KETIK, SURABAYA – Gerakan perbaikan tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menguat. Pascamenggelar Pawai Akbar yang diikuti relawan, pemasok bahan pangan, petani hingga mitra pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Jawa Timur yang kemarin, Rabu, 8 Juli 2026 turun ke jalan di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya.
Protes yang mereka lakukan kemarin bukan bentuk penolakan, melainkan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Koordinator Lapangan (Korlap), Reza Pahlevi menyayangkan narasi yang membingkai MBG dari sisi negatif.
"Padahal dampak ekonomi mikronya sangat luar biasa bagi petani, UMKM dan pekerja lokal," katanya. Kendati demikian, ia meminta presiden terus mengawasi dan menindak tegas apabila ditemukan segala bentuk dugaan korupsi anggaran.
"Anggaran harus difokuskan langsung ke dapur untuk belanja bahan baku dan operasional, bukan untuk pengadaan yang tidak mendesak," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti pemangkasan anggaran MBG 2027 yang dikabarkan mencapai Rp174 triliun. Ia berharap, pemangkasan anggaran ini tepat sasaran, yaitu menyasar belanja seremonial saja bukan memotong pos anggaran krusial seperti biaya distribusi.
Baca Juga:
Catatan Semester I/2026! KA Airlangga Terfavorit, KA Jayakarta Pelanggan TertinggiMasalah saat ini, kata dia, sekaligus menjadi salah satu poin krusial minimnya komunikasi dua arah antara Badan Gizi Nasional (BGN) dengan mitra pengelola dapur.
Sekarang banyak mitra dapur lokal yang ketar-ketir lantaran telah menanamkan investasi besar. Bahkan ada yang mengajukan pinjaman ke perbankan demi membangun SPPG.
Di sisi lain, para petani juga mulai merasakan dampak tata kelola MBG. Saat ini stok sayur menjadi banyak, namun pemasukan belum seberapa. Maka dari itu sebagai bentuk sindiran, pada aksi kemarin sejumlah petani membagikan sayur-sayuran ke pengendara jalan.
Sementara itu Koordinator Komunitas Petani Malang Raya, Solehuddin mengatakan sudah hampir satu tahun petani mengubah pola tanam untuk menyuplai kebutuhan MBG.
Baca Juga:
Komitmen Dukung Kampung Iklim Nasional, SIER Salurkan Dropbox dan Komposter untuk 12 RW di Kota PahlawanIa mengungkapkan, dengan adanya MBG hasil panen pasti dibeli. Kondisi itu berbeda dari sebelumnya, harga sayur hasil panen tidak stabil. Namun dengan kondisi sekarang, membuat petani kembali susah.
"Sekarang pengiriman berhenti, harga di pasar mulai naik-turun. Petani bingung menyalurkan stok sayur yang melimpah," jelasnya.
Mudrikah, relawan SPPG di Surabaya juga mengungkapkan hal yang sama. Ia hampir sebulan belum kembali bekerja di dapur SPBG. Sebagai ibu rumah tangga, ia mengaku terbantu dengan adanya SPPG. "Bisa membantu ekonomi keluarga. Anak-anak bisa makan lauk dari gaji di dapur SPBG," tuturnya. (*)