KETIK, MALANG – Aksi heroik dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo tepatnya di daerah Mentigen, Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo menyisakan duka yang teramat dalam. Jumlah korban jiwa dari unsur petugas dan relawan yang terlibat di garis depan kembali bertambah. 

Setelah sempat berjuang melewati kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit, Suraji yang berprofesi sebagai sekuriti tempat penginapan Artotel meninggal dunia pada hari ini. Kabar duka tersebut disampaikan langsung oleh Pranata Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Endrip Wahyutama. 

"Iya, korban atas nama Suraji meninggal pada hari ini. Almarhum meninggal dalam perawatan di RSUD Dr Soetomo sekitar pukul 12.00 WIB," jelasnya kepada Ketik.com, Jumat, 23 Oktober 2026. 

Dirimya mengungkapkan, bahwa korban berasal dari Kabupaten Probolinggo. Diketahui setelah kritis saat melakukan pemadaman kebakaran, ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Tongas sebelum kemudian dirujuk ke Surabaya.

"Almarhum asalnya dari Desa Lumbang Kecamatan Lumbang Kabupaten Probolinggo. Ia mengalami luka bakar pada bagian tubuhnya dengan kondisi lebih dari 50 persen," ungkapnya. 

Baca Juga:
Polisi Turun Tangan! Selidiki Titik Awal Api Penyebab Kebakaran TPA Supit Urang Kota Malang

Wafatnya Suraji menambah daftar panjang duka dalam tragedi karhutla di kawasan Gunung Bromo tersebut. Sebelumnya, para korban yang meninggal adalah Sukaris (55) selaku operator layanan operasional pada seksi PTN Wilayah I BB TNBTS, Wisnu Yuda (25) dan Sefriel (19) selaku sekuriti tempat penginapan Artotel, Hendra Rony selaku petugas Balai Besar TNBTS dan anggota Manggala Agni Pemula, serta Munawi yang merupakan sukarelawan dari Masyarakat Mitra Polhut (MMP).

"Kami dari keluarga besar Balai Besar TNBTS, menyampaikan duka cita yang sangat mendalam. Semoga almarhum mendapat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," pungkasnya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha dalam keterangan resminya menerangkan, rangkaian kejadian bermula pada Selasa,13 Oktober 2026. Sekitar pukul 14.23 WIB, petugas menerima laporan dari Kepala Desa Ngadas mengenai kebakaran ladang milik warga di sekitar Blok Pusung Dawa, berbatasan dengan kawasan TNBTS di Grid A83, wilayah Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo.

Petugas TNBTS kemudian bergerak ke lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk meminta bantuan personel. Sejumlah warga bersama perangkat desa, termasuk Kepala Desa Ngadirejo, turut membantu pemadaman. 

Baca Juga:
Ratusan Personel Gabungan Diterjunkan untuk Padamkan Kebakaran Gunung Bromo

Karena lokasi jauh dari sumber air dan sulit dijangkau mesin penyemprot, petugas dan warga memadamkan api secara manual menggunakan alat gebyok. Dalam perkembangannya, api merambat masuk ke kawasan taman nasional hingga mencapai medan terjal yang sulit dijangkau.

Upaya pemadaman akhirnya berhasil pada Rabu, 14 Oktober 2026 pukul 11.45 WIB. Petugas melanjutkan pemantauan hingga malam hari dan memastikan tidak ada lagi api maupun asap di lokasi.

Namun ternyata, kondisi kembali berubah pada Kamis, 15 Oktober pagi. Sekitar pukul 09.20 WIB, petugas di Posko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Cemoro Lawang melihat kepulan asap tebal dari lokasi kebakaran pada sehari sebelumnya

Tim gabungan kemudian dibagi menjadi dua regu untuk menyekat penjalaran api dari sisi kiri dan kanan, terutama agar tidak meluas ke kawasan Mentigen, Kabupaten Probolinggo.

Sebagai informasi, lokasi kebakaran berada cukup dekat dengan tempat penginapan Artotel. Sebanyak tiga orang yang bertugas sebagai sekuriti berupaya membantu memadamkan, dimana salah satunya pernah mendapat pelatihan pemadaman. 

Namun memasuki pukul 13.00 WIB, situasi berubah ketika terjadi angin kencang dan membuat enam personel terjebak di tengah kobaran api. Sedangkan, lima personel lainnya berhasil menyelamatkan diri karena berada di sisi yang berlawanan dengan arah penjalaran api. 

Usai kobaran mereda, tim melakukan pencarian terhadap personel yang terjebak. Sekitar pukul 13.30 WIB, tiga orang ditemukan meninggal dunia di lokasi yakni Sukaris, Wisnu Yuda, dan Sefriel dan pada hari yang sama di sore hari, Hendra Rony Wagiyanata dinyatakan turut gugur.