi tsunami.
Aktivitas pelayaran juga dibatasi dalam radius tiga kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau selama status gunung berada pada Level III atau Siaga.(*)