KETIK, TULUNGAGUNG – Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung terus bergerak mendorong peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan para petani cabai dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem.
Langkah konkret ini diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam acara Edukasi, Temu Lapang, dan Ekspo Pertanian yang diselenggarakan oleh PT Syngenta Indonesia di Desa Bukur, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, pada Rabu, 30 September 2026 pagi.
Kegiatan edukatif ini disambut antusias oleh ratusan petani cabai potensial yang datang dari berbagai pelosok wilayah Kabupaten Tulungagung hingga Kabupaten Blitar. Turut hadir dalam forum tersebut jajaran Forkopimcam Sumbergempol, aparat kepolisian, jajaran penyuluh, serta tokoh masyarakat setempat.
Sinergi Kunci Swasembada Pangan
Dalam sambutannya, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung, Junaedi, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif Syngenta Indonesia yang konsisten memfasilitasi forum edukasi lapangan bagi para petani.
Baca Juga:
Syngenta Gelar Ekspo Simodis, Edukasi Petani Cabe Hadapi Ancaman HamaMenurutnya, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, kelompok tani, dan produsen teknologi pertanian swasta merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas komoditas hortikultura strategis seperti cabai.
"Budidaya cabai membutuhkan perawatan yang sangat intensif. Melalui forum temu lapang ini, para petani tidak hanya melihat langsung bukti pertanaman di lapangan, tetapi juga bisa saling berdiskusi dan berkonsultasi mengenai solusi atas kendala yang dihadapi di lahan masing-masing," ujar Junaedi di hadapan ratusan peserta.
Ia juga mengimbau para petani untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lonjakan serangan hama seiring tingginya suhu udara dan fenomena iklim yang tidak menentu. Hama utama seperti thrips, tungau (mites), hingga kutu kebul harus diantisipasi secara tepat dan terukur agar tidak menggerus produktivitas panen.
Disamping edukasi teknis, Junaedi turut mengingatkan pentingnya ketertiban administrasi alokasi pupuk bersubsidi. Para petani diminta memastikan diri terdaftar dalam kelompok tani dan melengkapi data e-RDKK sebelum penutupan sistem pada akhir Oktober mendatang.
Baca Juga:
Genjot Ekonomi Warga, Pemkab Tulungagung Pastikan Jembatan Junjung Siap Beroperasi Lebih AwalMenjawab tantangan tersebut, Manager Syngenta Indonesia, Khoirul Abidin, menegaskan komitmen perusahaannya untuk selalu hadir mendampingi petani melalui inovasi teknologi perlindungan tanaman yang teruji.
Di lokasi demo plot Desa Bukur, Syngenta memamerkan ketahanan tanaman cabai yang tetap tumbuh subur dan hijau meski di tengah terik cuaca ekstrem.
Performa impresif ini tak lepas dari penerapan teknologi insektisida terbaru Simodis yang efektif mengendalikan hama thrips, dipadukan dengan fungisida Miravis Duo serta asupan nutrisi tanaman seperti biostimulan Quantis dan asam amino Synergymat/Krinomat.
"Melalui semangat 'Petani Maju' (Maximize Productivity), kami ingin memastikan para petani tidak sekadar menanam, tetapi juga memperoleh profitabilitas yang maksimal." ucap Bapak Manager Syngenta Indonesia.
"Kami berharap stabilitas harga cabai di pasaran terus terjaga sehingga petani bisa menikmati sisa hasil usaha yang cukup untuk menyejahterakan keluarga sekaligus menjadi modal di musim tanam berikutnya," jelas Khoirul Abidin.
Sementara itu, Kepala Desa Bukur, Juni, menyambut hangat terpilihnya Desa Bukur sebagai pusat pelaksanaan ekspo pertanian ini. Beliau memaparkan gambaran desanya yang memiliki luas sekitar 154 hektar. Meski wilayahnya relatif padat dan mayoritas warga bertani di lahan penggarap, semangat bertani masyarakatnya sangat tinggi.
Juni juga menyampaikan tantangan geografis yang dihadapi warga lokal, seperti keterbatasan pasokan air saat musim kemarau serta risiko genangan air kiriman saat musim penghujan.
"Kami sangat bersyukur dan berharap kerja sama serta edukasi dari Syngenta Indonesia ini dapat menjadi jalan keluar bagi kendala pertanian di desa kami,' ujar Juni.
"Semoga hadirnya teknologi ini membawa keberkahan, melipatgandakan hasil panen, dan membawa kesejahteraan nyata bagi seluruh petani di Desa Bukur dan sekitarnya," harapan Kades Bukur tersebut.
Melalui sinergi antara edukasi pemerintah, inovasi industri, dan ketangguhan para petani, momentum ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian petani lokal sekaligus menjaga stabilitas pasokan cabai nasional di tengah tantangan perubahan iklim. (*)