KETIK, TRENGGALEK – DPRD Kabupaten Trenggalek memastikan anggaran hingga sekitar Rp6 miliar disiapkan untuk mengantisipasi ancaman krisis air bersih akibat kemarau panjang fenomena El Nino yang melanda sejumlah wilayah.
Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, Doding Rahmadi, mengatakan Badan Anggaran (Banggar) bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) telah menyepakati penambahan anggaran untuk kebutuhan air bersih dan tandon melalui APBD Perubahan 2026.
Langkah tersebut disiapkan untuk memastikan masyarakat di wilayah terdampak kekeringan tetap mendapatkan pasokan air bersih.
Hal itu disampaikan Doding kepada jurnalis Ketik.com di ruang kerjanya, Kamis, 24 September 2026.
"Dari data yang terhimpun ternyata anggaran di BPBD masih ada. Kalau toh habis bisa menggunakan anggaran BTT yang masih tersedia sekitar Rp5-6 miliar," tegas Doding.
Baca Juga:
Trenggalek Siapkan Strategi Ketahanan Pangan dan Gizi Berbasis Sumber LokalMenurutnya, anggaran yang tersedia di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan digunakan terlebih dahulu untuk mendukung penanganan kebutuhan air bersih.
Apabila anggaran tersebut tidak mencukupi, pemerintah daerah dapat menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT).
Doding mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan langkah taktis berupa distribusi air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan.
Ia menilai distribusi harus dilakukan secara tepat sasaran agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara merata.
Baca Juga:
Gandeng BUMD dan RS, Forum Sampang Sehat Pasok Air Bersih di 5 Kecamatan"Paling tidak wilayah-wilayah terdampak bisa mendapatkan pasokan air bersih," ujarnya.
Ia menyebut cakupan wilayah yang membutuhkan air bersih kini semakin meluas. Bahkan, kekeringan mulai menyasar sejumlah wilayah yang berada di daerah datar.
Karena itu, Doding mendorong BPBD terus bergerak melakukan penanganan di lapangan. Upaya tersebut juga mendapat dukungan dari relawan dan organisasi masyarakat yang ikut membantu distribusi air kepada warga.
"Kita terus mensupport Pemkab melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk terus bergerak. Sekarang juga banyak relawan dan organisasi-organisasi masyarakat ikut terjun ke lapangan," ungkapnya.
Doding menjelaskan pasokan air yang didistribusikan kepada masyarakat berasal dari PDAM dan sumur-sumur yang memiliki kualitas air baik. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan konsumsi, mandi, dan kebutuhan lainnya.
Selain penanganan saat kekeringan, ia menyebut langkah antisipasi jangka panjang juga dilakukan melalui pembangunan sumur dalam serta perlindungan sumber mata air.
"Kan sudah jelas dengan visi misi net zero carbon yang bertujuan untuk melindungi sumber-sumber air," tandasnya.
Doding berharap musim penghujan mulai tiba pada Desember 2026. Namun, pihaknya tetap menyiapkan anggaran sebagai langkah antisipasi apabila musim hujan belum datang sesuai perkiraan.
"Kita akan tetap fokus pada wilayah-wilayah yang sangat terdampak bersama beberapa elemen masyarakat yang ada di Trenggalek," ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tetap tenang menghadapi ancaman krisis air bersih. Menurutnya, legislatif dan eksekutif akan terus mendukung upaya pemenuhan kebutuhan air masyarakat.
"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman yang sudah membantu pendistribusian air kepada masyarakat. Sekaligus bisa bersinergi bersama Pemkab," pungkasnya.(*)