Dosen Antropologi Jelaskan Pemahaman Multikultural, Menikmati Perbedaan untuk Atasi Rasisme

Jurnalis: Lutfia Indah
Editor: Marno

15 Jul 2023 09:35

Thumbnail Dosen Antropologi Jelaskan Pemahaman Multikultural, Menikmati Perbedaan untuk Atasi Rasisme
Dr. Hipolitus Kristoforus Kewuel selaku Ketua Departemen Seni dan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) (foto: Dr. Hipolitus)

KETIK, MALANG – Dalam upaya menyudahi rasisme, Antropologi menawarkan pemahaman multikultural yang dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Keilmuan ini menjelaskan bahwa realita di masyarakat tidaklah tunggal. Masyarakat harus memahami bahwa terdapat individu selain dirinya sendiri yang memiliki kesadaran yang berbeda.

"Realita itu serba multi, tidak ada realita yang tunggal, dan masyarakat perlu tahu itu. Tak hanya dalam konteks kedaerahan, antar individu pun ada persoalan multikultur," jelas Dr. Hipolitus Kristoforus Kewuel selaku Ketua Departemen Seni dan Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (15/7/2023).

Masyarakat sebenarnya telah dihadapkan dengan pembelajaran multikultur dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut harus menjadi peluang untuk menyadari bahwa tidak ada satu individu pun yang seragam. Tidak hanya dalam konteks kedaerahan, antar individu pun memiliki persoalan multikultur.

"Pembelajaran di masyarakat adalah pembelajaran tanpa guru, tanpa kelas. Masyarakat umum belajar dalam kehidupan sehari-hari bahwa tidak ada yang seragam. Pembelajaran itu perlu terjadi dengan adanya perjumpaan dengan yang lain. Kalau kita menolak berarti tidak ada ruang pembelajaran," lanjutnya.

Baca Juga:
Usai Visum, Jenazah Yai Mim Dimakamkan di Blitar

Melalui pembelajaran multikultur, masyarakat harus bersedia terbuka dengan seseorang yang berbeda dengan dirinya. Perjumpaan dua atau lebih individu yang berbeda, dan siap menerima perbedaan tersebut akan membentuk sebuah harmoni dalam kehidupan.

"Titik temunya adalah kita berjumpa dan kita menerima bahwa kita berbeda dengan mereka. Kita siap menerima, kita siap berdiskusi, dan kita siap menerima bahwa mereka seperti itu. Harmoni itu tidak berarti harus sama, harus berbeda, tetapi tetap dinikmati perbedaan itu," tegasnya.

Kendati demikian, Dr. Hipo mengakui beberapa orang bisa saja enggan berbaur. Terlebih jika seseorang atau kelompok tertentu telah mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. Justru hal tersebutlah yang menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Foto Ilustrasi multikulturalisme (foto: freepik)Ilustrasi multikulturalisme (foto: freepik)

Baca Juga:
DPRD Kota Malang Soroti Krisis Guru dan Ribuan Anak Tidak Sekolah di LKPJ Wali Kota

"Dalam konteks pembelajaran, kita harus menembus batas-batas itu. Antropologi itu ilmu yang ingin mengajak orang untuk tahu tentang yang lain, tahu tentang sesuatu yang dianggap aneh dan tidak lazim. Persoalannya, orang itu mau atau tidak," katanya.

Dosen Antropologi tersebut beranggapan bahwa realita kehidupan di masyarakat telah menghadapkan mereka pada pembelajaran multikultural. Bahwa untuk menjadi dewasa, masyarakat perlu terbiasa dalam perjumpaan dan menembus batas-batas perbedaan. 

"Pembelajaran bisa terjadi karena adanya perjumpaan dengan yang lain. Rasisme yang akut adalah rasisme yang lahir dari kondisi semacam ini. Ketika kita tertutup dan menolak berjumpa dengan kelompok yang berbeda dengan kita," lanjutnya. (*)

Baca Sebelumnya

Masyarakat Dukung Rencana Revitalisasi Pasar Tlogo Blitar

Baca Selanjutnya

Resmi! Luis Milla Tinggalkan Persib Bandung karena Masalah Personal

Tags:

Multikulturalisme menghargai perbedaan Antropologi Universitas Brawijaya Kota Malang Rasisme

Berita lainnya oleh Lutfia Indah

DPRD Kota Malang Soroti Krisis Guru dan Ribuan Anak Tidak Sekolah di LKPJ Wali Kota

13 April 2026 19:05

DPRD Kota Malang Soroti Krisis Guru dan Ribuan Anak Tidak Sekolah di LKPJ Wali Kota

Tembok Pasar Besar Retak, Wali Kota Malang Instruksikan Perbaikan Sementara

13 April 2026 17:45

Tembok Pasar Besar Retak, Wali Kota Malang Instruksikan Perbaikan Sementara

Wakil Wali Kota Malang Ajak Pemuda Pancasila Kawal Pembangunan, Tekankan Persatuan Jadi Kunci

13 April 2026 17:43

Wakil Wali Kota Malang Ajak Pemuda Pancasila Kawal Pembangunan, Tekankan Persatuan Jadi Kunci

Waspada Bahaya Ambruk, Area Timur Pasar Besar Malang Disterilkan dari Aktivitas

13 April 2026 17:14

Waspada Bahaya Ambruk, Area Timur Pasar Besar Malang Disterilkan dari Aktivitas

Sapa Penggemar di Matos, Pemeran Film 'Ku Pilih Jalur Langit' Ceritakan Tantangan Syuting di Malang

12 April 2026 19:13

Sapa Penggemar di Matos, Pemeran Film 'Ku Pilih Jalur Langit' Ceritakan Tantangan Syuting di Malang

Komitmen Bangun Kembali Gaza, LMI dan LAZ Yasa Targetkan Galang Donasi Rp1 Miliar di Malang

12 April 2026 18:25

Komitmen Bangun Kembali Gaza, LMI dan LAZ Yasa Targetkan Galang Donasi Rp1 Miliar di Malang

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar